Posts Tagged 'uang'

Kelaparan (2)

Postingan ini merupakan kelanjutan dari tulisan yang ini.

Selama beberapa menit, kami semua diam. Mungkin sama-sama canggung. Kemudian si bapak bertanya dengan agak rikuh, “Bagaimana Dek, bisakah adek membantu saya? Saya butuh uang untuk ongkos pulang.”

“Mohon maaf, Pak,” saya menjawab dengan nada yang sopan. “Kebetulan saya dan teman saya lagi nggak punya uang.”

Tak disangka, raut wajah si bapak mendadak mengeras. Ia tidak lagi memelas. Tanpa berbicara apa-apa, ia pergi begitu saja, membawa bungkusan makanan yang sama sekali belum ia santap.

Saya hanya bisa mengelus dada. Seharusnya tadi saya meninggalkannya saja. Mestinya saya tidak perlu bersusah payah membelikannya makanan.

Tapi masalahnya, saya tidak bisa menolak orang yang sedang kelaparan.

Sebab saya tahu bagaimana rasanya kelaparan.

Saya paham rasanya tidak bisa membeli makanan karena tidak punya uang. Continue reading ‘Kelaparan (2)’

Kelaparan (1)

Dari kejauhan, seorang bapak kurus berpakaian lusuh berjalan ke arah saya. Malam itu saya dan seorang kawan sedang nongkrong di seputaran bundaran UGM. Kami berbincang-bincang dengan asyik sambil menyaksikan gadis-gadis manis berseliweran. Ketika itu kami berdua masih mahasiswa semester awal.

Si bapak kurus menyalami kami, lalu memperkenalkan diri. Katanya dia mau pulang ke Gunung Kidul (atau mungkin Wonosari, saya lupa), tapi kehabisan ongkos. Ia mengaku sudah berjalan kaki berpuluh-puluh kilometer, lalu kelelahan. Padahal, rumahnya masih jauh.

“Tolong bantu saya, Dek,” ujar si bapak kurus dengan wajah memelas. “Saya butuh uang untuk ongkos pulang. Saya kelaparan dan kehausan, dari pagi belum makan. Perut saya melilit.”

Saya tertegun. Saya tidak yakin ia kehabisan uang untuk ongkos pulang. Di mata saya, alasan itu terlalu mengada-ngada. Terlebih beberapa hari sebelumnya, teman saya Syarif juga mengalami kejadian serupa. Continue reading ‘Kelaparan (1)’

Arisan

Arisan biasanya diadakan oleh orang-orang yang tergabung dalam kelompok status tertentu, namun jarang bertemu. Misalnya adalah arisan keluarga, arisan teman SMA, arisan teman kuliah, dan sebagainya.

Pada dasarnya, tujuan dari diadakannya arisan adalah sebagai ajang silaturahmi. Tapi sepertinya arisan yang diadakan oleh teman-teman kantor saya agak berbeda. Sebab, tanpa arisan pun sebenarnya kami sudah hampir setiap hari bersilaturahmi, mengingat kami bekerja di bangunan yang sama, hehe….

Hmmm…. arisan di kantor saya rasanya lebih tepat disebut sebagai ajang untuk menabung.

Tiap awal bulan, kami menyetor uang sejumlah tertentu ke bendahara, dan kemudian mengundi nama. Uang arisan akan langsung diberikan kepada teman yang namanya keluar dalam undian. Continue reading ‘Arisan’

10 Cara Sederhana Menghemat Uang

Baik bagi Anda yang sedang berjuang melunasi tagihan-tagihan bulanan, atau Anda yang tidak punya utang sama sekali, berikut 10 cara sederhana untuk menghemat uang, yang tentunya dapat berguna bagi Anda di kemudian hari.

1. Putuskan Hubungan dengan TV Anda

Jika Anda berlangganan TV kabel atau satelit, sudah saatnya mengevaluasi ulang abonemen Anda. Mungkin Anda dapat memotong paket-paketnya dan pada akhirnya mengurangi biaya berlangganan Anda, atau Anda dapat memutuskan abonemen dan menonton acara favorit Anda secara online. Anda bahkan dapat mengambil kesempatan ini untuk menghabiskan waktu jauh dari televisi. Brilian!

2. Lacak pembelanjaan Anda

Sebelum Anda mulai berhemat, Anda perlu tahu apa dan berapa banyak belanjaan Anda. Gunakan perangkat online yang gratis untuk melacak pembelanjaan Anda. Dengan memiliki anggaran, Anda dapat mengetahui berapa banyak uang yang Anda belanjakan setiap bulannya dan kemudian menentukan berapa banyak yang harus Anda hemat dan di mana Anda harus memotong anggaran. Continue reading ’10 Cara Sederhana Menghemat Uang’

Dompet

Seperti kebanyakan orang dewasa lainnya, saya pun memiliki dompet. Warnanya hitam dan modelnya gaul khas anak muda. Saya membelinya sekitar awal tahun 2007. Itu berarti usianya sudah hampir 7 tahun −semenjak saya pakai.

Dompet ini punya sejarah yang unik. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam tas, bukan di kantong celana saya. Ya, saya jarang sekali membawa dompet di kantong. Bahkan, saya sangat jarang menaruh uang di dompet. Continue reading ‘Dompet’

Penjaja Tahu Sumedang

Kadang-kadang saya merasa betapa sulitnya mencari uang demi memenuhi kebutuhan dan keinginan. Mau beli ini-itu nggak kesampaian. Iri melihat kaum kelas menengah atas yang bisa menikmati nyamannya udara sejuk di dalam mobil di tengah cuaca yang panas. Tapi, sesungguhnya saya nggak pantas untuk mengeluh….

Beberapa hari yang lalu saat sedang berada di seputaran masjid UGM, saya duduk di sebelah seorang penjual tahu Sumedang. Ia tampak sedang memijat-mijat kakinya. Saya pun mencoba membuka obrolan dengannya. Ternyata ia cukup ramah dan terbuka.

Katanya ia merasa pegal-pegal, sebab habis berjalan jauh menjajakan tahu Sumedang dagangannya. Saya lihat ke keranjang yang ia bawa, tahu Sumedangnya masih banyak alias belum pada laku. Padahal, saat itu sudah lewat tengah hari. Continue reading ‘Penjaja Tahu Sumedang’

Perihal Utang

Pernahkah teman-teman didatangi oleh salah seorang sahabat yang hendak meminjam uang? Saat itu tampangnya begitu memelas, memohon kepada kita untuk dipinjami uang. Bahkan dia sampai menangis karena kondisinya betul-betul kepepet.

Karena tidak tega dan dia adalah sahabat lama yang kita percaya, kita pun berusaha menolongnya, yakni dengan meminjamkan uang simpanan terakhir. Rencananya uang tersebut akan kita gunakan untuk keadaan darurat. Tapi, kita tidak khawatir karena sahabat itu berjanji untuk mengembalikannya bulan depan. Continue reading ‘Perihal Utang’


Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,793 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter