Posts Tagged 'sales'

Oknum Sales Door to Door

Beberapa hari yang lalu, Bude saya cerita bahwa daerah di sekitar tempat tinggalnya mulai nggak aman. Ada beberapa kasus pencurian yang terjadi di daerah tersebut. Salah satu kasus pencurian itu dilakukan oleh oknum sales door to door yang berpura-pura menjual produk-produk tertentu.

Bude saya cerita bahwa modus yang sering terjadi adalah berikut ini. Beberapa sales door to door (satu tim) berkunjung ke rumah warga untuk menawarkan produk berupa parfum. Mereka biasanya beroperasi pada pagi menjelang siang hari, di mana banyak rumah yang sepi dan hanya ditinggal oleh sedikit orang, karena anggota keluarga yang lain telah keluar rumah untuk menjalankan aktivitas masing-masing.

Tim sales tersebut dengan gigih berusaha supaya dipersilakan masuk ke dalam rumah oleh sang tuan rumah. Ternyata mereka punya cara yang ampuh, sebab sang tuan rumah seolah-olah sulit untuk menolak upaya sales tersebut. Continue reading ‘Oknum Sales Door to Door’

Penjual

Dalam sebuah kesempatan di tengah tugas kantor beberapa bulan lalu, saya bertemu dengan salah seorang relasi yang berhasil meraih kesuksesan secara finansial dalam waktu yang terbilang cepat. Padahal, latar belakang pendidikannya tidak terlalu tinggi.

Bermula dari orang susah yang tidak punya apa-apa, dalam jangka waktu dua tahun ia telah menjelma menjadi sosok yang lumayan kaya, tinggal di rumah yang cukup mewah, dan mengendarai mobil pulang pergi kerja. Ketika teman-temannya yang tingkat pendidikannya setara dengan dia “cukup” bekerja menjadi pelayan toko dengan penghasilan pas-pasan, dia bekerja sebagai supervisor penjualan yang membawahi beberapa orang. Ya, dia adalah seorang penjual.

Rasanya jarang sekali ada profesi yang bisa dimasuki oleh seseorang yang hanya memiliki latar belakang pendidikan pas-pasan, namun bisa mendatangkan penghasilan yang cukup lumayan. Salah satu dari yang sedikit itu adalah profesi penjual, kadang disebut dengan sales. Meski demikian, profesi ini tampaknya cenderung dihindari. Banyak yang lebih memilih menjadi pelayan atau penjaga toko ketimbang menjadi penjual. Bahkan mungkin ada yang lebih parah, lebih memilih menganggur dan menggantungkan hidup kepada orang lain daripada mengisi lowongan penjual yang banyak tersedia di surat kabar. Continue reading ‘Penjual’

Hari Ketiga

Saat itu hari rabu, tanggal 14 April 2010. Kami sarapan dengan menyantap bubur kacang ijo yang sudah disajikan oleh mbak pembantu di meja makan. Agenda saya dan teman-teman di hari itu adalah bertemu dengan beberapa relasi untuk konsultasi tentang masalah-masalah pekerjaan yang kami hadapi selama ini. Seperti biasa, pagi harinya kami ikut briefing para sales dulu. Lagi-lagi ngeliat mereka ditekan oleh supervisor. Tapi bagi mereka yang sudah terbiasa menghadapinya, mungkin itu semua cuma hal yang biasa-biasa aja dan sama sekali bukan tekanan. Toh tampaknya sistem kerja seperti itu justru menguatkan mental mereka sehingga menjadi tahan banting. Ya, kalo saya amati, para sales seperti mereka adalah pekerja keras bermental baja.

Dari pagi sampe siang kami jalan-jalan dulu sambil nunggu salah satu relasi yang katanya akan datang setelah Dzuhur. Tadinya kami mo ke CiTos (Cilandak Town Square), tapi ga jadi karena malas. Kalo saya pribadi emang sengaja menghindari mall, untuk menghindari lapar mata, karena saat itu kantong saya emang lagi kering banget, hehe…. Akhirnya kami Cuma jalan-jalan ke tempat-tempat yang deket aja, sekalian makan siang. Continue reading ‘Hari Ketiga’

Hari Kedua

Saat itu kami bangun lumayan pagi, karena memang dijadwalkan untuk mengunjungi kantor distribusi lagi. Kalo ga bangun pagi, masuk kantornya bakalan telat, karena jalanan pasti macet. Biasalah, namanya juga Jakarta. Apalagi jarak dari tempat penginepan ke kantor lumayan jauh. Dari Tebet ke Jagakarsa…. Mungkin 30 km ada kali, ya….

Saat baru aja membuka mata, ternyata di meja makan sudah tersaji ketupat sayur betawi yang disiapkan oleh pembantu di tempat saya menginap itu. Wuaah, saya seneng banget, karena kebetulan ketupat sayur betawi itu memang makanan favorit saya. Apalagi saya jarang banget makan itu. Di Yogya sebenarnya ada yang jual, tapi ga enak. Menurut saya, ketupat sayur yang enak itu, ya, cuma ada di Jakarta, yang dijual oleh pedagang keliling dengan pikulannya. Entah kenapa saya justru kurang suka sama ketupat sayur betawi yang dijual di restoran-restoran besar. Rasanya beda aja. Lebih mantap yang dijual oleh para pedagang keliling. Continue reading ‘Hari Kedua’


Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,793 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter