Posts Tagged 'resensi'

[Resensi Buku] Tak Enteni Keplokmu – Tanpa Bunga dan Telegram Duka

Tak Enteni KeplokmuBulan ini saya tuntas membaca dua buku karya Sindhunata. Buku yang pertama berjudul Putri Cina, sementara yang kedua Tak Enteni Keplokmu-Tanpa Bunga dan Telegram Duka.

Kali ini saya akan meresensi buku yang saya sebut terakhir, sebab buku itulah yang terbit lebih dahulu dibanding Putri Cina.

Kalau ditanya buku ini bercerita tentang apa, terus terang saya bingung menjawabnya. Berbeda dengan tulisan-tulisan nonfiksi Sindhunata yang terang benderang, tulisan fiksi beliau di buku ini sulit digambarkan kembali ―meskipun sama-sama memikat.

Sederhananya, buku ini bisa dibilang sebuah hasil imajinasi dan kreasi Sindhunata terhadap tiga lukisan Djokopekik. Adapun Djokopekik adalah seorang pelukis senior yang terkenal kritis terhadap situasi politik di negeri ini. Continue reading ‘[Resensi Buku] Tak Enteni Keplokmu – Tanpa Bunga dan Telegram Duka’

[Resensi Buku] Writerpreneurship!

Istilah writerpreneurship pertama kali saya dengar dari Pak Bambang Trim, seorang praktisi penulisan dan perbukuan tanah air. Menurut beliau, writerpreneurship adalah sekumpulan hasrat (passion), ide, dan juga kecakapan melihat peluang dunia tulis menulis.

Setengah berkelakar, beliau menjelaskan bahwa writerpreneur merupakan seorang penulis yang mampu mengubah kertas satu rim seharga Rp30.000 menjadi kertas berisi tulisan seharga Rp30.000.000.

Istilah tersebut kemudian digunakan oleh Dwi Suwiknyo sebagai judul untuk buku yang ditulisnya ini. Saya mendapatkan buku ini secara cuma-cuma dari Mas Dwi yang kebetulan merupakan relasi saya. Sekadar informasi, ia merupakan seorang pemuda yang memilih jalan hidup sebagai penulis penuh waktu. Continue reading ‘[Resensi Buku] Writerpreneurship!’

[Buku] Syukur Tiada Akhir

Syukur Tiada AkhirBeberapa waktu lalu saya melihat buku ini terpajang dengan manis di meja kerja bos saya. Tanpa pikir panjang, saya pun langsung meminta izin untuk meminjamnya. Sudah lama saya ingin membacanya, dan akhirnya kesempatan itu datang juga.

Saya merupakan seorang penggemar Kompas. Meskipun tidak berlangganan (penggemar macam apa ini), tapi saya sering beli Kompas edisi Minggu. Saya menyukai Kompas karena kontennya tidak hanya padat dan informatif, tetapi juga enak dibaca. Berita-beritanya dituturkan secara jernih dalam tata bahasa yang rapi.

Apa yang membuat saya tertarik dengan buku Syukur Tiada Akhir ini? Tidak lain karena buku tersebut berisi jejak langkah Jakob Oetama, salah satu pendiri Kompas.

Bagi saya, sosok Jakob Oetama begitu menarik. Pertumbuhan grup perusahaan yang digawanginya sungguh mengesankan. Dari yang awalnya hanya menerbitkan majalah Intisari, kemudian berkembang dengan menghasilkan ratusan majalah dan tabloid bermutu. Belum lagi jaringan toko Gramedia yang selalu asyik untuk dijelajahi.

Buku ini ditulis oleh Stanislaus Kostka Sularto, seorang wartawan senior dan petinggi Kompas. Karena ditulis oleh orang lain —bukan oleh Jakob Oetama sendiri, maka jelas bahwa buku ini merupakan sebuah biografi, bukan otobiografi. Continue reading ‘[Buku] Syukur Tiada Akhir’

[Resensi Buku] Creative Writing

Creative Writing

Lebih baik menghasilkan draf tulisan yang buruk ketimbang hanya merenungi kertas kosong selama berjam-jam (A.S. Laksana).

Begitu membaca kalimat tersebut dalam buku Creative Writing, saya langsung tersentak. Mas Sulak —begitu biasanya A.S. Laksana dipanggil, benar-benar telah menyentil saya.

Selama ini saya memang sangat lambat dalam menulis. Saat sedang menulis, saya terlalu sibuk mengutak-atik tulisan sehingga dalam waktu berjam-jam, jumlah tulisan yang dihasilkan sangat sedikit. Hal ini tentu saja sering membuat saya frustrasi.

Dan saya rasa masalah ini juga sering dialami oleh para penulis pemula lainnya. Selain itu, masih ada lagi masalah lain yang tidak kalah menjengkelkan, di antaranya adalah mudah kalah oleh mood, tidak punya waktu untuk menulis, ide sulit berkembang, tidak tahu mau menulis apa, dan sebagainya. Continue reading ‘[Resensi Buku] Creative Writing’

[Resensi Buku] Unfriend You

unfriend-you

Aku adalah noda untuk dosa yang tak kulakukan. Aku mencoba bertahan, berusaha mengerti; mungkin ada bagian dari dirimu yang tak bisa kuraih. Namun, yang tak kunjung kupahami, mengapa ada persahabatan yang menyakiti?

Katrissa Satin adalah siswi kelas XI di Eglantine High School. Di sekolah itu -mungkin juga kebanyakan sekolah lainnya-, ada pembagian kelompok sosial, yakni itik dan angsa.

Awalnya Katrissa merupakan itik buruk rupa yang tersisihkan dan hampir tidak punya teman. Namun sejak bergabung dengan kelompok Aura dan Milani -dua gadis populer di sekolah tersebut-, Katrissa pun naik derajatnya menjadi angsa.

Aura adalah siswi yang sangat dihormati dan disegani oleh teman-temannya karena kecantikannya. Sementara Milani merupakan salah satu siswi terkaya di sekolahnya. Tidak heran bila Katrissa ikut populer setelah bergabung dengan clique mereka -untuk tidak menyebutnya geng-. Apalagi Katrissa turut mengubah penampilannya sehingga kecantikannya jadi lebih kentara. Continue reading ‘[Resensi Buku] Unfriend You’

[Review Buku] Wong nDeso itu Militan

Militansi itu baik, asalkan tahu cara transformasinya dan metamorfosisnya. Pengusaha, wartawan, dan orang-orang sukses itu harus militan. (Dahlan Iskan)

Meskipun buku yang sedang saya review ini menampilkan nama Dahlan Iskan, namun isinya sama sekali bukan kehidupan tentang menteri BUMN itu. Buku ini berisi pengalaman hidup muridnya, seorang pekerja keras yang berasal dari desa, Misbahul Huda.

Sang murid menerapkan prinsip hidup, falsafah, dan pesan dari Dahlan Iskan, gurunya. Dari situ, lahirlah kisah kehidupan yang sangat menarik dan inspiratif. Misbahul Huda pun menuliskannya dalam buku setebal 268 halaman ini. Continue reading ‘[Review Buku] Wong nDeso itu Militan’

Resensi Buku

Pada blogwalking hari ini, saya mengunjungi beberapa blog yang rutin memposting resensi buku. Di antara blog itu ada yang memposting resensi seminggu sekali. Itu berarti paling tidak si empunya blog membaca minimal satu buku selama seminggu. Cukup jauh dibanding saya yang paling-paling dalam sebulan hanya membaca satu sampai dua buku, hehe….

Saya jadi terinspirasi untuk rutin membuat resensi buku juga nih. Kebetulan saya suka baca buku, tapi selama ini jarang meresensinya. Sepertinya sekarang patut dicoba. Sekalian belajar dan melatih otak dalam memahami bacaan dan menggambarkannya lagi ke dalam tulisan. Continue reading ‘Resensi Buku’


Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,796 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter