Posts Tagged 'pekerjaan'

Menata Ulang

Halo!

Wah, sudah lama banget saya nggak ngeblog.

Akhir-akhir ini pekerjaan saya begitu menumpuk, dan hal itu membuat saya malas menyentuh blog. Saat itu saya berpikir, jika absen ngeblog, saya bisa fokus untuk mencicil pekerjaan.

Tapi, ternyata saya keliru.

Meskipun absen ngeblog, kenyataannya saya tidak lantas memanfaatkan waktu yang ada untuk mengerjakan pekerjaan yang menumpuk itu. Continue reading ‘Menata Ulang’

Advertisements

Misteri Dunia

Kita tahu, dunia ini penuh dengan misteri. Nah, salah satu misteri yang paling membuat saya geleng-geleng kepala adalah ini: saat sedang banyak tugas atau pekerjaan, bukannya semakin rajin, biasanya kita malah semakin malas-malasan. Bukannya memanfaatkan waktu dengan baik, kita malah menyia-nyiakannya.

Padahal logikanya, banyaknya pekerjaan mestinya berbanding lurus dengan alokasi waktu yang kita sediakan. Jadi semakin banyak suatu pekerjaan, seharusnya kita mengalokasikan waktu yang banyak pula untuk mengerjakannya.

Tapi apa yang terjadi? Kenyataannya kita malah semakin malas-malasan, dan kemudian malah melakukan hal lain yang cenderung tidak berguna. Akibatnya, kita jadi kehabisan waktu, padahal tugas atau pekerjaan itu masih belum tersentuh. Kemudian kita pun menyesal, semakin stres, semakin malas-malasan, dan akhirnya pekerjaan jadi semakin terbengkalai.

Benar-benar bencana. Continue reading ‘Misteri Dunia’

Ayah Saya Tukang Tambal Ban

Beberapa tahun yang lalu, saat ayah saya tidak memiliki pekerjaan, beliau mendapat seperangkat alat shalat dibayar tunai tambal ban dari kawannya.

Saya kurang tahu bagaimana ceritanya sang kawan tiba-tiba mewariskan alat tambal ban itu kepada ayah saya. Sepertinya sih sekadar iseng belaka. Sang kawan sudah tidak membutuhkan alat itu lagi, sedangkan ayah saya tertarik untuk memilikinya.

Setelah mempelajari seluk beluk cara menambal ban yang baik dan benar, akhirnya ayah saya membuka jasa tambal ban di depan rumah. Kondisinya saat itu cukup menyedihkan. Bayangkan, beliau belum punya kompresor, jadi hanya mengandalkan pompa tangan buatan Cina Tiongkok. Ya, tentu saja itu sangat melelahkan.

Entah apa yang terjadi dengan ayah saya jika beliau dulu juga menerima jasa tambal ban truk kontainer. Continue reading ‘Ayah Saya Tukang Tambal Ban’

Cemilan

Beberapa waktu yang lalu saya berbincang dengan seorang kawan. Saya mengenalnya sebagai sosok yang sangat tekun. Dalam obrolan tersebut, dia cerita bahwa kalau sedang mengerjakan sesuatu, dia bisa melakukannya selama berjam-jam. Biasanya dari selepas shubuh hingga jam satu pagi.

Mendengar itu, saya sangat terkejut, sekaligus iri. Seperti yang pernah saya ceritakan di sini, saya kesulitan untuk berkonsentrasi —tidak betah berlama-lama mengerjakan sesuatu. Biasanya baru satu jam mengerjakan pekerjaan, saya sudah bosan, dan rasanya ingin segera menggantinya dengan kegiatan lain.

“Bro, kok kamu bisa bekerja seasyik itu, sih?” tanya saya kepada teman saya.

“Hahaha…,” bukannya langsung menjawab, ia malah tertawa. “Mmm… apa, ya….”

Ia diam sejenak, kemudian berkata, “Yang utama mungkin motivasi, Bro. Selain itu, saat bekerja, aku harus ngemil sesuatu. Cemilan membuatku rileks. Jadi aku bisa betah berlama-lama berhadapan dengan kerjaan.” Continue reading ‘Cemilan’

Mulai dari yang Paling Mudah

Belakangan ini saya punya kebiasaan baru. Setiap pagi sebelum mulai bekerja, saya menyisihkan waktu sejenak untuk membuat daftar pekerjaan yang harus saya selesaikan hari itu.

Dari daftar tersebut, saya bisa mengetahui mana pekerjaan yang paling sulit dan mana yang paling mudah. Selanjutnya saya tinggal memilih, mau mengerjakan yang mana dulu.

Saya pernah mencoba memulai dari hal yang paling sulit. Pikir saya, dengan menyelesaikannya terlebih dahulu, maka proses selanjutnya bakalan mudah.

Namun, hal yang terjadi justru di luar sangkaan saya. Saat mulai mengerjakannya, belum apa-apa pikiran saya langsung dipaksa bekerja keras. Hal ini membuat saya tertekan sehingga saya malah jadi malas-malasan. Continue reading ‘Mulai dari yang Paling Mudah’

Mencari Nafkah Dengan Menulis (2)

Menyambung dari tulisan sebelumnya.

Setelah menerima uang pertama yang saya peroleh dari hasil menulis, semangat saya untuk belajar menulis semakin menggebu-gebu.

Saya mulai sedikit berani membayangkan pekerjaan apa yang hendak saya lakoni nantinya. Ya, saya bisa jadi penulis. Saya kira itu jauh lebih baik daripada menganggur.

Seiring dengan mantapnya bayangan itu, saya pun semakin rajin belajar menulis dan membuat artikel. Sayang, ternyata proses berikutnya nggak terlalu lancar. Banyak tulisan saya yang ditolak. Continue reading ‘Mencari Nafkah Dengan Menulis (2)’

Langkah Pertama

2_038Saya terbiasa mencatat dan membuat daftar pekerjaan apa saja yang harus saya bereskan. Setiap pekerjaan yang sudah selesai akan saya tandai dalam daftar tersebut. Alangkah senangnya saya saat melihat puluhan daftar yang sudah bertanda “selesai”. Rasanya lebih puas daripada nggak membuat daftar itu, hehe….

Nah, sekarang ini ada satu pekerjaan yang nggak selesai-selesai di dalam daftar tersebut dan cukup membuat saya stres. Kenapa nggak selesai? Ternyata karena saya nggak mengerjakannya dengan tekun, haha…. Malas-malasan gitu. Bahkan saya cenderung menghindarinya.

Rasanya kita semua punya “pekerjaan teror” masing-masing, ya. Maksudnya adalah pekerjaan yang harus kita selesaikan, namun kita benar-benar malas mengerjakannya. Continue reading ‘Langkah Pertama’


Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,810 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Advertisements