Posts Tagged 'menulis'

Menulis di Ponsel

Meski tangannya mulai sulit digerakkan, tapi Putu Wijaya masih rajin menulis. Bukan di kertas, melainkan di ponsel pintarnya.

Putu memang terkenal keras dan disiplin. Tidak hanya kepada orang lain, tapi juga kepada dirinya sendiri. Tidak heran jika karya-karyanya begitu memikat dan memukau banyak orang. Continue reading ‘Menulis di Ponsel’

Advertisements

Draf

Ada sebuah folder baru yang sengaja saya buat di laptop. Folder itu saya namakan “Draf”. Rencananya mau saya isi dengan catatan apa saja yang saya buat, misalnya pengalaman sehari-hari, curhat, cerpen, sinopsis novel, ide-ide, atau resensi buku.

Pokoknya apa pun akan saya tulis di sana. Suka-suka, setiap hari kalau bisa. Sekadar menyalurkan pikiran dan perasaan.

Jadi isi folder itu benar-benar hanya sampah, berupa draf dengan kalimat-kalimat dan plot yang tidak tertata. Continue reading ‘Draf’

Kreatif

Saat ini saya bekerja di dunia kreatif, tapi kenyataannya kehidupan saya sehari-hari jauh dari kata kreatif. Misalnya, saya memakai pakaian yang itu-itu saja, mendengarkan lagu yang itu-itu saja, makan di warung yang itu-itu saja, dan bahkan dengan menu yang itu-itu saja.

Tapi, saya menikmati itu semua.

Ibu saya bilang bahwa selera saya susah. Mungkin beliau benar. Dan mungkin karena itu pula saya suka malas mencoba-coba. Jadi begitu mendapatkan sesuatu yang cocok, saya akan terus menggenggamnya.

Misalnya, saya hanya punya dua celana panjang yang saya pakai secara bergantian. Merek dan jenis keduanya sama. Salah satu celana sudah sobek di bagian lutut, tapi masih saya pakai terus. Hal itu membuat saya jadi terlihat seperti gembel. Beruntung tempat kerja saya tidak terlalu mempermasalahkannya. Continue reading ‘Kreatif’

Lega (2)

Setiap kali selesai ngeblog, entah kenapa saya jadi merasa lega. Kalau dipikir-pikir, mungkin sebabnya ada dua.

Pertama, karena saya telah menulis.

Menulis —kita tahu, memang dapat mendatangkan perasaan lega. Beban kita terbagi. Apa yang kita pikirkan dan kita rasakan bisa terlampiaskan. Semuanya kita tuangkan ke dalam bentuk tulisan. Perkara mau dipublikasikan atau tidak, itu pilihan kita. Tinggal kita pertimbangkan baik-buruknya. Continue reading ‘Lega (2)’

Proses

Sewaktu kecil, beberapa tetangga dan kerabat dekat menjuluki saya dengan sebutan yang gaul abis: ‘anak pantat’.

Bukan… itu bukan karena muka saya mirip dengan belahan pantat. Saya disebut demikian karena dulu sering menggelendot di balik tubuh ibu saya.

Ya, dulu saya memang anak yang manja. Apa-apa selalu dikerjakan orangtua. Namun, saya berusaha untuk tidak membawa sifat manja itu pada masa dewasa. Saya belajar untuk menjadi orang yang mandiri, menyelesaikan berbagai masalah sendiri tanpa perlu merepotkan keluarga.

Meski demikian, saya merasa sikap manja saya sewaktu kecil menimbulkan watak kurang baik pada diri saya. Dulu saya tidak terbiasa mengerjakan sesuatu sendiri, jadi saya tidak terlalu akrab dengan proses. Akibatnya, saya jadi tidak sabaran. Continue reading ‘Proses’

Tentang Menulis

Tak disangka, ternyata ada juga adik angkatan saya yang suka baca blog ini. Katanya, ia suka dengan postingan saya yang berjudul Kasir, Save the Best for The Last, Memilih yang Paling Besar, serta Bioskop. Dan katanya lagi, tulisan-tulisan saya asyik dan lucu.

Tunggu, sepertinya kepala saya mulai membesar.

Adik angkatan saya itu lantas menyarankan saya untuk coba mengirim tulisan ke sebuah website alternatif-kreatif yang terkenal dengan kontennya yang segar dan menghibur, sebut saja mojok.co (nama sebenarnya). Media itu dikepalai oleh Puthut EA.

Hmm… boleh juga tuh, bisa jadi sarana untuk mempromosikan diri blog ini. Continue reading ‘Tentang Menulis’

Ini yang Perlu Dipikirkan Sebelum Jadi Penulis

Sepertinya saat ini profesi penulis terdengar sangat seksi dan menarik. Banyak orang yang memutuskan untuk menjadi seorang penulis. Bahkan, banyak pula orang yang sudah mapan bekerja di perusahaan besar, tapi memutuskan resign untuk kemudian menjadi penulis penuh waktu.

Menulis tidak lagi dijadikan hobi, tapi dijadikan sebagai profesi utama untuk mencari nafkah.

Memang, menjadi penulis sepertinya terhormat sekali. Prestisenya tinggi. Para penulis dianggap sebagai orang yang cerdas. Tapi, jangan salah. Pandangan seperti itu biasanya ditujukan kepada para pekerja profesional yang menulis, bukan penulis profesional penuh waktu. Hal ini berbeda, dan kita harus bisa membedakan keduanya. Continue reading ‘Ini yang Perlu Dipikirkan Sebelum Jadi Penulis’


Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,980 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip