Posts Tagged 'makan'

Berhenti

Beberapa hari yang lalu, saya makan pagi bersama adik ini. Kami menjajal sebuah tempat makan khas Banjar yang cukup terkenal di sini, namanya Kindai.

Saya pesan soto banjar ketupat, sedangkan dia nasi kuning sambal goreng ati.

Soto banjarnya enak, tapi sayang agak manis. Dan yang lebih disayangkan lagi, porsinya sedikit.

Sebenarnya tadi ada pilihan soto banjar nasi, bukan ketupat seperti yang saya pesan. Tapi saya rasa porsi nasinya juga sedikit, tidak jauh berbeda dibanding dengan yang ketupat. Jadi kurang lebih sama. Makanya saya tidak pesan menu itu. Continue reading ‘Berhenti’

Advertisements

Harga Sebuah Kebersihan

Kereta yang akan saya naiki menuju Jogja baru berangkat pukul sembilan malam, sementara saya sudah tiba di stasiun Pasar Senen sebelum maghrib. Masih ada waktu beberapa jam lagi untuk bersantai. Daripada bengong, saya pun memutuskan untuk makan malam supaya di kereta nanti tidak perlu beli makan lagi.

Kebetulan, di dalam kompleks stasiun Pasar Senen ada Seven Eleven. Meskipun sudah sering mendengar cerita tentang gerai fenomenal itu, tapi saya sama sekali belum pernah memasukinya. Maka ketika kemarin saya masuk ke Sevel, saya merasa tingkat kegaulan saya jadi bertambah sekian persen.

Di dalam gerai itu, saya menemukan konter khusus makanan siap saji. Baru saja hendak mengambil nasi goreng kemasan, mata saya langsung terbelalak ketika melihat harganya.

Ya ampun, mahal bingits. Padahal porsinya cuma sedikit. Saya pun jadi sewot sendiri. Continue reading ‘Harga Sebuah Kebersihan’

Selera

Di dekat kantor saya ada warung makan padang prasmanan yang baru saja buka. Seperti halnya sesuatu yang baru, warung itu pun terlihat memukau. Sebagai seorang pecinta gadis masakan padang, saya pun langsung menyambangi warung itu pada hari pertama buka.

Tak disangka, ternyata masakannya sangat enak! Sayurnya kental penuh bumbu, sambalnya sedap, dan bumbu rendangnya menggigit lidah. Baru berdiri di pintu warungnya saja sudah tercium aroma kuah gulai yang membangkitkan selera.

Dan satu lagi. Ini yang paling penting: nasinya enak bingits. Hangat, tidak lembek, tapi juga tidak keras. Kalau kata Demian, “sempurna”. Continue reading ‘Selera’

Kelaparan (2)

Postingan ini merupakan kelanjutan dari tulisan yang ini.

Selama beberapa menit, kami semua diam. Mungkin sama-sama canggung. Kemudian si bapak bertanya dengan agak rikuh, “Bagaimana Dek, bisakah adek membantu saya? Saya butuh uang untuk ongkos pulang.”

“Mohon maaf, Pak,” saya menjawab dengan nada yang sopan. “Kebetulan saya dan teman saya lagi nggak punya uang.”

Tak disangka, raut wajah si bapak mendadak mengeras. Ia tidak lagi memelas. Tanpa berbicara apa-apa, ia pergi begitu saja, membawa bungkusan makanan yang sama sekali belum ia santap.

Saya hanya bisa mengelus dada. Seharusnya tadi saya meninggalkannya saja. Mestinya saya tidak perlu bersusah payah membelikannya makanan.

Tapi masalahnya, saya tidak bisa menolak orang yang sedang kelaparan.

Sebab saya tahu bagaimana rasanya kelaparan.

Saya paham rasanya tidak bisa membeli makanan karena tidak punya uang. Continue reading ‘Kelaparan (2)’

Kelaparan (1)

Dari kejauhan, seorang bapak kurus berpakaian lusuh berjalan ke arah saya. Malam itu saya dan seorang kawan sedang nongkrong di seputaran bundaran UGM. Kami berbincang-bincang dengan asyik sambil menyaksikan gadis-gadis manis berseliweran. Ketika itu kami berdua masih mahasiswa semester awal.

Si bapak kurus menyalami kami, lalu memperkenalkan diri. Katanya dia mau pulang ke Gunung Kidul (atau mungkin Wonosari, saya lupa), tapi kehabisan ongkos. Ia mengaku sudah berjalan kaki berpuluh-puluh kilometer, lalu kelelahan. Padahal, rumahnya masih jauh.

“Tolong bantu saya, Dek,” ujar si bapak kurus dengan wajah memelas. “Saya butuh uang untuk ongkos pulang. Saya kelaparan dan kehausan, dari pagi belum makan. Perut saya melilit.”

Saya tertegun. Saya tidak yakin ia kehabisan uang untuk ongkos pulang. Di mata saya, alasan itu terlalu mengada-ngada. Terlebih beberapa hari sebelumnya, teman saya Syarif juga mengalami kejadian serupa. Continue reading ‘Kelaparan (1)’

Prasmanan

Saya tahu, saya sudah terlalu sering menyebut-nyebut kata prasmanan dalam postingan saya. Barangkali hal ini membuat teman-teman kesal –atau mungkin membuat kalian lapar. Tadinya saya berniat untuk berhenti menyebutnya, namun rupanya niat itu gagal bersamaan dengan terbitnya postingan ini.

Beberapa waktu yang lalu saya berkunjung ke acara resepsi pernikahan relasi saya. Di acara tersebut, para tamu disuguhi hidangan santap siang, masing-masing mendapat jatah satu piring.

Kalau di kota saya, format itu biasa disebut dengan “piring terbang”. Beberapa petugas (biasanya para pemuda sekitar) mengantarkan hidangan kepada para tamu yang duduk manis di tempat yang sudah disediakan. Setahu saya tradisi ini banyak ditemui di acara pernikahan di daerah Jawa Tengah, juga di daerah-daerah pelosok di Yogyakarta. Continue reading ‘Prasmanan’

Lupa Makan, Lupa Tidur

Manajemen waktu merupakan solusi yang hebat bagi siapa pun yang sedang punya banyak pekerjaan. Dengan manajemen waktu yang rapi, maka kita bisa menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan tepat waktu.

Mungkin ini yang membuat orang-orang tertentu sanggup memegang beberapa jabatan sekaligus. Padahal, waktu yang mereka punya pun sama dengan kita semua: kurang lebih 24 jam dalam sehari.

Supaya manajemen waktu bisa berfungsi, maka ada satu syarat penting yang harus dipenuhi, yakni konsentrasi atau fokus dalam bekerja.

Sudah sebulan ini pekerjaan saya begitu menumpuk, dan tenggatnya pun berdekatan. Untuk mengatasinya, maka saya pun menyusun jadwal kerja sebaik mungkin. Pada tahap ini saya tidak begitu kesulitan, sebab rupanya saya pandai membuat rencana. Continue reading ‘Lupa Makan, Lupa Tidur’


Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,981 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip