Posts Tagged 'kerja'

Persediaan

Pusat perbelanjaan pada awal bulan biasanya ramai dikunjungi oleh mereka yang hendak membeli barang persediaan, misalnya makanan instan, sabun, detergen, dan sebagainya. Dengan memiliki persediaan seperti itu, mereka bisa terhindar dari kerepotan yang muncul saat kehabisan barang tersebut di rumah.

Saya biasanya sangat peduli dengan masalah persediaan ini. Jika persediaan sabun sudah mau habis, maka saya akan segera ke toko kelontong langganan untuk membelinya.

Saya tidak mau terjebak pada kondisi yang merepotkan seperti ini: badan sudah telanjur basah di kamar mandi, tapi tidak bisa meneruskan mandi karena kehabisan sabun dan harus membelinya dulu di warung. Oh, no.

Contoh lain, kalau jarum penunjuk kapasitas bensin di dashboard sepeda motor berada di area merah, maka biasanya saya akan menyisihkan waktu sejenak untuk beli bensin di pom. Continue reading ‘Persediaan’

Advertisements

Uang Sendiri

Dulu pas masih sekolah, susah banget rasanya kalau mau beli barang yang saya inginkan, sebab harus minta uang dulu ke orangtua. Padahal, uang mereka pun sangat terbatas, dan ada banyak kebutuhan lain yang harus mereka penuhi.

Ketika itu saya berpikir bahwa jadi anak sekolah benar-benar nggak enak, sebab nggak bisa punya uang sendiri. Jadinya nggak bisa bebas beli ini-itu. Padahal sebagai remaja yang pengen eksis dan gaul, saya punya daftar yang panjang tentang barang-barang yang ingin saya beli.

Mungkin seperti yang juga dirasakan oleh kebanyakan anak sekolah lain, saya pun sempat ingin segera melewati masa-masa sekolah dan langsung melompat ke dunia kerja. Continue reading ‘Uang Sendiri’

Kafe & Kamar Tidur

Beberapa hari yang lalu saya janjian dengan Bene Dion —komika finalis Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) session 3— di sebuah kafe sederhana yang juga merangkap sebagai toko buku.

Kami berbincang dengan seru di sana, membicarakan dunia buku. Kebetulan Bang Bene sedang menulis buku, dan mudah-mudahan bisa terbit dalam waktu dekat ini.

Rupanya Bang Bene sering main ke kafe itu, baik untuk open mic, kumpul-kumpul dengan komunitas stand up, dan juga menulis. Katanya beberapa kali ia mengerjakan skripsi di situ. Katanya bisa lebih fokus daripada mengerjakannya di kamar kosnya. Continue reading ‘Kafe & Kamar Tidur’

Mencari Nafkah Dengan Menulis

Dulu saya sama sekali nggak membayangkan akan menjalani kehidupan seperti sekarang ini. Saat masih sekolah (SMA), saya memang nggak tahu mau jadi apa. Padahal, banyak remaja yang lain yang sudah punya cita-cita dan rencana, hendak menapaki karier di bidang apa.

Entahlah, barangkali dulu saya takut bermimpi, makanya nggak punya rencana apa-apa. Menjelang kelulusan SMA, saya bahkan nggak tahu mau kuliah di jurusan apa. Tentu saja hal itu membuat saya galau.

Kemudian saya sempat punya pikiran untuk kuliah di jurusan komputer, atau mungkin cukup kursus. Kalau sudah lulus, nantinya saya bakalan punya skill yang bisa dipakai buat kerja. Continue reading ‘Mencari Nafkah Dengan Menulis’

Koneksi Internet

Sudah seminggu ini saya dibuat kesal oleh koneksi internet yang begitu lambat. Nggak hanya di tempat kerja, tapi juga di kamar kos.

Kenapa saya begitu kesal? Karena kebetulan minggu ini saya sangat membutuhkan koneksi internet yang lancar. Ada banyak file dari relasi kerja yang perlu saya unduh. Sudah beberapa kali saya coba unduh, tapi gagal terus. Hal ini berlangsung selama beberapa hari. Continue reading ‘Koneksi Internet’

Hari Pertama

Pada postingan ini, saya sempat bilang bahwa hari rabu saya sudah mulai masuk kerja. Ternyata saya salah, haha… Rupanya bukan rabu, melainkan kamis (15/8) ini, hehe….

Nah, ternyata nggak cuma saya doang yang lupa. Beberapa teman lain juga nggak ingat mulai masuk kapan. Bahkan ada satu teman yang berangkat ke kantor rabu kemarin. Sampai kantor, terpaksa ia langsung pulang lagi, sebab tentu saja kantor saat itu masih sepi banget alias belum ada orang. :))

Beruntung pada hari selasa yang lalu saya sempat sms dan tanya ke mbak admin. Lewat sms balasan, dia ngasih tahu bahwa masuknya itu hari kamis. Akhirnya saya nggak jadi berangkat hari rabu, dan tentu saja selamat dari kekecewaan yang dirasakan teman saya tadi.

Pada hari pertama masuk kerja pasca-libur lebaran ini, suasana kantor masih sepi banget. Tapi, saya sendiri langsung disibukkan oleh berbagai pekerjaan yang menumpuk. Itu pun tadi belum selesai. Besok mau saya kebut, mengingat semua kerjaan itu harus selesai secepatnya.

Kayaknya kerjaan yang menumpuk itu memang sudah jadi konsekuensi atas hari libur yang kita dapat, ya. Kita memang bisa libur, tapi belum tentu pasokan kerjaan bisa berhenti. Jadi selama libur berlangsung, kerjaan itu akhirnya menumpuk. Tapi nggak apa-apa, sebab bagaimanapun kita perlu liburan. Benar, kan? 😉

Apakah teman-teman saat ini masih libur?

Libur Lebaran

Libur lebaran tahun ini bagi saya terasa cukup singkat. Saya baru libur pada H-1 lebaran. Lalu besok rabu (14/8) ini sudah masuk kerja lagi. Bahkan beberapa teman, hari senin besok ini sudah mulai masuk kerja.

Meskipun liburnya cuma sebentar, tapi saya nggak terlalu masalah, sebab saya nggak mudik ke mana-mana. Yang kasihan teman-teman saya yang mudik ini. Mereka cuma punya waktu sebentar sekali di kampung halaman.

Belum puas bersilaturahim dan kumpul-kumpul keluarga, eh sudah harus kembali pada rutinitas kerja. Macet dalam perjalanan ke rantau pun semakin menghabiskan waktu libur yang tersisa. Mereka inilah yang paling merasa kesusahan oleh karena waktu libur yang singkat. Continue reading ‘Libur Lebaran’


Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,790 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Advertisements