Posts Tagged 'curhat'

Tidak Diakui

Di kantin kampus beberapa tahun yang lalu, seorang teman curhat kepada saya, “Dit, aku benar-benar tertekan. Aku berusaha menjalani passionku, tapi hal itu malah membuatku tidak diterima oleh lingkunganku, bahkan keluargaku.”

Saya gelagapan. Saya bukan psikolog, dan tidak banyak mempelajari ilmu psikologi, jadi tidak tahu harus memberi saran apa. Terlebih saya sedang lapar, sementara wangi gorengan yang sedang digoreng menguar dari wajan si ibu Kantin. Hal ini membuat saya tidak bisa fokus.

Tadinya saya mau melucu saja, supaya pembicaraan itu tidak berlangsung sedih. Tapi, saya khawatir dia malah tersinggung. Kau tahu, kalau mau melucu, kita harus melihat tempat dan waktu. Continue reading ‘Tidak Diakui’

Orang yang Membosankan

Malam minggu yang lalu, saya pulang agak telat. Meskipun malam sudah cukup larut, namun rupanya jalanan masih terasa ramai. Para pasangan muda masih asyik berlalu lalang dengan sepeda motor mereka. Di beberapa titik jalan, terparkir mobil-mobil model city car khas anak muda.

Jalanan kota pada malam hari memang terasa indah dan romantis. Tidak heran bila para pasangan muda sangat menyukainya. Lampu-lampu jalan yang berwarna keemasan membuat suasana begitu manis, disempurnakan oleh deru khas lalu lalang kendaraan bermotor.

Selain jalan-jalan, para pasangan muda itu juga menikmati suasana malam dengan berbincang-bincang di tempat yang menurut mereka menarik. Di antaranya adalah pinggir jembatan yang dihiasi lampu, emperan toko, tempat terbuka di mini market, dan sebagainya. Continue reading ‘Orang yang Membosankan’

Terhambat Hal Teknis

Sapa bilang hal-hal teknis itu tidak menghambat?

Beberapa hari ini saya disibukkan dengan satu hal, yaitu mencari syarat-syarat buat wisuda. Nah, salah satu syaratnya itu adalah ngumpulin skripsi yang udah dijilid. Kalo kata temen-temen sih itu masalah gampang, cuma teknis doang. Kan yang penting isi skripsinya udah jadi…

Tapi entah kenapa bagi saya ga semudah itu. Berkali-kali saya menunda ngeprint skripsi yang udah di revisi itu. Seharusnya tinggal diprint aja. Tapi setiap kali saya ke rental untuk ngeprint, tiba-tiba niat itu tidak terlaksana karena saya ga pede, takut ada yg masih salah dan belum lengkap. Pokoknya khawatir banget! Suatu ketakutan yang sebenarnya sangat berlebihan.

Abis saya trauma sih… Dulu pernah saya ngeprint skripsi yang buat ujian pendadaran. Jumlahnya lumayan banyak, ada sekitar 120 lembar. Karena akan menghabiskan banyak biaya, maka saya bener-bener mengkoreksi isi skripsi biar duitnya ga kebuang sia-sia. Semua saya koreksi, termasuk tanda baca, spasi, dan titik komanya. Bener-bener saya perhatiin dengan seksama. Setelah selesai dan yakin ga ada kesalahan teknis lagi, maka langsung saya print, lalu saya copy rangkap tiga. Jadi totalnya empat. Nah, setelah semua siap untuk dikumpulkan ke bagian akademik, saya baru sadar, ternyata margin-nya salah dan ga sesuai dengan standar kepenulisan skripsi!! AArrrghh… TIdaaaaaaaaakkk… Otomatis skripsi saya yang jumlahnya 4 rangkap itu ga berguna, alias sia-sia.. huhu… Continue reading ‘Terhambat Hal Teknis’


Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,793 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter