Posts Tagged 'Cerpen'

[Cerpen] Pawang Hujan

Aku mencangkung di teras rumah sambil memandang bangunan besar itu dengan takjub. Semakin lama bangunan itu semakin besar saja. Ia mulai terlihat angkuh. Puluhan atau bahkan mungkin ratusan pekerja menyemutinya. Kau tahu, bangunan itu berhiaskan peluh dari para pekerja. Dan mungkin juga darah dan nyawa.

Angin menerbangkan debu-debu dari gedung raksasa itu ke segala arah. Lingkungan penduduk jadi penuh debu, termasuk rumahku. Dalam sehari, Ibu harus menyapu rumah puluhan kali. Pintu dan jendela juga harus selalu ditutup supaya debu-debu kasar tidak masuk ke rumah.

Aku mulai sadar, sudah beberapa bulan terakhir ini hujan tidak turun. Kemarau terasa lebih panjang dari biasanya. Continue reading ‘[Cerpen] Pawang Hujan’

Advertisements

[Resensi Buku] Cerita Pendek Tentang Cerita Cinta Pendek

Cerita Cinta_DjenarKembali saya meminjam buku kumpulan cerpen di perpustakaan kota, kali ini karya Djenar Maesa Ayu. Judulnya unik: Cerita Pendek Tentang Cerita Cinta Pendek.

Buku ini memuat 14 cerpen yang dibuat oleh Djenar sepanjang tahun 2004-2005. Seksualitas menjadi unsur yang menonjol dalam hampir semua cerpen itu.

Meski demikian, cerpen-cerpen itu tidak terkesan porno. Malahan tetap terasa indah, sebab dibalut dalam kata-kata yang memesona.

Saya jadi ingat, karya-karya Djenar sering disebut sebagai sastra wangi. Istilah itu merujuk pada karya sastra Indonesia yang ditulis oleh penulis perempuan, yang mana seksualitas menjadi tema dominan. Continue reading ‘[Resensi Buku] Cerita Pendek Tentang Cerita Cinta Pendek’

[Resensi Buku] Murjangkung

murjangkung_coverMembaca buku Murjangkung agak di luar kebiasaan saya. Sebab, buku tersebut tergolong buku sastra, sementara saya kurang akrab dengan buku-buku dengan genre itu. Setahun terakhir ini saya lebih banyak membaca buku dengan genre romance dan comedy.

Lantas, kenapa kemudian saya membeli dan membaca buku Murjangkung? Well, itu semata-mata karena penulisnya saja.

Ya, saya menyukai tulisan-tulisan A.S. Laksana. Saya kurang puas membaca blognya, dan akhirnya memuaskan diri dengan membaca buku-bukunya.

Murjangkung, itulah nama judul buku ini. Diambil dari salah satu cerpen di dalamnya yang berjudul Bagaimana Murjangkung Mendirikan Kota dan Mati Sakit Perut. Berikut ini cuplikan ceritanya. Continue reading ‘[Resensi Buku] Murjangkung’

Viola Safira

Pagi tadi saya iseng membuka-buka arsip lama di e-mail saya. Tanpa sengaja saya menemukan naskah cerpen yang dulu pernah saya kirim untuk sebuah perlombaaan. Sayang, cerpen itu tidak lolos. Nah, daripada teronggok begitu saja di inbox e-mail, lebih baik saya posting di sini.

Monggo kalau teman-teman mau berkenan baca. Terima kasih 🙂

****

Viola Safira

“Aaah… akhirnya selesai juga,” ujarku sambil mengempaskan tubuh ke atas kasur. Siang itu aku baru saja selesai merapikan barang-barang di rumah yang baru saja aku tempati –sebuah rumah kecil di pinggiran kota yang aku kontrak selama setahun.

Aku sengaja tidak memperpanjang kosku yang dulu. Suasana kos itu kurang kondusif bagi mahasiswa semester akhir sepertiku. Aku tidak bisa mengerjakan tugas akhir dengan fokus di sana, sebab terlalu berisik. Akhirnya aku memilih untuk mengontrak rumah supaya lebih leluasa. Toh harganya tidak jauh berbeda, sebab rumah yang aku kontrak agak jauh dari kota, jadi relatif murah.

Tidak banyak barang yang aku bawa ke kontrakan, paling-paling pakaian dan perlengkapan belajar saja. Bahkan dapur pun tidak aku isi apa-apa. Aku merasa malas untuk melengkapi rumah dengan perabot macam-macam. Continue reading ‘Viola Safira’

Duet

Beberapa hari yang lalu saya dapat informasi di Twitter tentang lomba bikin cerpen. Lomba ini terbilang unik, sebab pesertanya harus dua orang dan harus laki-laki–perempuan (pasangan). Tapi nggak harus sama pacar kok. Sama ayah, ibu, kakak, adik, atau teman pun bisa. Yang penting berbeda jenis kelamin.

Hmmm… saya tertarik ikut. Saya pengen coba bikin cerpen lagi. Dulu pernah coba bikin beberapa kali, tapi hasilnya nggak memuaskan, hahaha…. Yah, jujur saya memang agak kesulitan untuk bikin cerpen, hehe….

Supaya bisa ikut lomba tersebut, maka harus punya pasangan duet. Saya bingung mau ngajak siapa. Ada sih beberapa teman perempuan yang suka nulis, tapi sepertinya mereka lagi pada sibuk dengan kerjaan masing-masing. Continue reading ‘Duet’

Menulis Sebagai Profesi

Beberapa minggu yang lalu, saya beli buku obralan di toko buku diskon langganan. Saya beli buku itu karena murah meriah dan menarik. Judulnya “24 Jam Jagoan Nulis Cerpen”. Sebenarnya saat itu ga terlalu butuh sih. Cuma iseng aja, nemuin buku obralan tapi bagus. Bukan judulnya yang bikin saya tertarik, (karena kadang judul itu bisa bohong besar), tapi pengarangnya, yaitu Donatus A. Nugroho. Penulis yang punya spesialisasi di bidang fiksi remaja. Kabarnya dia udah nulis ribuan cerpen.

Nah, walopun buku itu udah dibeli beberapa minggu yang lalu, tapi saya baru sempet baca kemarin. Wew, isinya bagus. Sederhana, tapi mengena. Tidak terlalu penuh dengan teori, karena memang isinya kebanyakan berupa tips yang diambil berdasarkan pada pengalaman penulis yang sudah bertahun-tahun berkecimpung di dunia kepenulisan fiksi remaja.Tapi, di sini saya ga bermaksud untuk ngebahas atau meringkas tentang tips itu, tapi ingin bercerita tentang kisah menarik yang diceritakan oleh penulis tersebut. Continue reading ‘Menulis Sebagai Profesi’

Anak Tikus

Aku lapar sekali. Sangat lapar. Aku memang belum makan semenjak empat hari yang lalu. Aku terlalu takut untuk keluar dari lubang ini. Ayah Ibuku selalu bilang bahwa di luar sana sangat berbahaya. Banyak berkeliaran manusia yang sangat membenci kita. Mereka punya peralatan canggih yang kata temanku bisa mencelakakan kami.

Sebenarnya aku baru sekali saja melihat manusia. Itu pun hanya mengintip. Aku terlalu takut untuk keluar dari lubang gelap ini. Lagipula, di sini sangat nyaman. Bau tanah lembab yang menyengat sangat memanjakan hidungku. Terkadang Ayah Ibu juga mengajakku menelusuri lubang lain menuju kolam. Aku sangat suka kolam itu. Airnya hitam pekat. Bau airnya juga sangat menyegarkan. Sebenarnya itu bukan kolam, karena airnya agak mengalir. Terkadang ada banyak makanan lezat yang terbawa oleh aliran itu. Ah, aku ingin ke sana… Tapi aku tidak berani ke sana sendiri. Aku tidak tahu arahnya. Belokannya sangat berliku.

Aku tak tahu kenapa Ayah dan Ibu masih belum pulang juga. Padahal sudah lewat tiga hari. Sebelumnya mereka tidak pernah pergi selama ini. Paling hanya beberapa jam, setelah itu pulang dengan membawa banyak makanan lezat. Entah dari mana mereka mendapatkannya. Ibuku pernah bercerita bahwa makanan lezat itu sangat sulit untuk didapatkan. Bahkan taruhannya nyawa. Begitulah. Kata Ibu, memang sudah kodrat kita untuk selalu berjuang. Tanpa kerja keras, kita tidak akan bisa makan. Entahlah, aku tidak bergitu ngerti. Yang aku tahu hanyalah makan. Aku tinggal menikmati saja hidangan spesial yang selalu dibawakan Ayah dan Ibu. Continue reading ‘Anak Tikus’


Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,790 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Advertisements