Posts Tagged 'ayah'

Anak Perempuan dan Ayahnya

Every girl may not be queen to her husband, but she is always a princess to her father (NN).

Beberapa hari yang lalu, saya iseng membuka Facebook. Dari sekian postingan foto yang muncul di linimasa, ada satu foto yang membuat saya terharu.

Foto tersebut begitu personal, diposting oleh seorang kawan —perempuan, yang saat ini sedang kuliah di Eropa. Bentuknya berupa gabungan foto ayahnya yang menampilkan sang ayah dalam berbagai ekspresi dan usia.

Foto editan itu juga berisi coretan khas anak-anak berupa ucapan selamat ulang tahun. Kata-katanya mungkin sebenarnya standar saja, sebagaimana ucapan ulang tahun pada umumnya. Tapi, cara teman saya dalam mengemas ucapan itu membuat saya tersentuh. Continue reading ‘Anak Perempuan dan Ayahnya’

Advertisements

Ayah Saya Tukang Tambal Ban

Beberapa tahun yang lalu, saat ayah saya tidak memiliki pekerjaan, beliau mendapat seperangkat alat shalat dibayar tunai tambal ban dari kawannya.

Saya kurang tahu bagaimana ceritanya sang kawan tiba-tiba mewariskan alat tambal ban itu kepada ayah saya. Sepertinya sih sekadar iseng belaka. Sang kawan sudah tidak membutuhkan alat itu lagi, sedangkan ayah saya tertarik untuk memilikinya.

Setelah mempelajari seluk beluk cara menambal ban yang baik dan benar, akhirnya ayah saya membuka jasa tambal ban di depan rumah. Kondisinya saat itu cukup menyedihkan. Bayangkan, beliau belum punya kompresor, jadi hanya mengandalkan pompa tangan buatan Cina Tiongkok. Ya, tentu saja itu sangat melelahkan.

Entah apa yang terjadi dengan ayah saya jika beliau dulu juga menerima jasa tambal ban truk kontainer. Continue reading ‘Ayah Saya Tukang Tambal Ban’

Kaya Tapi Sederhana

Manusia selalu mencari dan terus mencari, melahap dan terus melahap, sampai lupa bahwa mereka memiliki batas.

Saya mau menceritakan sebuah kisah lama. Sebuah kisah yang sangat berkesan bagi saya, dan tampaknya selalu relevan untuk direnungkan pada berbagai zaman, termasuk zaman sekarang.

Tersebutlah seorang alim ulama bernama Nidzam Al-Mahmudi. Ia tinggal bersama keluarganya di sebuah gubuk kecil di pelosok desa. Meskipun hidupnya sangat sederhana, namun ia memiliki kekayaan yang berlimpah. Kekayaan itu ia dapat dari hasil usahanya. Ia mempunyai kebun berhektar-hektar, serta memiliki usaha perniagaan yang sangat sukses.

Di tengah kesederhanaan hidupnya, Nidzam Al-Mahmudi menjalani hidup dengan bahagia. Continue reading ‘Kaya Tapi Sederhana’

Dimarahi Orangtua

Saya sudah hampir lupa, kapan terakhir kali dimarahi orangtua. Mungkin SD, SMP, atau bahkan mungkin SMA. Entahlah, yang jelas sudah cukup lama.

Semakin kita besar, biasanya orangtua memang jadi jarang memarahi kita. Mungkin ini karena mereka merasa kita sudah cukup dewasa, sehingga sudah tidak layak jika masih dimarah-marahi seperti anak kecil.

Kebetulan kedua orangtua saya sangat permisif. Dan selama ini mereka —terlebih ayah saya cukup jarang marah kepada anak-anaknya, meskipun bukan berarti tidak pernah sama sekali. Continue reading ‘Dimarahi Orangtua’


Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,812 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Advertisements