Archive for the 'Sehari-hari' Category



Kak

Salah satu pembaca buku saya (perempuan) bertanya melalui e-mail, “Kak, gimana sih caranya supaya bisa rajin ngeblog? Supaya blog kita keisi terus?”

Jujur, pertanyaan itu membuat saya malu dan tersipu-sipu.

Pertama, karena saya dipanggil “Kak”.

Entah kenapa, sebutan itu sangat berkesan di benak saya. Mungkin bagi kalian biasa-biasa saja, tapi bagi saya tidak. Saat dipanggil “Kak”, rasanya saya jadi begitu hebat (kecuali kalau yang manggil Mas CumiLebay). Continue reading ‘Kak’

Terdesak

Selama ini mungkin Anda punya saudara, kerabat, atau teman yang punya kebiasaan seperti ini: saat kita sudah siap berangkat untuk suatu acara bepergian, saudara atau teman kita itu masih belum siap dan masih sibuk menyiapkan barang-barang yang akan ia bawa.

Akhirnya kita pun terpaksa menunggunya. Ada saja satu-dua barang yang tertinggal sehingga ia harus bolak-balik masuk ke rumah.

Umumnya kita akan merasa kesal, lantas menggerutu, “Kenapa nggak (disiapkan) dari tadi, sih?” Continue reading ‘Terdesak’

Akal Budi Lain

Saat sedang blogwalking, postingan yang sifatnya personal menjadi bacaan favorit saya. Misalnya cerita tentang keseharian, curahan hati, pekerjaan, dan sebagainya.

Bagi penulisnya, cerita-cerita seperti itu mungkin “nggak banget” dan “nggak penting”. Tapi bagi saya, justru sangat menarik. Dan percayalah, yang tidak penting itu sering kali memiliki penggemarnya tersendiri.

Dari membaca tulisan personal semacam itu, saya jadi tahu tentang berbagai macam kesan dan pengalaman si penulis. Juga tentang kebiasaan atau keseharian mereka yang berbeda dengan dunia saya.

Barangkali seperti ibu-ibu yang suka menonton acara infotainment. Continue reading ‘Akal Budi Lain’

Helm

Sepeda motor yang saya kendarai melaju dengan stabil. Saya memang sengaja menjaga kecepatan, tidak terlalu pelan, juga tidak terlalu kencang. Begitulah cara saya menikmati perjalanan.

Lagi pula saya memang tidak mau terburu-buru. Kita tahu, terburu-buru membuat kita jadi mudah melakukan kebodohan-kebodohan.

Jalanan yang saya lewati cukup ramai. Ada mobil barang, bus, truk berukuran sedang, dan ada pula truk gandeng. Maklum, itu adalah jalan lintas provinsi.

Tiba-tiba, sebuah sepeda motor sport menyalip saya, dinaiki oleh sepasang muda-mudi. Si perempuan berada di belakang, memegang erat pinggang lelaki di depannya dengan mesra. Continue reading ‘Helm’

Menjadi Penulis

Dalam halaman prakata di buku What The Dog Saw, Malcolm Gladwell bercerita dengan serius bahwa awalnya ia sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk menjadi seorang penulis. Hal ini tentu saja mengejutkan saya.

Bagaimana mungkin seseorang yang tidak pernah berkeinginan untuk menjadi menjadi penulis, di kemudian hari bisa menjadi seorang penulis yang sangat cemerlang?

Tapi, begitulah hidup.

Gladwell sebenarnya ingin menjadi seorang pengacara. Karena itulah menjelang lulus kuliah, ia melamar hingga ke delapan belas kantor pengacara. Dan kau tahu, semua kantor itu menolaknya. Continue reading ‘Menjadi Penulis’

Asertif

Ibu kos saya bekerja sebagai penjual gudeg. Setiap pagi setelah Shubuh, ia berangkat dengan sepeda motor tuanya menuju tempatnya berjualan. Seorang diri ia membawa gudeg, nasi, bubur, dan segala macam perkakas yang dibutuhkan.

Suatu pagi, saya tidak melihat ibu kos berangkat jualan. Sepeda motornya masih terparkir rapi di garasi. Sorenya, saya melihat beliau dalam keadaan murung, dan hal ini membuat saya penasaran.

Kebetulan malam itu saya mau menemuinya untuk membayar sewa kos. Kesempatan itu pun saya manfaatkan untuk menanyakan kabar beliau.

“Saya habis kena musibah, Mas,” kata si ibu dengan raut wajah sedih. Continue reading ‘Asertif’

Hati-Hati dan Waspada

Iseng-iseng buka FB, eh muncul status Yulia yang sedang mengeluh karena lingkungan rusun tempat tinggalnya di Batam sana rawan pencurian sepeda bermotor. Hampir setiap minggu ada saja sepeda motor yang hilang.

Saya jadi ingat, pagi harinya saya sempat menonton berita di televisi. Di situ diberitakan tentang maraknya kasus pembegalan. Korban-korban berjatuhan. Motor mereka raib dirampas oleh para pembegal.

Padahal, para korban itu adalah orang-orang kecil. Mereka sengaja membeli sepeda motor untuk menunjang kehidupan dan pekerjaan. Untuk membeli sepeda motor itu, mereka harus menyisihkan sebagian pendapatannya setiap bulan untuk membayar cicilan selama 2-4 tahun.

Duh…. Continue reading ‘Hati-Hati dan Waspada’

Harga Sebuah Kebersihan

Kereta yang akan saya naiki menuju Jogja baru berangkat pukul sembilan malam, sementara saya sudah tiba di stasiun Pasar Senen sebelum maghrib. Masih ada waktu beberapa jam lagi untuk bersantai. Daripada bengong, saya pun memutuskan untuk makan malam supaya di kereta nanti tidak perlu beli makan lagi.

Kebetulan, di dalam kompleks stasiun Pasar Senen ada Seven Eleven. Meskipun sudah sering mendengar cerita tentang gerai fenomenal itu, tapi saya sama sekali belum pernah memasukinya. Maka ketika kemarin saya masuk ke Sevel, saya merasa tingkat kegaulan saya jadi bertambah sekian persen.

Di dalam gerai itu, saya menemukan konter khusus makanan siap saji. Baru saja hendak mengambil nasi goreng kemasan, mata saya langsung terbelalak ketika melihat harganya.

Ya ampun, mahal bingits. Padahal porsinya cuma sedikit. Saya pun jadi sewot sendiri. Continue reading ‘Harga Sebuah Kebersihan’

Lagu Anak

Dalam suatu wawancara, Dhea Ananda dan mantan pacar saya –Leony– pernah ditanya, kenapa lagu-lagu anak saat ini sepertinya kok sulit sekali berkembang? Tidak bisa sepopuler dulu?

Dhea Ananda bilang bahwa hal itu dipengaruhi oleh jam tayang. Dan Leony pun mengiyakan.

Kita yang termasuk golongan anak ’90-an tentu tahu bahwa dulu televisi sering menayangkan lagu-lagu anak. Saat itu kita begitu hafal dengan lagu-lagu ceria yang dibawakan oleh Enno Lerian, Chiquita Meidy, Cindy Cenora, Maisy, dan tentu saja Trio Kwek-Kwek. Continue reading ‘Lagu Anak’

Dedikasi

Dalam perjalanan menuju Salatiga dari Yogyakarta, teman saya mengajak saya untuk sarapan di sebuah warung soto di daerah Jatinom, Klaten. Katanya, soto di sana enak, makanya hampir selalu ramai. Nama warungnya adalah Kartongali.

“Di sana tukang parkirnya lucu, Mas. Kamu pasti suka sama dia,” kata teman saya sambil terkekeh.

Mantap.

Mungkin tukang parkirnya adalah seorang gadis jelita. Kalau benar begitu, maka kehebohan di dunia maya bisa terjadi lagi, seperti pada kasus Nanik si tukang tambal ban cantik, atau Ninih si penjual gethuk berparas manis. Continue reading ‘Dedikasi’


Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,797 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter