Archive for the 'Sehari-hari' Category



Berhenti

Beberapa hari yang lalu, saya makan pagi bersama adik ini. Kami menjajal sebuah tempat makan khas Banjar yang cukup terkenal di sini, namanya Kindai.

Saya pesan soto banjar ketupat, sedangkan dia nasi kuning sambal goreng ati.

Soto banjarnya enak, tapi sayang agak manis. Dan yang lebih disayangkan lagi, porsinya sedikit.

Sebenarnya tadi ada pilihan soto banjar nasi, bukan ketupat seperti yang saya pesan. Tapi saya rasa porsi nasinya juga sedikit, tidak jauh berbeda dibanding dengan yang ketupat. Jadi kurang lebih sama. Makanya saya tidak pesan menu itu. Continue reading ‘Berhenti’

Karyawan yang Pas

Ada beberapa hal yang membuat saya pusing saat mulai membangun usaha kemarin. Di antaranya adalah mencari rumah untuk dijadikan kantor, menyiapkannya hingga menjadi tempat yang layak untuk bekerja, serta mencari karyawan.

Ternyata mencari rumah yang terjangkau di daerah yang tidak terlalu jauh dari kota luar biasa susah. Apalagi harga tanah/rumah di Yogyakarta ini terkenal mahal, bahkan konon lebih mahal daripada Bekasi dan Bogor.

Tapi beruntung, setelah berminggu-minggu mencari ke sana-kemari, sempat kecewa karena rumah yang diincar ternyata sudah laku, dan sempat sakit hati karena pinjaman yang saya ajukan tidak jadi lolos, akhirnya dapat juga rumah yang cocok. Continue reading ‘Karyawan yang Pas’

Bahagia

Beberapa hari yang lalu, saya mencicipi kwetiauw siram kuah seafood di Kopi TM, sebuah resto yang lagi ngehits di sini. Wow… rasanya enak. Saya merasa bahagia. Dan memang saya adalah tipe orang yang mudah bahagia oleh makanan.

Dua hari kemudian, gantian makan siang di warung mi ayam di dekat rumah. Saya pesan mi ayam bakso dengan kuah minim. Ternyata masakannya enak. Kembali saya merasa bahagia. Dan harganya… cuma Rp10.000. Jauh sekali dibanding kwetiau siram kuah seafood di Kopi TM.

Tidak pas sebenarnya membandingkan kedua tempat itu. Yang satu menggunakan bahan-bahan premium, dimasak oleh koki yang belajar memasak di sekolah memasak, dan tempat makannya sejuk, nyaman, bersih, serta didesain dengan mewah. Continue reading ‘Bahagia’

Resign

Per November 2016 yang lalu, saya resmi mengundurkan diri dari kantor. Sempat merasa sedih juga, karena saya bekerja di sana sudah sejak tahun 2010. Ada banyak hal yang saya lewati. Ada banyak pelajaran yang saya dapatkan.

Saya pergi, dengan membawa begitu banyak kenangan.

Bagaimanapun, berhenti bekerja di sana merupakan salah satu keputusan terbesar dalam hidup saya.

Selepas itu, apa yang saya lakukan? Continue reading ‘Resign’

Dunia Maya

Sudah cukup lama saya tidak memakai Twitter dan Facebook di ponsel. Saya terpaksa mencopotnya, karena ponsel saya tidak kuat, sudah lemah. Alhamdulillaah sekarang telepon pintar saya sudah lebih baik. Maka saya pun memasang lagi kedua media sosial itu.

Tapi begitu saya buka, saya kaget karena di dalamnya banyak berisi kemarahan, sindiran, yang seolah-olah tidak ada habisnya. Berlangsung selama berhari-hari, bahkan berminggu-minggu.

Sementara itu, beberapa hari yang lalu saya melewati pasar. Pelan-pelan mengendarai sepeda motor, dan menikmati suasana di sana secara khusus. Continue reading ‘Dunia Maya’

Perut yang Bisa Diandalkan

Pagi itu saya punya agenda mengunjungi teman akrab saya. Istrinya dan anak kembar mereka yang masih berusia 14 bulan, baru saja pindah ke Jogja. Sebelumnya mereka tinggal berjauhan. Teman saya di Jogja, sedangkan istri dan anak kembarnya di Majalengka.

Rumah teman saya terbilang jauh dari rumah saya. Perjalanan pastinya akan melelahkan. Karena itulah saya menyantap sarapan terlebih dahulu supaya tidak lemas.

Kebetulan selera makan saya pagi itu sedang bagus, dan lauk serta sayurnya pun enak. Jadi, pagi itu saya menikmati sarapan dalam porsi yang banyak. Continue reading ‘Perut yang Bisa Diandalkan’

Sepeda Motor

Dulu pada zaman kuliah, saat sedang berada di dalam bus kota, sesekali saya menjumpai truk tronton yang mengangkut puluhan sepeda motor.

Sembari memandangi barisan sepeda motor itu dari balik jendela bus kota, saya sering berkhayal, seandainya saya dikasih satuuuuuuuuuu saja, pasti saya akan sangat bahagia.

Sebuah khayalan yang konyol tentu saja. Orang gila mana yang mau ngasih saya sepeda motor secara cuma-cuma.

Tapi intinya, khayalan itu adalah cerminan tentang betapa besarnya keinginan saya untuk memiliki sepeda motor. Continue reading ‘Sepeda Motor’

Untuk Rowman

Pada masa awal SMA, saya agak bermasalah dalam mengikuti pelajaran.

Saat itu mata saya sudah minus, namun saya berkeras hati tidak mau memakai kacamata. Akibatnya, penjelasan guru yang disampaikan di papan tulis tidak bisa saya ikuti dengan baik. Tulisan-tulisan yang tertera di sana tidak jelas terbaca. Jadi saya hanya bisa mengandalkan pendengaran.

Kalau dilihat oleh guru, seolah-olah saya tampak tidak memperhatikan. Padahal, sebenarnya saya sedang berusaha menyimak dengan cara mendengarkan. Meski begitu, hasilnya tidak efektif.

Nilai-nilai ulangan saya pun hancur gara-gara masalah ini.

Pada masa sulit itu, teman sekelas saya, Dwi Nurohman ─yang sudah akrab dengan saya semenjak ospek, datang sebagai malaikat penyelamat. Continue reading ‘Untuk Rowman’

Kopi Darat Sama Kimi

Teman-teman tahu Kimi?

Iya, blogger narsis cerdas yang sangat akademis itu.

Beberapa hari yang lalu ia berkunjung ke Yogyakarta untuk suatu keperluan. Ia mengabari saya lewat Twitter. Padahal, ponsel saya sudah tidak terpasang aplikasi Twitter. Saya baru membaca pesan Kimi keesokan harinya saat sedang membuka e-mail.

Jadi kalau saat itu saya tidak membuka e-mail, saya akan terlambat tahu bahwa Kimi lagi di Jogja. Padahal, keesokan paginya ia sudah harus pulang ke habitatnya. Wah,tentu saya akan sangat menyesal jika tidak sempat kopi darat dengan blogger yang ngehits itu. Continue reading ‘Kopi Darat Sama Kimi’

Fokus

“You know, when you commit to something, you are gonna focus all your energy there. Like a dog with a bone.” (Lenore kepada Bryan Mills).

Itu adalah dialog yang ada dalam salah satu film favorit saya, Taken 2. Film aksi tersebut dibintangi oleh aktor kawakan Liam Neeson sebagai Bryan Mills, dan Famke Janssen sebagai Lenore.

Sebagai seorang (mantan) istri, Lenore tahu betul karakter Bryan. Menurut penilaiannya, pria itu selalu fokus terhadap apa pun yang sedang ia perjuangkan.

“When you give, it’s 100 percent of 100 percent,” lanjut Lenore, yang disambut senyum malu-malu Bryan. Continue reading ‘Fokus’


Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,797 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter