Archive for the 'Sehari-hari' Category

Ramen

Saya pernah menjajal ramen seharga Rp75.000 (ditraktir orang). Wow, rasanya enak!

Lain waktu, saat sedang hujan, saya menyantap Ind*mie rebus rasa ayam bawang yang dilengkapi telur. Wah, rasanya pun nikmat. Dahsyat.

Kalau kenikmatan dan rasa puas bisa diukur, saya rasa kedua hal di atas akan memperoleh angka yang sama. Kalau pun harus ada pemenangnya, maka pasti akan terjadi perdebatan yang sengit di antara para juri, yang kemudian akan dimenangkan oleh Ind*mie rasa ayam bawang plus telur, dengan selisih angka yang sangat tipis, dan akhirnya menjadi polemik hingga bertahun-tahun kemudian. Continue reading ‘Ramen’

Advertisements

Bukti

Teman saya pernah cerita, dulu ada seorang kawannya yang sering sekali “mengolok-oloknya” karena ia belum menikah. Teman saya itu, sebut saja Alfa, biasanya tidak terlalu menanggapinya. Ia hanya tersenyum tanpa membalasnya.

Tapi, lama-kelamaan, olok-olok itu semakin mengganggu, sebab semakin sering dilontarkan oleh sang teman. Akhirnya, Alfa pun merasa panas. Ia sempat berpikir untuk buru-buru mencari pasangan hidup, demi membuktikan diri kepada temannya itu, bahwa ia bukanlah pecundang dalam urusan membangun rumah tangga.

Tapi, rupanya Alfa masih bisa mendinginkan kepala. Continue reading ‘Bukti’

Tentang Menulis

Kita tahu, menulis merupakan kegiatan menuangkan pikiran, gagasan, atau imajinasi ke dalam tulisan. Jadi ketika kita kesulitan menulis, sering dikatakan bahwa itu berarti kita belum cakap dalam mengungkapkan pikiran kita. Tidak heran bila pada promo kelas-kelas menulis, selalu ditonjolkan tentang bagaimana menuangkan isi pikiran dengan lancar.

Tapi, semakin ke sini, saya semakin yakin bahwa masalahnya lebih dari itu.

Saat kita kesulitan menulis, maka kita perlu menjawab terlebih dahulu pertanyaan ini dengan jujur: apakah sebenarnya kita sudah punya pikiran atau gagasan yang siap untuk kita ungkapkan? Continue reading ‘Tentang Menulis’

Keramahan

Tiba-tiba saya ingat sesuatu.

Saat itu saya sedang berada di Malioboro, menunggu teman yang tengah membuat tato temporer di tangannya.

Tempat jasa pembuatan tato itu hanya menempati area kecil di emperan toko. Saking kecilnya, saya yang menunggu di situ jadi sedikit masuk ke area penjual aksesoris di sebelahnya. Continue reading ‘Keramahan’

Memainkan Ponsel di Lampu Merah

Beberapa hari terakhir ini saya sering melihat postingan foto surat tilang di media sosial.

Surat tilang itu tampak berbeda dari yang biasanya, bukan yang dibuat secara langsung di TKP oleh polisi. Rupanya itu adalah surat tilang yang dikirim lewat pos ke rumah si pelanggar.

Jadi konon sekarang banyak ruas jalan protokol yang dilengkapi dengan kamera tersembunyi (CCTV). Kamera itu bisa merekam pengendara yang melakukan pelanggaran lalu lintas. Rekaman atau foto itu nantinya akan dijadikan sebagai alat bukti untuk melengkapi surat tilang. Continue reading ‘Memainkan Ponsel di Lampu Merah’

Menulis di Ponsel

Meski tangannya mulai sulit digerakkan, tapi Putu Wijaya masih rajin menulis. Bukan di kertas, melainkan di ponsel pintarnya.

Putu memang terkenal keras dan disiplin. Tidak hanya kepada orang lain, tapi juga kepada dirinya sendiri. Tidak heran jika karya-karyanya begitu memikat dan memukau banyak orang. Continue reading ‘Menulis di Ponsel’

Bakar

Kalau diperhatikan, ada hal menarik dari orang-orang yang suka membakar sampah.

Sering kali mereka membakar sampah agak jauh dari rumahnya sendiri, tapi malah lebih dekat dengan rumah orang lain atau jalanan umum yang sering dilewati orang-orang.

**** Continue reading ‘Bakar’


Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,807 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Advertisements