Archive for the 'Resensi Buku' Category



[Resensi Buku] Cerita Pendek Tentang Cerita Cinta Pendek

Cerita Cinta_DjenarKembali saya meminjam buku kumpulan cerpen di perpustakaan kota, kali ini karya Djenar Maesa Ayu. Judulnya unik: Cerita Pendek Tentang Cerita Cinta Pendek.

Buku ini memuat 14 cerpen yang dibuat oleh Djenar sepanjang tahun 2004-2005. Seksualitas menjadi unsur yang menonjol dalam hampir semua cerpen itu.

Meski demikian, cerpen-cerpen itu tidak terkesan porno. Malahan tetap terasa indah, sebab dibalut dalam kata-kata yang memesona.

Saya jadi ingat, karya-karya Djenar sering disebut sebagai sastra wangi. Istilah itu merujuk pada karya sastra Indonesia yang ditulis oleh penulis perempuan, yang mana seksualitas menjadi tema dominan. Continue reading ‘[Resensi Buku] Cerita Pendek Tentang Cerita Cinta Pendek’

[Resensi Buku] Hidup Bukan Hanya Urusan Perut

Hidup Bukan Hanya Urusan PerutAda dua buku yang menarik minat saya saat mengunjungi perpustakaan kota beberapa hari yang lalu. Sayangnya, saya cuma boleh meminjam satu buku, sebab masih ada satu buku yang belum saya kembalikan, sementara setiap anggota perpustakaan hanya boleh meminjam maksimal dua buku.

Nah, dua buku yang menarik minat saya itu adalah novel karya Tere Liye dan buku nonfiksi karya Prie GS.

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya saya memutuskan untuk memilih buku yang kedua, sebab sebelum-sebelumnya sudah cukup banyak buku fiksi yang saya baca.

Ya, kali ini saya ingin mencari suasana baru dengan membaca buku nonfiksi.

Buku ini berisi kolom-kolom mingguan Prie GS di tiga media, yakni tabloid keluarga Cempaka, Suara Merdeka Cyber News, dan website Andriewongso dot com. Ada 55 tulisan yang termuat dalam buku ini, dan saya suka semuanya. Continue reading ‘[Resensi Buku] Hidup Bukan Hanya Urusan Perut’

[Resensi Buku] Smokol

Smokol_Akhir-akhir ini saya lagi suka baca cerpen sastra. Maka ketika melihat buku Smokol: Kumpulan Cerpen Kompas tahun 2008 ini di perpustakaan kota, saya pun langsung meminjamnya.

Buku ini berisi lima belas cerpen pilihan yang pernah dimuat di harian Kompas sepanjang tahun 2008. Dipilih oleh dua juri yang merupakan orang luar redaksi Kompas, yakni Rocky Gerung (pengajar filsafat di UI) dan Linda Christanty (peraih Khatulistiwa Literary Award 2004).

Cerpen-cerpen itu ditulis oleh para sastrawan yang sudah tidak asing lagi namanya di telinga kita, sebut saja misalnya Agus Noor, Ayu Utami, Damhuri Muhammad, Ratih Kumala, Beni Setia, dan Puthut EA.

Di antara kelima belas cerpen itu, para juri memilih satu cerpen terbaik, dan yang terpilih adalah Smokol karya Nukila Amal. Cerpen terbaik itu pun diberi kehormatan untuk menjadi judul utama buku ini. Continue reading ‘[Resensi Buku] Smokol’

[Resensi Buku] Sepotong Hati yang Baru

coverJujur, sejauh ini tidak banyak buku yang benar-benar bisa membuat saya puas. Dari yang sedikit itu, buku ini merupakan salah satunya.

Setelah tuntas membacanya beberapa hari yang lalu pada suatu malam yang sunyi, rasanya saya ingin terus memeluknya sampai pagi.

Buku ini berisi kumpulan cerita, dan masing-masing cerita tidak memiliki hubungan sama sekali. Ada delapan cerita pendek yang termuat di sini, dan saya suka semuanya. Continue reading ‘[Resensi Buku] Sepotong Hati yang Baru’

[Resensi Buku] Karni Ilyas – Lahir untuk Berita

karni-ilyas-lahir-untuk-beritaJujur, sebelumnya saya tidak tahu banyak tentang sosok Karni Ilyas. Saya hanya tahu bahwa ia adalah pembawa acara Indonesia Lawyers Club.

Tak saya sangka, rupanya ia seorang legenda di dunia jurnalistik. Saya baru mengetahuinya setelah membaca buku ini.

Karni Ilyas melewati masa kecilnya dengan cukup berat. Ibunya meninggal dunia saat usia Karni baru 8 tahun. Jadi, bisa dibilang ia sudah mandiri pada usia yang masih belia. Continue reading ‘[Resensi Buku] Karni Ilyas – Lahir untuk Berita’

[Resensi Buku] Putri Cina

Putri CinaPemerintah ―kita tahu, menganjurkan agar penggunaan kata “Cina” di negeri ini diganti dengan kata “Tiongkok”. Namun, dalam membuat catatan ini, saya kesulitan menyatakan isi pikiran jika kata “Cina” diganti dengan sebutan itu. Nilai rasanya berbeda. Jadi, kali ini saya sengaja tidak mengikuti anjuran tersebut.

Semoga saya tidak masuk penjara.

Buku ini mengangkat tokoh Putri Cina ―sesuai dengan judulnya. Namun, jangan bayangkan Putri Cina tersebut merupakan tokoh tunggal. Dalam buku ini, bisa dibilang ia merupakan entitas dari nenek moyang orang-orang Cina di tanah Jawa.

Betapa kaya pengetahuan Sindhunata tentang mitos dan filsafat, baik Jawa maupun Tiongkok. Ia memasukkan babad dan sejarah ke dalam buku ini, lantas menjalinnya sedemikian rupa hingga membentuk cerita sastra yang sangat memesona. Continue reading ‘[Resensi Buku] Putri Cina’

[Resensi Buku] Tak Enteni Keplokmu – Tanpa Bunga dan Telegram Duka

Tak Enteni KeplokmuBulan ini saya tuntas membaca dua buku karya Sindhunata. Buku yang pertama berjudul Putri Cina, sementara yang kedua Tak Enteni Keplokmu-Tanpa Bunga dan Telegram Duka.

Kali ini saya akan meresensi buku yang saya sebut terakhir, sebab buku itulah yang terbit lebih dahulu dibanding Putri Cina.

Kalau ditanya buku ini bercerita tentang apa, terus terang saya bingung menjawabnya. Berbeda dengan tulisan-tulisan nonfiksi Sindhunata yang terang benderang, tulisan fiksi beliau di buku ini sulit digambarkan kembali ―meskipun sama-sama memikat.

Sederhananya, buku ini bisa dibilang sebuah hasil imajinasi dan kreasi Sindhunata terhadap tiga lukisan Djokopekik. Adapun Djokopekik adalah seorang pelukis senior yang terkenal kritis terhadap situasi politik di negeri ini. Continue reading ‘[Resensi Buku] Tak Enteni Keplokmu – Tanpa Bunga dan Telegram Duka’


Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,793 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter