Archive for the 'Cerita dan Ulasan' Category

Pengalaman Membuat Kartu Kredit BCA

Domain blog ini akan segera habis masa berlakunya, tapi tidak bisa saya perpanjang karena pembayarannya harus menggunakan kartu kredit. Biasanya saya memakai kartu kredit virtual dari BNI, tapi entah kenapa tahun ini tidak bisa.

Karena batas waktu tinggal beberapa hari, sedangkan membuat kartu kredit membutuhkan waktu lama, maka saya pun meminjam kartu kredit teman saya. Tentu saja saya merasa tidak enak, karena bagaimanapun kartu kredit adalah milik pribadi yang tidak baik jika datanya dibagi ke orang lain. Maka setelah urusan ini selesai, saya pun bertekad untuk membuat kartu kredit.

BCA menjadi bank pilihan saya untuk membuat kartu kredit, sebab saya merupakan pengguna aktif rekening BCA. Saya segera mendatangi kantor cabang BCA di lokasi saya untuk menemui sales kartu kredit yang sering berkeliling dan melakukan penawaran di sana. Saya sengaja tidak melakukan pendaftaran online, hitung-hitung untuk membantu sang sales dalam mencapai target kerja. Continue reading ‘Pengalaman Membuat Kartu Kredit BCA’

Hal Penting Dalam Menulis Cerita Anak

“Show, don’t tell.”

Demikianlah nasihat yang sering saya baca dalam berbagai literatur tentang bagaimana cara menulis (cerita) yang baik. Dalam pelatihan-pelatihan menulis yang saya ikuti pun, nasihat itu sering saya dengar.

Dan kalau saya perhatikan, tulisan yang bisa “mempertunjukkan” tanpa sekadar “memberitahukan” memang terasa lebih hidup.

Misalnya, coba kita baca paragraf berikut ini:

“Malam itu Yoga harus melewati jalan yang seram. Di tengah jalan, ia seperti mendengar suara langkah kaki. Ia pun berlari kencang agar segera sampai di rumah.”

Bisa kita revisi menjadi seperti ini: Continue reading ‘Hal Penting Dalam Menulis Cerita Anak’

Bahagia

Beberapa hari yang lalu, saya mencicipi kwetiauw siram kuah seafood di Kopi TM, sebuah resto yang lagi ngehits di sini. Wow… rasanya enak. Saya merasa bahagia. Dan memang saya adalah tipe orang yang mudah bahagia oleh makanan.

Dua hari kemudian, gantian makan siang di warung mi ayam di dekat rumah. Saya pesan mi ayam bakso dengan kuah minim. Ternyata masakannya enak. Kembali saya merasa bahagia. Dan harganya… cuma Rp10.000. Jauh sekali dibanding kwetiau siram kuah seafood di Kopi TM.

Tidak pas sebenarnya membandingkan kedua tempat itu. Yang satu menggunakan bahan-bahan premium, dimasak oleh koki yang belajar memasak di sekolah memasak, dan tempat makannya sejuk, nyaman, bersih, serta didesain dengan mewah. Continue reading ‘Bahagia’

Fokus

“You know, when you commit to something, you are gonna focus all your energy there. Like a dog with a bone.” (Lenore kepada Bryan Mills).

Itu adalah dialog yang ada dalam salah satu film favorit saya, Taken 2. Film aksi tersebut dibintangi oleh aktor kawakan Liam Neeson sebagai Bryan Mills, dan Famke Janssen sebagai Lenore.

Sebagai seorang (mantan) istri, Lenore tahu betul karakter Bryan. Menurut penilaiannya, pria itu selalu fokus terhadap apa pun yang sedang ia perjuangkan.

“When you give, it’s 100 percent of 100 percent,” lanjut Lenore, yang disambut senyum malu-malu Bryan. Continue reading ‘Fokus’

Istri yang Pas

Tahun 2006, seorang penulis yang tidak banyak dikenal mendadak meramaikan dunia kesusastraan. Dialah Ben Fountain. Ia menulis kumpulan cerpen yang diberinya judul Brief Encounters with Che Guevara.

Karyanya itu menuai banyak pujian. Times Book Review menyebutnya “menyentuh hati”. Buku tersebut kemudian memenangkan penghargaan Hemingway Foundation/PEN dan menjadi No. 1 Book Sense Pick.

Tidak berhenti sampai di situ, Brief Encounters with Che Guevara juga dianggap sebagai salah satu buku terbaik pada tahun terbitnya oleh Chronicle San Francisco, Tribune Chicago, dan Kirkus Reviews. Buku itu pun masuk dalam daftar buku laris regional. Continue reading ‘Istri yang Pas’

Asertif

Ibu kos saya bekerja sebagai penjual gudeg. Setiap pagi setelah Shubuh, ia berangkat dengan sepeda motor tuanya menuju tempatnya berjualan. Seorang diri ia membawa gudeg, nasi, bubur, dan segala macam perkakas yang dibutuhkan.

Suatu pagi, saya tidak melihat ibu kos berangkat jualan. Sepeda motornya masih terparkir rapi di garasi. Sorenya, saya melihat beliau dalam keadaan murung, dan hal ini membuat saya penasaran.

Kebetulan malam itu saya mau menemuinya untuk membayar sewa kos. Kesempatan itu pun saya manfaatkan untuk menanyakan kabar beliau.

“Saya habis kena musibah, Mas,” kata si ibu dengan raut wajah sedih. Continue reading ‘Asertif’

Merusak Rasa

Saat itu saya masih SMP, baru saja pindah ke Jogja dari negeri antah berantah bernama Bekasi. Pada jam istirahat, tiga teman sekelas mengajak saya ke sebuah warung soto di luar sekolah. Kata mereka, nasi soto di sana enak dan murah meriah.

Benar saja, harganya memang murah, cuma lima ratus rupiah untuk semangkuk nasi soto panas, komplet dengan suwiran ayam.

Dalam waktu singkat, pesanan kami diantarkan oleh ibu penjaga warung. Empat mangkuk nasi soto yang masih mengepul terhidang di hadapan kami. Sebelum melahapnya, saya khusyuk memejamkan mata sambil menghirup dalam-dalam aroma nasi soto itu.

Hmmm… wanginya membangkitkan selera. Continue reading ‘Merusak Rasa’


Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,793 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter