Untuk Rowman

Pada masa awal SMA, saya agak bermasalah dalam mengikuti pelajaran.

Saat itu mata saya sudah minus, namun saya berkeras hati tidak mau memakai kacamata. Akibatnya, penjelasan guru yang disampaikan di papan tulis tidak bisa saya ikuti dengan baik. Tulisan-tulisan yang tertera di sana tidak jelas terbaca. Jadi saya hanya bisa mengandalkan pendengaran.

Kalau dilihat oleh guru, seolah-olah saya tampak tidak memperhatikan. Padahal, sebenarnya saya sedang berusaha menyimak dengan cara mendengarkan. Meski begitu, hasilnya tidak efektif.

Nilai-nilai ulangan saya pun hancur gara-gara masalah ini.

Pada masa sulit itu, teman sekelas saya, Dwi Nurohman ─yang sudah akrab dengan saya semenjak ospek, datang sebagai malaikat penyelamat. Continue reading ‘Untuk Rowman’

Kopi Darat Sama Kimi

Teman-teman tahu Kimi?

Iya, blogger narsis cerdas yang sangat akademis itu.

Beberapa hari yang lalu ia berkunjung ke Yogyakarta untuk suatu keperluan. Ia mengabari saya lewat Twitter. Padahal, ponsel saya sudah tidak terpasang aplikasi Twitter. Saya baru membaca pesan Kimi keesokan harinya saat sedang membuka e-mail.

Jadi kalau saat itu saya tidak membuka e-mail, saya akan terlambat tahu bahwa Kimi lagi di Jogja. Padahal, keesokan paginya ia sudah harus pulang ke habitatnya. Wah,tentu saya akan sangat menyesal jika tidak sempat kopi darat dengan blogger yang ngehits itu. Continue reading ‘Kopi Darat Sama Kimi’

[Cerpen] Pawang Hujan

Aku mencangkung di teras rumah sambil memandang bangunan besar itu dengan takjub. Semakin lama bangunan itu semakin besar saja. Ia mulai terlihat angkuh. Puluhan atau bahkan mungkin ratusan pekerja menyemutinya. Kau tahu, bangunan itu berhiaskan peluh dari para pekerja. Dan mungkin juga darah dan nyawa.

Angin menerbangkan debu-debu dari gedung raksasa itu ke segala arah. Lingkungan penduduk jadi penuh debu, termasuk rumahku. Dalam sehari, Ibu harus menyapu rumah puluhan kali. Pintu dan jendela juga harus selalu ditutup supaya debu-debu kasar tidak masuk ke rumah.

Aku mulai sadar, sudah beberapa bulan terakhir ini hujan tidak turun. Kemarau terasa lebih panjang dari biasanya. Continue reading ‘[Cerpen] Pawang Hujan’

[Resensi Buku] Parasit Lajang

Si Parasit LajangIni adalah buku karya Ayu Utami yang baru pertama kali saya baca. Sebelumnya saya baru baca tulisan-tulisannya di media massa atau internet.

Saat itu saya merasa tulisan Ayu bagus sekali. Maka kemudian saya pun berniat untuk membaca buku-bukunya. Dan baru sekarang niat itu kesampaian. Itu pun tidak disengaja.

Minggu lalu saya berkunjung ke perpustakaan. Seperti biasanya, rak yang saya datangi terlebih dahulu adalah rak buku-buku kesusastraan. Dan secara kebetulan, saya menemukan buku ini di sana. Lalu tanpa mencari-cari buku lainnya lagi, saya pun langsung mengambil buku ini, lalu meminjamnya dan membawanya pulang.

Buku ini berisi tulisan-tulisan pendek Ayu Utami yang disatukan dengan benang merah tema pernikahan. Jumlahnya 48 tulisan, termasuk prolog dan epilog. Sejumlah tulisan telah dimuat di beberapa media, yakni majalah djakarta!, majalah Jakarta-jakarta, dan Sindo. Continue reading ‘[Resensi Buku] Parasit Lajang’

Berani

Lelaki itu memejamkan mata dengan khusyuk, lalu menghirup dalam-dalam harum melati yang menguar dari cangkirnya. Senyumnya mengembang, tampak puas. Setelah dirasa cukup, ia pun menyeruput teh hangat itu pelan-pelan, penuh perasaan.

Terlihat sangat nikmat.

Perempuan di hadapannya menahan tawa. Meski sudah hafal betul dengan kebiasaan sahabat baiknya itu, tapi tetap saja pemandangan itu baginya begitu lucu. Continue reading ‘Berani’

Fokus

“You know, when you commit to something, you are gonna focus all your energy there. Like a dog with a bone.” (Lenore kepada Bryan Mills).

Itu adalah dialog yang ada dalam salah satu film favorit saya, Taken 2. Film aksi tersebut dibintangi oleh aktor kawakan Liam Neeson sebagai Bryan Mills, dan Famke Janssen sebagai Lenore.

Sebagai seorang (mantan) istri, Lenore tahu betul karakter Bryan. Menurut penilaiannya, pria itu selalu fokus terhadap apa pun yang sedang ia perjuangkan.

“When you give, it’s 100 percent of 100 percent,” lanjut Lenore, yang disambut senyum malu-malu Bryan. Continue reading ‘Fokus’

Kak

Salah satu pembaca buku saya (perempuan) bertanya melalui e-mail, “Kak, gimana sih caranya supaya bisa rajin ngeblog? Supaya blog kita keisi terus?”

Jujur, pertanyaan itu membuat saya malu dan tersipu-sipu.

Pertama, karena saya dipanggil “Kak”.

Entah kenapa, sebutan itu sangat berkesan di benak saya. Mungkin bagi kalian biasa-biasa saja, tapi bagi saya tidak. Saat dipanggil “Kak”, rasanya saya jadi begitu hebat (kecuali kalau yang manggil Mas CumiLebay). Continue reading ‘Kak’


Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,973 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,973 other followers