IG

Instagram (IG) saat ini telah menjadi aplikasi yang sangat populer di Indonesia. Di lingkungan saya sendiri, mungkin hanya beberapa orang saja yang tidak punya IG, termasuk saya.

Beberapa teman bertanya-tanya kenapa saya tidak punya IG. “Pasti karena alasan filosofis, ya? Atau karena keyakinan agama?” begitu tebak mereka.

Tentu saja saya hanya tertawa. Dengan setengah bercanda, saya sampaikan kepada mereka bahwa saya takut iri hati dan menjadi dengki bila melihat postingan-postingan di IG.

Sesekali saya memang bermain IG, tapi lewat akun istri saya yang terpasang di ponselnya. Sependek yang saya tahu, postingan-postingan di IG memang penuh dengan hal yang memukau. Misalnya foto-foto liburan para artis, rumah baru si ini, mobil baru si itu, dan hal-hal lain yang sebenarnya merupakan sebuah kabar bahagia.

Masalahnya, kadang-kadang ada kondisi yang membuat saya tidak siap menyaksikan hal itu, dan akhirnya malah mengundang rasa iri atau bahkan tanggapan julid. Terlebih jika saya tahu apa yang ditampilkan di IG jauh dengan kenyataan.

Misalnya, ada satu orang yang cukup saya kenal, kerap menampilkan sesuatu di IG yang saya tahu benar bahwa itu tidak sesuai dengan kenyataan.

Pernah juga seorang kawan misuh-misuh melihat temannya yang memposting foto liburan di sebuah kepulauan nun jauh di sana, padahal sang teman itu masih memiliki utang di mana-mana.

Nah, sebenarnya alasan sesungguhnya kenapa saya tidak mendaftar IG adalah karena khawatir waktu saya tersita untuk bermain aplikasi itu sehingga menjadi tidak produktif.

Saya khawatir kewajiban-kewajiban saya terbengkalai karena keasyikan bermain IG, sebab saya tahu bermain IG memang sangat mengasyikkan.

Hal ini berkaca pada pengalaman saya dengan Twitter. Saat sedang bekerja, saya sering sekali membuka Twitter, dengan dalih hanya sebentar sambil menunggu sesuatu, misalnya menunggu program yang sedang loading.

Sayangnya, begitu Twitter terbuka, tahu-tahu sudah 15 menit saya memainkannya. Bahkan kadang-kadang bisa lebih, apalagi kalau ada sesuatu yang menarik atau ada yang sedang viral.

Itu baru Twitter, lalu bagaimana kalau sampai saya punya IG?

Itulah kekhawatiran saya.

Tak disangka, belakangan ini pekerjaan malah menuntut saya untuk memiliki IG, sebutlah untuk mempelajari tren serta mengamati kompetitor. Maka mau tidak mau saya pun mendaftar IG. Tapi, saya tidak mem-follow teman-teman di lingkungan saya.

Jadi benar-benar murni untuk pekerjaan.

4 Responses to “IG”


  1. 1 Alvi Alevi January 18, 2021 at 9:31 pm

    Kirain udah lupa password login blog bro. Wkwkw..

  2. 2 Vicky Laurentina February 6, 2021 at 11:21 am

    Beda pengalaman sama aku. Aku justru jarang lihat hal-hal yang indah-indah di IG. Mungkin karena timeline IG-ku isinya adalah temen-temenku sendiri dengan kehidupan mereka.

    Aku sebetulnya setting timeline IG-ku hanya berisi temen-temen yang sering berinteraksi denganku (misalnya sering sapa-menyapa via direct messages). Sedangkan temen-temen yang aku follow tanpa berinteraksi, selalu aku mute. Sehingga aku jarang lihat postingan temen-temen yang nggak berinteraksi denganku.

    Memang ada satu-dua yang posting unreality stuffs, misalnya posting seolah dirinya lagi cakep padahal aslinya mukanya lagi jerawatan berat. Tapi tidak banyak, dan aku tidak memikirkan mereka sampai segitunya.

  3. 3 warm February 14, 2021 at 8:27 pm

    keren sekali tidak punya akun IG pribadi, anda termasuk jenis manusia langka yg keren, mas


  1. 1 Tukar Link Yuk?! – Alvi Punya Cerita Trackback on January 18, 2021 at 9:38 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,796 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter


%d bloggers like this: