Flashdisk Hijau

Minggu ini Jogja sudah mulai ramai oleh mahasiswa baru. Pemuda-pemudi yang penuh semangat tampak berseliweran di sekitar kampus. Ingatan saya pun terlempar pada kenangan saat menjadi mahasiswa baru dulu.

Mungkin seperti halnya banyak mahasiswa baru, saya cukup kaget saat pertama kali memasuki dunia perkuliahan. Salah satunya adalah banyaknya tugas makalah yang harus ditulis. Sesuatu yang sangat jarang saya alami saat masih SMA.

Saya harus beradaptasi dengan cepat. Salah satu kendalanya adalah saya tidak punya komputer yang bisa digunakan untuk mengetik. Tapi ternyata itu perkara yang mudah diatasi.

Di kampus, ada laboratorium komputer yang bisa saya gunakan secara gratis. Tapi, di sana kurang nyaman, sebab waktunya sangat terbatas, harus bergantian dengan pengguna lain. Selebihnya, saya bisa mengetik di rental komputer.

Untuk menyimpan data yang diketik, saya membutuhkan flashdisk. Saat itu flashdisk masih berupa barang mahal, dan tidak terjangkau dengan uang saku saya. Tapi saya membutuhkannya. Beruntung, ada orang baik yang membantu.

“Ini… buat beli apa yang kamu butuhin. Kalau ngga, buat ditabung,” katanya, seraya menyodorkan sejumlah uang.

Segera saja uang itu saya pakai untuk membeli sebuah flashdisk. Bentuknya elips dilapisi karet berwarna hijau. Sangat keren. Kapasitasnya 128 MB. Itulah flashdisk pertama saya.

Flashdisk hijau lantas menjadi salah satu barang kesayangan saya. Keberadaannya begitu penting. Satu per satu tugas kuliah, saya selesaikan dan saya simpan di sana. Tidak ada tempat lain yang bisa saya gunakan untuk menyimpan data selain flashdisk hijau tersebut.

Seperti merasa tugasnya sudah selesai, setelah skripsi tuntas dan saya dinyatakan lulus, flashdisk hijau menghilang entah ke mana. Saya cari ke mana-mana tidak ketemu. Entah saya lupa menyimpannya atau bagaimana, yang jelas flashdisk itu sudah tidak ada.

Sedih, tapi saya harus mengikhlaskannya.

Saya sangat berterima kasih kepada orang baik yang telah membantu saya memiliki flashdisk hijau itu. Mungkin beliau sudah lupa. Tapi saya masih ingat, dan akan selalu ingat.

Namanya saja orang baik, tentu tidak cuma satu-dua kali beliau melakukan kebaikan. Bertandang ke rumahnya selalu menjadi kesempatan bagi saya untuk menikmati cokelat atau es krim yang tersimpan di kulkasnya.

“Sana, ambil sendiri di kulkas,” ujarnya sambil terkekeh.

Kabar duka selalu datang mendadak.

Tadi malam, orang baik itu telah berpulang, dan rupanya saya tidak sanggup untuk membuat catatan tentangnya.

Selamat jalan, Bude Reni….

Advertisements

2 Responses to “Flashdisk Hijau”


  1. 1 Vicky Laurentina August 23, 2019 at 5:08 pm

    Itu tanteku yang kamu bicarakan. 😦


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,790 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Advertisements

%d bloggers like this: