Pengalaman Membuat Kartu Kredit BCA

Domain blog ini akan segera habis masa berlakunya, tapi tidak bisa saya perpanjang karena pembayarannya harus menggunakan kartu kredit. Biasanya saya memakai kartu kredit virtual dari BNI, tapi entah kenapa tahun ini tidak bisa.

Karena batas waktu tinggal beberapa hari, sedangkan membuat kartu kredit membutuhkan waktu lama, maka saya pun meminjam kartu kredit teman saya. Tentu saja saya merasa tidak enak, karena bagaimanapun kartu kredit adalah milik pribadi yang tidak baik jika datanya dibagi ke orang lain. Maka setelah urusan ini selesai, saya pun bertekad untuk membuat kartu kredit.

BCA menjadi bank pilihan saya untuk membuat kartu kredit, sebab saya merupakan pengguna aktif rekening BCA. Saya segera mendatangi kantor cabang BCA di lokasi saya untuk menemui sales kartu kredit yang sering berkeliling dan melakukan penawaran di sana. Saya sengaja tidak melakukan pendaftaran online, hitung-hitung untuk membantu sang sales dalam mencapai target kerja.

Saya dibantu mengisi formulir pengajuan kartu kredit tersebut oleh sang sales, dan saya cukup menunjukkan KTP dan kartu NPWP untuk ia foto. Saya juga diminta nomor telepon saudara saya beda rumah yang akan dihubungi oleh mereka untuk konfirmasi.

Total waktu yang saya habiskan di sana tidak sampai 10 menit, dan setelah itu saya pulang. Sang sales mengabarkan bahwa dalam beberapa hari ke depan saya akan dihubungi oleh analis dari pusat.

Benar saja, tidak sampai seminggu, saya dihubungi oleh sang analis. Pertanyaannya sederhana, sekadar konfirmasi data yang tertulis di formulir pengajuan.

Beberapa hari kemudian saya dihubungi oleh analis yang berbeda dengan pertanyaan yang sama. Jadi saya dihubungi 2 kali oleh analis dari pusat. Saudara saya beda rumah dihubungi juga, tapi saya kurang tahu apa saja yang ditanyakan.

Setelah itu tidak ada kabar lagi, hampir 3 minggu. Tadinya saya berniat untuk membuat kartu kredit di bank lain saja. Tapi untung saja tidak jadi, karena keesokan harinya ada surel yang mengabarkan bahwa pengajuan kartu kredit saya disetujui.

Tiga hari kemudian, kartu kredit BCA saya pun datang. Saya dapat 2 kartu, yakni BCA Everyday Card dengan annual fee Rp125.000 per tahun (gratis pada tahun pertama), dan BCA Mastercard Platinum dengan annual fee Rp125.000 per tahun (gratis pada tahun pertama).

Sebenarnya saya hanya membutuhkan kartu yang ada logo Mastercard-nya agar bisa diterima oleh sistem pembayaran internasional (misalnya memperpanjang domain dari wordpress ini). Tapi, ternyata tidak bisa, sebab wajib membuat BCA Everyday Card (yang tidak ada logo Mastercard-nya) sebagai kartu utama.

Jadi terpaksa saya membuat dua kartu. Bayar biaya tahunannya pun nantinya akan jadi dobel juga.

Tapi tidak apa-apa, yang BCA Mastercard bisa saya bawa, sedangkan yang BCA Everyday Card bisa dibawa oleh istri untuk keperluan belanja atau membeli bensin.

Belum apa-apa, saya sudah terpikir untuk menutup kartu kredit ini, sebab ternyata tidak terlalu berguna bagi saya. Kalau mau belanja di minimarket atau supermarket, ada jumlah minimal transaksi, yakni Rp100.000. Padahal biasanya saya hanya belanja di pasar tradisional. Sesekali di minimarket juga, tapi tidak sampai Rp100.000.

Begitu pula saat membeli bensin, hanya bisa saya gunakan untuk mengisi bensin mobil karena adanya jumlah minimal transaksi. Apalagi pom bensin di dekat rumah saya hanya melayani cash, tidak bisa pakai kartu. Jadi harus mencari pom bensin lain.

Sebenarnya selama ini saya sudah cukup nyaman pakai kartu debit, sebab tidak ada jumlah minimal belanja. Sayangnya memang ada hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh kartu debit, dan hanya bisa dilakukan oleh kartu kredit.

Yah, saya jalani dulu saja. Toh selama ini banyak juga promo-promo yang ditawarkan oleh kartu kredit. Bila ada yang cocok dan sesuai dengan kebutuhan, tentu akan saya pakai.

Tapi jika manfaat yang saya terima tidak sebanding dengan biaya tahunan yang harus saya keluarkan, maka saya tidak akan ragu-ragu untuk menutupnya. Paling tidak saya sudah merasakan bagaimana memiliki dan menggunakan kartu kredit.

Lalu bagaimana dong jika harus memperpanjang domain blog ini?

Yah, mungkin ke depan bakal ada cara lain, misal pakai Jenius Connect. Tapi kalaupun tidak bisa, tidak apa-apa deh jika tidak pakai domain ini lagi. Toh ini hanya sekadar blog pribadi yang tidak saya monetisasi.

Yang jelas saya tidak mau didikte oleh kartu kredit ini. Saya hanya memakainya sebagai alat pembayaran saja, bukan sebagai alat untuk berutang.

Advertisements

2 Responses to “Pengalaman Membuat Kartu Kredit BCA”


  1. 1 Andri August 1, 2019 at 1:15 pm

    Bener Bung.. kartu kredit klo ga hati2 bisa merongrong..belum lagi bunga nya..

  2. 2 Emaknya Benjamin br. Silaen August 1, 2019 at 3:02 pm

    Bisa pakai bantuan/jasa lovingindonesia.com https://lovingindonesia.com/layanan-jasa/pembayaran-online/ . Waktu beli theme blog premium saya pakai jasa LI juga. Sudah lama dikenal para bloger Indo yg mau perpanjang domain ini dari forum: https://id.forums.wordpress.com/topic/bagi-yang-kebingungan-beli-domain-untuk-blog-nya/


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,789 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Advertisements

%d bloggers like this: