[Baca Buku] Filosofi Teras

Secara judul, mungkin buku ini hanya menarik bagi akademisi filsafat atau siapa pun yang berminat dengan bidang ilmu itu. Tapi, melihat konsep buku ini, sepertinya Filosofi Teras ditujukan untuk umum, khususnya kaum milenial. Hal itu tecermin dari desain kovernya yang cenderung populer dan komikal, serta subjudulnya yang bertuliskan “Filsafat Yunani-Romawi Kuno Untuk Mental Tangguh Masa Kini”.

Tidak mudah membawa tema berat ke tengah-tengah para pembaca buku populer yang barangkali lebih senang bacaan yang ringan dan pendek. Berhasilkah buku ini memenuhi tujuannya?

Kebetulan saya bekerja di dunia buku, dan mendapat informasi tentang angka penjualan buku ini dari sumber yang sangat tepercaya. Cukup mengejutkan, tingkat penjualan buku ini secara nasional sangat fantastis.

Penulisnya juga sempat mengabarkan via Twitter bahwa buku ini telah dicetak ulang. Dan di beberapa toko buku besar yang saya kunjungi, Filosofi Teras sering masuk 5 besar dari Top 10 untuk kategori self improvement.

Secara konsep, buku ini bisa dibilang berhasil. Lalu bagaimana dengan isinya? Apakah bisa sebuah teori filsafat kuno dibawa ke dalam kehidupan generasi milenial dan Gen-Z masa kini? Kalau pun bisa, apakah tetap menarik?

Setelah membaca buku ini, dengan yakin saya menjawab: bisa, dan tetap menarik.

Mungkin banyak yang berpikir bawah filsafat terlalu mengawang-awang. Tapi, sebenarnya tidak juga. Coba simak tulisan yang tertera di kover belakang buku Filosofi Teras berikut ini.

Apakah kamu sering….: merasa khawatir akan banyak hal? Baperan? Susah move on? Mudah tersinggung? Dan marah-marah di social media maupun dunia nyata?

Ya, itu adalah masalah yang barangkali sering dialami oleh banyak orang saat ini, dan sangat dekat dengan kehidupan kita sehari. Di dalam buku ini, semua masalah itu bisa diatasi (atau setidaknya dilihat dengan sudut pandang baru) dengan menggunakan sebuah teori filsafat bernama Stoisisme. Jadi dalam hal ini Stoisisme sangat praktikal.

Sang penulis menjelaskan Stoisisme dengan bahasa yang sederhana, renyah, dan mudah dipahami. Lalu kenapa si penulis menyebutnya filosofi teras? Hal itu dijelaskan juga di dalam buku ini.

Singkatnya kira-kira begini: seseorang bernama Zeno sering mengajarkan filosofinya di sebuah teras berpilar (dalam bahasa Yunani disebut dengan stoa) di kota Athena. Para pengikutnya kemudian disebut dengan kaum Stoa. Oom Henry Manampiring si penulis buku ini mendapati ada banyak orang yang kesulitan membaca atau mengucapkan Stoisisme. Maka dari itu, ia pun menyebut teori ini dengan Filsafat Teras, selain juga merupakan terjemahan langsung dari kata stoa.

Lalu, filosofi teras itu apa sih?

Sebelumnya, apakah Anda pernah mendengar prinsip 90/10 dari Stephen R. Covey? Intinya prinsip itu menyebutkan bahwa dari setiap kejadian yang kita alami, 10%-nya itu berada di luar kendali kita, sedangkan 90% nya merupakan hasil dari reaksi kita.

Dua orang bisa mengalami satu kejadian yang sama, tapi masing-masing bisa merasakannya secara berbeda. Bagi si A, mungkin kejadian yang dialaminya merupakan hal yang buruk dan menghambat kemajuannya. Sementara bagi si B, kejadian tersebut ia tanggapi secara berbeda sehingga jadi terasa positif. Jadi yang menentukan adalah reaksi dari si A dan B itu sendiri.

Misal, si A dan si B memasak nasi, tapi gagal sehingga nasi malah menjadi bubur. Si A terus meratapi kegagalan itu sehingga suasana hatinya menjadi keruh. Karena kesal, ia pun membuang bubur itu dan akibatnya ia jadi kelaparan.

Sedangkan si B menanggapi lain. Ia justru melengkapi bubur itu dengan kecap, sambal, kaldu, bumbu, potongan daun bawang, suwiran ayam, kerupuk, dan taburan bawang goreng renyah. Jadilah ia kenyang menyantap bubur ayam yang lezat itu.

Kira-kira seperti itulah Filosofi Teras. Jadi dari setiap kejadian yang kita alami, lebih baik kita fokus pada apa yang bisa kita kendalikan, jangan fokus pada hal-hal yang berada di luar kendali kita. Hal ini akan membantu kita dalam menjalani hidup sehari-hari dengan lebih tenteram tanpa mudah terganggu oleh hal-hal negatif di sekitar kita.

Ada banyak hal menarik yang dibahas di buku ini. Bagi saya, semuanya bermuara ke satu hal, yakni bagaimana tetap tenang dan bahagia meskipun harus menghadapi kejadian atau hal negatif yang seringkali tidak terhindarkan dalam hidup.

****


Judul: Filosofi Teras

Penulis: Henry Manampiring

Tebal: xxiv+320 hlm

Ukuran: 13×19 cm

Penerbit: Kompas

ISBN: 978-602-412-518-9

1 Response to “[Baca Buku] Filosofi Teras”


  1. 1 Ranger Kimi July 12, 2019 at 6:28 pm

    Adiiiit… Aku juga habis baca buku ini. Bagus memang! Aku jadi ingin penganur Stoisisme. Hahaha. Btw, ada yang mengkritik stoicism ini gak ya? *malas gugling*


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,793 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter


%d bloggers like this: