Ramen

Saya pernah menjajal ramen seharga Rp75.000 (ditraktir orang). Wow, rasanya enak!

Lain waktu, saat sedang hujan, saya menyantap Ind*mie rebus rasa ayam bawang yang dilengkapi telur. Wah, rasanya pun nikmat. Dahsyat.

Kalau kenikmatan dan rasa puas bisa diukur, saya rasa kedua hal di atas akan memperoleh angka yang sama. Kalau pun harus ada pemenangnya, maka pasti akan terjadi perdebatan yang sengit di antara para juri, yang kemudian akan dimenangkan oleh Ind*mie rasa ayam bawang plus telur, dengan selisih angka yang sangat tipis, dan akhirnya menjadi polemik hingga bertahun-tahun kemudian.

Objek yang kita nikmati berbeda, bahkan kelasnya sangat jauh bagaikan langit dan bumi, tapi kenapa rasa nikmat dan puas yang kita rasakan bisa sama?

Kita bisa berdiskusi panjang untuk menjawabnya. Tapi mari kita bicarakan hal lain.

Dari renungan tadi, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa ternyata rasa nikmat dan puas tidak selalu ditentukan oleh objek yang kita nikmati.

Pernahkah kita menikmati suatu hal yang sangat sederhana, tapi membuat kita merasa sangat bahagia? Sebuah peristiwa yang membuat kita terdorong untuk memfoto apa yang kita nikmati, memuatnya di media sosial, lalu memberi caption “bahagia itu sederhana”?

Kalau pernah, maka itulah yang saya maksud.

Jadi jangan terlalu bersedih ketika kita sedang tidak punya uang, padahal sedang ingin membuat diri sendiri (atau orang lain) senang. Kita tetap bisa bahagia, tapi tentu saja dengan cara yang berbeda dibanding saat kita sedang kaya raya.

Main-mainlah ke warung kopi, amati tukang becak atau tukang bangunan yang sedang asyik mengobrol sembari menyeruput kopi panas sasetan.
Terlihat sangat nikmat, bukan?

Jadi, apa pun yang sedang kita nikmati, apa pun yang sedang kita alami, syukurilah.

Dari situ, kita bisa berbahagia.

Advertisements

4 Responses to “Ramen”


  1. 1 ndu.t.yke September 18, 2018 at 9:37 am

    Baguuuus postingannya! Reblog!!

  2. 2 praditalia September 18, 2018 at 2:52 pm

    Baca tulisan ini bikin manggut-manggut sendiri #ngopi

  3. 3 alrisblog September 18, 2018 at 11:33 pm

    Cara sudut pandang menentukan keputusan.
    salam

  4. 4 Petrichor September 22, 2018 at 9:17 pm

    Wow, mas Ditter long time no see. Setelah bertahun-tahun, akhirnya saya bias mampir lagi ke blog ini.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,807 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Advertisements

%d bloggers like this: