Bukti

Teman saya pernah cerita, dulu ada seorang kawannya yang sering sekali “mengolok-oloknya” karena ia belum menikah. Teman saya itu, sebut saja Alfa, biasanya tidak terlalu menanggapinya. Ia hanya tersenyum tanpa membalasnya.

Tapi, lama-kelamaan, olok-olok itu semakin mengganggu, sebab semakin sering dilontarkan oleh sang teman. Akhirnya, Alfa pun merasa panas. Ia sempat berpikir untuk buru-buru mencari pasangan hidup, demi membuktikan diri kepada temannya itu, bahwa ia bukanlah pecundang dalam urusan membangun rumah tangga.

Tapi, rupanya Alfa masih bisa mendinginkan kepala.

Alfa memiliki prinsip untuk tidak mau terburu-buru dalam mencari pasangan hidup. Ia ingin prosesnya berjalan secara alami. Meskipun sempat panas hati, tapi ia tetap teguh memegang prinsip itu, dan ia lebih memilih untuk mengabaikan olok-olok sang teman.

Beberapa tahun kemudian, Alfa sadar bahwa hal itu ternyata merupakan salah satu langkah terbaik yang pernah ia ambil dalam hidupnya.

Pada akhirnya Alfa berhasil menemukan pasangan sejatinya, yakni seorang gadis yang dulu pernah satu organisasi dengannya. Prosesnya berlangsung secara alami, sama seperti yang ia harapkan selama ini. Ketika hari pernikahan tiba, tentu saja ia mengundang teman-temannya, termasuk seseorang yang dulu sering mengolok-oloknya.

Dan ini yang menarik. Alfa menceritakannya kepada saya sambil tertawa-tawa.

Temannya itu ternyata tidak datang ke acara pernikahannya, padahal masih satu kota. Ia tidak pula menitipkan sumbangan uang, kado, ataupun ucapan selamat, bahkan di media sosial sekalipun.

Dari sini kita bisa mengambil pelajaran. Kalau ada orang yang sering bertanya tentang “kapan”, ternyata itu tidak selalu berarti mereka perhatian.

Bisa jadi mereka menganggap kita bukan siapa-siapa, hanya sekadar bahan olok-olok semata, yang mungkin dilakukannya untuk menutupi ketidakbahagiaan mereka sendiri.

Saya jadi berpikir, kalau dulu Alfa menuruti rasa kesalnya, lalu sembarangan mencari pasangan hidup hanya untuk membuktikan diri kepada temannya itu, pasti ia akan menyesal sekali.

Sebab, apa gunanya? Malah mungkin hidupnya jadi semakin kacau, hanya karena satu-dua orang yang sebenarnya tidak terlalu berpengaruh dalam hidupnya.

Jadi begitulah. Kepada orang yang bukan siapa-siapa, kita memang tidak perlu membuktikan apa-apa.

Advertisements

2 Responses to “Bukti”


  1. 1 Emaknya Benjamin br. Silaen July 30, 2018 at 11:09 pm

    Pernikahan bukan perlombaan. Untung Alfa ga ngikuti kekesalan krn olokan temannya. Saya jadi penasaran kenapa yg nanya “kapan kawin” ga datang, jangan2 nanti klo ketemu dia lagi iseng nanya “kapan punya momongan?” 😀 .

  2. 2 Hafidh Frian July 31, 2018 at 12:34 pm

    Suka baca ini, karena aku lagi di posisi alfa. Semoga gurauan mereka adalah tipikal perhatian, bukan hanya cemooh saja.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,807 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Advertisements

%d bloggers like this: