Pasar Raya Boga Yogyakarta

Minggu lalu saya dapat pesan berantai di Whatsapp tentang festival makanan terbesar di Jogja. Nama festivalnya “Pasar Raya Boga Yogyakarta”.

Saya baca pesan itu dengan ketertarikan tinggi, karena kata-katanya heboh sekali. Kesannya festival itu sangat besar, menarik, cemerlang, dan penuh dengan jajanan yang bisa kita icip-icip sesuka hati.

Maka pada akhir pekan kemarin, saya pun berangkat ke sana malam-malam. Lokasinya di lapangan parkir stadion Mandala Krida.

Sesampainya di sana, belum apa-apa sudah kecewa, karena tarif parkirnya terlalu mahal. Padahal, salah satu yang digembar-gemborkan dan diunggulkan dalam pesan promo itu adalah: gratis masuk ke dalam festival.

Lah, walaupun masuknya gratis, tapi kalau parkirnya mahal, sama saja bohong.

Mobil dikenai biaya Rp10.000, dengan karcis yang diragukan keasliannya, dan hanya diparkir di pinggir jalan. Padahal umumnya hanya Rp2000-Rp5000.

Entah uang itu bakal masuk ke kantong pemerintah atau tidak, mengingat sebagian besar tukang parkirnya berpenampilan layaknya preman.

Saat itu saya masih berpikir positif, karena sebuah event besar tarif parkirnya sering kali mahal, sepadan dengan besaran dan kemeriahan event yang digelar.

Tapi begitu berjalan-jalan di area yang mereka sebut festival kuliner itu… ya ampun… ternyata jauh dari bayangan saya.

Rupanya area itu hanya berisi kumpulan stand yang menjual makanan, yang mana toko/warung aslinya bisa kita datangi dengan mudah di luar festival. Saya kira ada contoh-contoh makanan unik yang bisa diicip-icip, ternyata tidak.

Betul-betul hanya seperti membeli di warung biasa, hanya saja ini berada di satu tempat.

Saya mencoba menikmati suasana dengan membeli salah satu jajanan, yakni hamburger. Setelah matang, saya kebingungan mencari tempat makan, karena tempat duduknya kurang, dan banyak sampah yang berserakan.

Setelah menunggu beberapa lama, ahkhirnya saya dapat tempat, walaupun tidak nyaman karena mejanya kotor.

Dan untuk hamburgernya… selain mahal, rasanya pun biasa saja.

Mungkin satu-satunya daya tarik “festival” itu adalah adanya panggung besar yang diisi oleh live music, serta beberapa pentas.

Kalau seperti ini, lebih baik main ke mal sekalian. Tarif parkirnya relatif lebih murah, kendaraan lebih aman dan terlindungi, area belanjanya bersih dan sejuk, toiletnya wangi, harga makanannya meskipun lebih mahal tapi higienis dan enak.

Jadi meskipun sama-sama menguras dompet, tapi paling tidak lebih puas. Nilainya sesuai dengan apa yang didapat.

Atau bisa juga ke warung makannya langsung (di luar festival). Toh rasanya sama, wong yang menjual dan yang dijual juga sama.

Tapi hal ini bisa menjadi pelajaran. Kalau nanti saya membaca iklan gratisan tentang sebuah event, yang gembar-gembornya terasa kurang wajar, diadakan di tempat yang kurang meyakinkan, lebih baik saya berhati-hati dan tidak mudah tergiur.

Advertisements

1 Response to “Pasar Raya Boga Yogyakarta”


  1. 1 Dadang Hidayat June 13, 2017 at 11:17 pm

    Kalau di Jogja event yang berhubungan dengan makanan biasanya lebih terkenal di Taman Kuliner Condong Catur 🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,985 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: