Hal Penting Dalam Menulis Cerita Anak

“Show, don’t tell.”

Demikianlah nasihat yang sering saya baca dalam berbagai literatur tentang bagaimana cara menulis (cerita) yang baik. Dalam pelatihan-pelatihan menulis yang saya ikuti pun, nasihat itu sering saya dengar.

Dan kalau saya perhatikan, tulisan yang bisa “mempertunjukkan” tanpa sekadar “memberitahukan” memang terasa lebih hidup.

Misalnya, coba kita baca paragraf berikut ini:

“Malam itu Yoga harus melewati jalan yang seram. Di tengah jalan, ia seperti mendengar suara langkah kaki. Ia pun berlari kencang agar segera sampai di rumah.”

Bisa kita revisi menjadi seperti ini:

“Jalan kecil itu gelap dan angker. Tapi, mau tidak mau Yoga harus melewatinya. Baru beberapa langkah berjalan, bulu kuduknya seketika berdiri. Embusan angin terasa lebih dingin, dan Yoga seperti mendengar suara langkah kaki. Ia menoleh ke belakang, tapi tidak ada siapa-siapa di sana. Sepi. Detak jantungnya bertambah kencang. Tiba-tiba, tercium wangi kembang yang semakin lama terasa semakin tajam….”

Lebih terasa menggigit lagi jika penggambaran yang kita lakukan melibatkan lima indra, yakni penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, dan peraba. Hal itu akan membuat pembaca seperti mengalami sendiri apa yang kita ceritakan.

Lalu bagaimana untuk cerita anak?

Prinsip “Show, don’t tell” bagaimanapun sangat berguna untuk menggugah pembaca. Dan kita tahu, cerita yang menggugah dapat menimbulkan empati, melibatkan emosi. Dengan begitu, pesan moral yang ada di dalamnya selain bisa tersampaikan dengan baik, juga mengakar dalam benak pembaca.

Tentu hal itu sangat bagus untuk cerita anak.

Tapi, ada satu hal penting yang perlu kita perhatikan.

Kita tahu, selama ini ada cerita-cerita yang bagus untuk disampaikan kepada anak, tapi sayangnya mengandung kekerasan. Contoh kecilnya tentang siksaan yang dialami oleh Sahabat Bilal bin Rabah.

Jika kita menceritakannya dengan detail, dikhawatirkan akan berdampak buruk terhadap psikologi anak. Tapi jika diceritakan sekadarnya, anak tidak akan tergugah.

Sementara itu, adegan tersebut tidak bisa ditiadakan begitu saja, sebab merupakan salah satu bagian penting dalam kisah Bilal, yakni tentang bagaimana ia mempertahankan tauhid meski disiksa sedemikian rupa.

Di sinilah pentingnya menentukan sasaran (usia) pembaca saat menulis sebuah cerita, khususnya cerita anak. Penulis dan editor perlu berkoordinasi dengan intensif. Dari situ dapat diperoleh batas-batas yang tidak boleh dilanggar, tanpa harus mengorbankan hal-hal penting dalam sebuah adegan.

Jadi selain “Show, don’t tell”, ternyata prinsip “Tell, don’t show” dalam cerita anak juga penting.

Ini merupakan hal yang wajar, sebab meskipun saling bertentangan, kedua prinsip itu sebenarnya saling melengkapi.

“Menulis cerita adalah seni merangkai adegan demi adegan,” begitu kata A.S. Laksana.

Dalam setiap cerita, ada adegan yang perlu “dipertunjukkan”, ada pula yang cukup diberitahukan. Menyampaikannya secara pas, akan menghasilkan cerita yang manis dan enak dibaca, terlebih untuk anak-anak.

Advertisements

0 Responses to “Hal Penting Dalam Menulis Cerita Anak”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,980 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: