Berhenti

Beberapa hari yang lalu, saya makan pagi bersama adik ini. Kami menjajal sebuah tempat makan khas Banjar yang cukup terkenal di sini, namanya Kindai.

Saya pesan soto banjar ketupat, sedangkan dia nasi kuning sambal goreng ati.

Soto banjarnya enak, tapi sayang agak manis. Dan yang lebih disayangkan lagi, porsinya sedikit.

Sebenarnya tadi ada pilihan soto banjar nasi, bukan ketupat seperti yang saya pesan. Tapi saya rasa porsi nasinya juga sedikit, tidak jauh berbeda dibanding dengan yang ketupat. Jadi kurang lebih sama. Makanya saya tidak pesan menu itu.

Oh iya, saya juga mencicipi nasi kuning sambal goreng ati punya si adik, dan ternyata rasanya juga enak. Padahal sajiannya sederhana saja, hanya nasi kuning yang ditambahi sambal goreng ati, serta sambal yang tidak terlalu pedas.

Mungkin kokinya memang pandai, atau resepnya memang spesial, sehingga masakannya enak.

Setelah menghabiskan soto banjar ketupat, sebenarnya saya masih belum kenyang. Maklum, kapasitas perut saya tergolong besar, sedangkan porsi sotonya sedikit.

“Nambah nasi kuning sambal goreng ati pasti enak nih,” begitu pikir saya. Rupanya mulut saya masih ingin mengunyah lagi, dan perut saya masih ingin terus diisi.

Tapi setelah saya pikir-pikir, menambah satu porsi lagi malah bisa membuat badan saya tidak nyaman, karena perut terlalu penuh. Dan berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya, sering kali hal seperti itulah yang terjadi.

Di awal tadi, saya merasa nyaman dan enak setelah menyantap soto banjar ketupat. Tapi, saya masih belum puas, masih ingin nambah nasi kuning sambal goreng ati.

Jadi pilihannya begini: merasa cukup dan menikmati rasa nyaman yang ada; atau nambah lagi tapi risikonya rasa nyamannya hilang, atau setidaknya berkurang.

Akhirnya saya memilih yang pertama.

Kadang-kadang, kita memang harus berhenti, meski rasanya masih ingin terus dan terus lagi.

Advertisements

3 Responses to “Berhenti”


  1. 1 mawi wijna April 30, 2017 at 4:08 pm

    Kulo Nuwun. Mpun dangu kula mboten mampir mriki. 😀

    Nuwun ngaputen, secara pribadi kurang senang bersantap di Kindai karena ya itu… sajian di piringnya kurang meriah. 😀

    Tapi untuk yang mencari porsi nasi kuning yang lumayan banyak, bolehlah Kindai jadi tujuan.

    Soto Banjar yang pas setahu saya baru di depannya Gereja Kotabaru.

  2. 2 Warm May 3, 2017 at 2:26 pm

    Wah ke Kindai, iya menurut saya lumayan enak nasi kuningnya walo porsinya agak dikit. Soal soto saya lupa ngamatin, yg jelas kalo Soto Banjarbasli mesti ada campuran susu kental manisnya hehehe

  3. 3 @nurulrahma September 28, 2017 at 8:09 am

    Betuuulll, manusia emang cenderung bersikap kayak gitu sih


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,981 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: