Untuk Rowman

Pada masa awal SMA, saya agak bermasalah dalam mengikuti pelajaran.

Saat itu mata saya sudah minus, namun saya berkeras hati tidak mau memakai kacamata. Akibatnya, penjelasan guru yang disampaikan di papan tulis tidak bisa saya ikuti dengan baik. Tulisan-tulisan yang tertera di sana tidak jelas terbaca. Jadi saya hanya bisa mengandalkan pendengaran.

Kalau dilihat oleh guru, seolah-olah saya tampak tidak memperhatikan. Padahal, sebenarnya saya sedang berusaha menyimak dengan cara mendengarkan. Meski begitu, hasilnya tidak efektif.

Nilai-nilai ulangan saya pun hancur gara-gara masalah ini.

Pada masa sulit itu, teman sekelas saya, Dwi Nurohman ─yang sudah akrab dengan saya semenjak ospek, datang sebagai malaikat penyelamat.

Rowman ─panggil saja ia begitu, adalah seorang pencatat yang baik. Catatan-catatannya rapi jali. Ia pun tangkas mencatat. Apa yang tertulis di papan tulis dan apa yang didiktekan oleh para guru, tersalin dengan rapi di buku tulisnya.

Berkat Rowman, masalah saya pun beres. Saya bisa meminjam catatan Rowman dan mempelajarinya. Tidak hanya di rumah, tapi juga saat pelajaran tengah berlangsung.

Suatu ketika Rowman mengaku bahwa ia sering kesulitan memahami apa yang disampaikan oleh guru. Kemudian ia mulai suka bertanya kepada saya tentang pelajaran yang belum dipahaminya. Dan kebetulan, saya bisa membantunya karena sudah paham. Itu pun sebenarnya berkat catatan Rowman yang rapi dan lengkap.

Rupanya Rowman puas dengan jawaban saya. Selanjutnya ia seperti ketagihan. Ia jadi sering sekali bertanya. Dan sebaliknya, saya juga ketagihan dengan catatan-catatan Rowman di buku tulisnya.

Akhirnya kami pun jadi seperti kerbau dan burung jalak. Saling menguntungkan. Simbiosis mutualisme. Saya bisa belajar dari catatan-catatan Rowman, dan Rowman bisa mendapat pemahaman dari penjelasan saya.

Kian lama Rowman seperti kian menghormati saya. Mungkin ia menganggap saya sebagai gurunya. Ia jadi sering membantu saya. Tidak hanya dalam hal meminjamkan catatan, tapi juga hal-hal penting lainnya, seperti mentraktir makan, atau mengantarkan saya membuntuti gebetan: gadis jelita dengan kuncir ekor kuda dari kelas sebelah.

Omong-omong, berkat kerja sama yang apik itu di kelas, prestasi saya dan Rowman pun membaik. Ranking saya, kalau tidak tiga ya dua.

Lalu siapa yang ranking satu?

Tentu saja bukan Rowman.

Memang, saya sering membantu Rowman dalam menjelaskan pelajaran yang belum ia pahami. Namun, saya juga memastikan agar pemahaman Rowman tidak melebihi saya. Ini tidak lain agar prestasi saya selalu lebih baik dari Rowman.

Entah Rowman menyadari hal itu atau tidak. Namun yang jelas, pada akhir masa sekolah, ia berhasil membalas kelicikan saya itu dengan gilang-gemilang.

Ya, nilai ujian nasionalnya jauh melebihi saya.

Sialan memang!

Berkat nilainya yang bagus itu, Rowman berhasil diterima menjadi pegawai di sebuah BUMN besar di negeri ini. Bahkan ia juga mendapat beasiswa dan disekolahkan oleh tempat kerjanya itu sehingga saat ini kariernya pun semakin moncer.

Tiga tahun terakhir ini ia juga membuat usaha di bidang kuliner. Dan sejauh yang saya tahu, usahanya itu terbilang lancar, dan bahkan terus berkembang ─tentu dengan segala jatuh bangunnya.

Jadi begitulah Rowman. Dari seorang cowok cupu yang kerap diabaikan, ia menjelma menjadi pria mapan yang banyak dilirik oleh perempuan (dan mungkin juga oleh segelintir lelaki tampan).

Meski demikian, tentu saja pencapaiannya itu tidak diraihnya dengan mudah. Saya adalah salah satu saksi dari perjuangan, ketekunan, dan kerja kerasnya.

Hari ini Rowman menikah. Sebagai seorang teman, tentu saya ikut merasa senang. Dan dari lubuk hati yang paling dalam, saya mendoakan yang terbaik untuknya.

Selamat berbahagia, Cok!

15 Responses to “Untuk Rowman”


  1. 1 3deggi March 13, 2016 at 9:15 am

    Dwi Nurohman = Rowman? Menarik sekali kisah Rowman ini. Tertarik membaca episode episode persahabatan Rowman dan penulis.
    Salam kenal.

  2. 3 Ranger Kimi March 13, 2016 at 1:07 pm

    Yah… Aku telat kenal Rowman.

  3. 5 jarwadi March 30, 2016 at 9:08 am

    ceritamu ini kamu tulis dengan manis banget🙂

  4. 7 Tuxlin April 8, 2016 at 9:38 am

    Wah namanya jadi keren begitu, Rowman hehehehe… Kadang orang yang cupu di sekolah kebanyakan malah sukses… Semoga saya bisa mengikuti jejak Rowman, jadi sukses😀

    Ngomong2, jaman sekolah dulu rajin catat pelajaran, tapi nggak pernah dibaca, soalnya tulisannya amburadul hahaha😀

  5. 9 cumilebay.com May 13, 2016 at 1:34 pm

    Jadi kamu ama rowman gitu kak ??? ternyata yaaaaa hahaha

  6. 13 Ukhty Midori June 13, 2016 at 7:54 pm

    kak, pengen deh bisa nulis kek gini.. hihi jadi ada manfaatnya bagi si pembaca.. kek cerita di buku buku😀 hobby bikin tulisan ya kak? kereeennn..

  7. 15 warm December 3, 2016 at 6:48 am

    saya kok baru baca tulisan keren ini, duh akibat telat dan males ngider kamana2, makasih tulisannya mas (y)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,985 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: