[Resensi Buku] Parasit Lajang

Si Parasit LajangIni adalah buku karya Ayu Utami yang baru pertama kali saya baca. Sebelumnya saya baru baca tulisan-tulisannya di media massa atau internet.

Saat itu saya merasa tulisan Ayu bagus sekali. Maka kemudian saya pun berniat untuk membaca buku-bukunya. Dan baru sekarang niat itu kesampaian. Itu pun tidak disengaja.

Minggu lalu saya berkunjung ke perpustakaan. Seperti biasanya, rak yang saya datangi terlebih dahulu adalah rak buku-buku kesusastraan. Dan secara kebetulan, saya menemukan buku ini di sana. Lalu tanpa mencari-cari buku lainnya lagi, saya pun langsung mengambil buku ini, lalu meminjamnya dan membawanya pulang.

Buku ini berisi tulisan-tulisan pendek Ayu Utami yang disatukan dengan benang merah tema pernikahan. Jumlahnya 48 tulisan, termasuk prolog dan epilog. Sejumlah tulisan telah dimuat di beberapa media, yakni majalah djakarta!, majalah Jakarta-jakarta, dan Sindo.

Bisa dibilang, tulisan-tulisan tersebut merupakan cercahan pikiran dan keseharian sang penulis yang saat itu tidak mau menikah.

Pandangan-pandangan Ayu tentang pernikahan disampaikan dengan cara yang menarik di sini. Lugas dan ceplas-ceplos. Kritis dan tajam, tapi sering kali jenaka.

Ayu adalah seorang feminis, dan ia banyak menyorot ketidakadilan yang merugikan perempuan, khususnya dalam hal perkawinan.

Gusar menyaksikan ketidakadilan itu, ia pun sempat memutuskan untuk tidak menikah. Alasan-alasan lengkapnya tertulis secara gamblang di buku ini.

Salah satu contohnya, ia merasa undang-undang perkawinan di negeri ini sangat patrialkal. Terlalu mengagung-agungkan lelaki, sehingga pada akhirnya membuat wanita jadi terlalu bergantung kepada laki-laki. Dengan kata lain, wanita diposisikan sebagai pihak yang lemah. Perundang-undangan perkawinan dan sistem sosial masyarakat memelihara pelemahan itu.

Undang-undang perkawinan dianggap masih kurang sadar jender. Undang-undang ini menerapkan lelaki sebagai kepala keluarga. Akibatnya, istri jadi bayar pajak lebih besar daripada suami, sebab penghasilannya dianggap pendapatan tambahan.

Itu hanya salah satu contoh. Bagi sebagian orang, mungkin hal itu cuma perkara remeh dan bukan masalah besar. Tapi bagi kaum feminis, hal seperti itu cukup sensitif.

Hal kritis lainnya yang Ayu sorot misalnya adalah tentang produk pemutih. Di Indonesia, cantik identik dengan putih. Makanya produk pemutih laris manis dengan varian yang banyak.

Perempuan berlomba-lomba menjadi putih. Sementara di belahan bumi lain, cantik justru identik dengan kulit yang kecokelatan. Makanya produk pencokelat/penggelap kulit (tanning cream) di sana laris manis. Juga banyak salon yang menyediakan mesin penyinar yang membuat kulit berwarna kecokelatan. Idealisasi seperti itu diiklankan oleh model lewat latar pantai tropis laut yang sangat indah, sesuatu yang eksotis bagi negara nontropis.

Ayu menuturkan bahwa ada persoalan kelas di sini. Di Amerika Serikat, idealisasi keindahan kulit cokelat adalah lantaran ia merupakan milik kelas atas (halaman 54).

“Kulit cokelat tidak dengan sendirinya menjadi indah,” begitu tulis Ayu. “Ia menjadi indah karena datang satu paket dengan kemewahan berselancar di antara ombak, berjemur di pantai, dan mandi matahari. Hanya orang kaya yang memiliki waktu luang dan cukup uang untuk bersantai terus dan pergi ke tempat-tempat eksotis.”

Sementara di negara kita, kulit gelap selama beratus-ratus tahun identik dengan para pekerja kasar, buruh, petani, tukang becak, dan mereka yang sehari-harinya berada di bawah matahari. Kulit terang menjadi milik bangsawan dan priyayi.

Buku ini merupakan buku pertama dari trilogi. Buku yang kedua adalah Cerita Cinta Enrico dan Pengakuan Eks Parasit Lajang. Setelah membaca buku ini, saya jadi tertarik untuk membaca kedua buku lanjutan. Semoga saya bisa menemukannya di perpustakaan. Kalau pun tidak ada, beli pun tidak apa-apa.

****

Judul: Si Parasit Lajang

Jumlah halaman: xviii+201

Ukuran: 13,5 x 20 cm

Tahun terbit: 2013 (cetakan pertama)

ISBN: 978-979-91-0538-7

Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

IMG_20151115_180509

IMG_20151115_180519

5 Responses to “[Resensi Buku] Parasit Lajang”


  1. 1 sehatisme December 25, 2015 at 9:23 am

    makasih gan bisa buat tugas sekolah🙂

  2. 3 Jannu May 6, 2016 at 12:44 pm

    Judulnya mengingatkanku pada buku swaterbit “Lajang Jalang”.

    Emmm, aku malah belum pernah baca karya Ayu Utami.

  3. 5 andhika October 27, 2016 at 6:03 am

    ini jenis novel atau kumpulan cerpen ya?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,985 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: