[Cerpen] Pawang Hujan

Aku mencangkung di teras rumah sambil memandang bangunan besar itu dengan takjub. Semakin lama bangunan itu semakin besar saja. Ia mulai terlihat angkuh. Puluhan atau bahkan mungkin ratusan pekerja menyemutinya. Kau tahu, bangunan itu berhiaskan peluh dari para pekerja. Dan mungkin juga darah dan nyawa.

Angin menerbangkan debu-debu dari gedung raksasa itu ke segala arah. Lingkungan penduduk jadi penuh debu, termasuk rumahku. Dalam sehari, Ibu harus menyapu rumah puluhan kali. Pintu dan jendela juga harus selalu ditutup supaya debu-debu kasar tidak masuk ke rumah.

Aku mulai sadar, sudah beberapa bulan terakhir ini hujan tidak turun. Kemarau terasa lebih panjang dari biasanya.

Bangunan raksasa itu mau dibuat mal dan hotel, kata Bapak. Terbayang dalam benakku, kalau sudah selesai, pasti akan besar sekali. Aku pastikan, berlari mengelilinginya akan sangat melelahkan.

Lokasi proyek itu memang sangat luas. Dulunya merupakan hutan kecil, dan sebagian disulap oleh warga menjadi tiga lapangan. Satu digunakan untuk sepak bola, sedangkan dua lapangan lainnya untuk voli.

Dulu, setiap sore, semua lapangan itu selalu ramai. Warga berduyun-duyun datang ke sana, baik laki-laki maupun perempuan, dewasa maupun anak-anak. Sore hari laksana pesta rakyat. Ramai dan ceria. Kami semua berbahagia. Menjelang maghrib, kami semua pulang dengan hati gembira.

Suatu pagi ketika aku berangkat ke sekolah bersama teman-teman, aku melihat sekelompok orang memasang pagar-pagar dari seng. Ada tulisan besar-besar yang tertera di seng itu: “Jaya Karya”. Siang harinya saat aku pulang sekolah, area lapangan kami tertutup sebagian, dan pada sore hari sudah tertutup seluruhnya.

Aku dan teman-teman terpaksa menelan kecewa ketika datang ke sana dengan membawa beberapa bola. Para lelaki berwajah keras dan bertubuh kekar melarang kami masuk. Kami jadi tidak bisa bermain dan bersenang-senang lagi di lapangan itu.

“Uh, gerah banget ya, Dek,” Kak Nilam tiba-tiba datang dan langsung duduk di sebelahku. Ia mengibas-ngibaskan buku tulis ke arah lehernya. Rambut lurusnya dikuncir tinggi-tinggi.

“Iya, Kak. Udah lama banget nggak turun hujan.”

“Duh, padahal tempat-tempat lain udah mulai hujan,” keluh Kak Nilam, tampak jengkel.

Aku maklum kenapa Kak Nilam begitu kesal dengan musim kemarau yang panjang ini. Gara-gara hujan yang tidak kunjung turun, sumur jadi mengering sehingga kami terpaksa menghemat air. Bak mandi kami hanya terisi pada pagi hari, itu pun keruh. Untuk kebutuhan masak dan minum, Ibu harus membeli air bersih kepada seorang pedagang keliling.

Kami sekeluarga hanya mandi sehari sekali, begitu pula warga lainnya. Setiap kali pergi berkencan bersama Mas Cahyo, Kak Nilam tidak bisa mandi sehingga selalu menyemprotkan parfum banyak-banyak ke badannya.

Mendengar ucapan Kak Nilam tadi, aku jadi teringat sesuatu. Kakek Tugino yang tinggal di sebelah rumah juga bilang, tempat-tempat lain sudah hujan, sementara daerah tempat tinggal kami masih belum basah oleh air dari langit.

“Ini semua adalah ulah pawang hujan,” ujar Kakek Tugino dalam obrolan kami kemarin sore.

Aku mengernyitkan dahi. “Kenapa begitu, Kek?”

Kakek Tugino mengisap rokoknya dalam-dalam, lalu mengembuskan asapnya dengan bibir bergetar. Badannya memang mudah sekali gemetar, termasuk lingkar bibirnya saat mengembuskan asap rokok. Begitulah yang sering aku lihat pada diri orangtua, tidak hanya Kakek Tugino. Mereka seperti kesulitan mengendalikan tubuh sendiri.

”Kalau di sini turun hujan,” ujar Kakek, “proyek mal dan hotel itu akan terhambat. Sehari saja turun hujan deras, mereka akan rugi besar. Ratusan tukang bangunan tidak bisa bekerja, padahal upah mereka harus tetap dibayar. Cor-coran semen yang masih basah pun jadi rusak sehingga harus diulang. Bayangkan jika hujan itu turun selama berhari-hari.”

Aku manggut-manggut. Aku selalu menikmati cara kakek bercerita. Seharusnya ia menjadi pendongeng saja, bukan malah jadi buruh tani yang katanya bayarannya tidak manusiawi. Kini ia sudah tua, sudah tidak punya tenaga lagi. Jadi ia hanya menghabiskan waktu di rumah saja tanpa bekerja. Kegiatannya sehari-hari hanya membaca koran dan menonton televisi. Seandainya dulu ia jadi pendongeng, aku yakin ia bisa menikmati masa tuanya dalam kondisi yang lebih baik.

Kakek Tugino mengisap rokoknya lagi. Kali ini ia terbatuk-batuk. Setelah meneguk teh dari gelas kaleng besar bermotif kembang-kembang hijau di sebelah radio tuanya, ia melanjutkan ceritanya.

“Dulu Kakek tinggal di kota sebelah. Di belakang rumah kakek ada kebun besar yang tidak terawat, entah punya siapa. Warga menebang sebagian pohon, lalu membuat lapangan bola di sana. Suatu hari, sebuah perusahaan menutup kebun itu, lalu mulai membangun hotel. Sejak saat itu, kakek dan warga lain tidak bisa bermain bola lagi di sana. Dan anehnya, saat itu hujan jadi jarang turun.”

Ucapan Kakek seperti déjà vu bagiku.

“Setelah kami selidiki,” lanjut Kakek, “rupanya perusahaan itu menyewa para pawang hujan untuk menjauhkan hujan dari lokasi proyek. Konon para pawang itu dibayar sangat mahal. Namun, biayanya pasti jauh lebih murah dibanding kerugian yang harus ditanggung kalau hujan deras mengguyur proyek mereka. Dan gara-gara para pawang itu, hujan jadi tidak turun selama berhari-hari. Daerah tempat tinggal kami jadi kekeringan. Jika daerah lain sudah hujan, maka daerah kami belum.”

Kakek menatapku dengan tajam, lalu berkata, ”Kau tahu, pawang-pawang hujan itu sangat sakti. Mereka mampu menggeser hujan dari satu daerah ke daerah lain.”

Aku terkesiap mendengar cerita Kakek.

“Mereka berusaha agar daerah proyek yang mereka jaga selalu kering. Saking saktinya, setelah proyek itu sudah selesai bertahun-tahun kemudian, kekeringan masih tetap melanda daerah kami.”

“Jadi hujan tetap jarang turun meskipun proyek sudah selesai?” tanyaku dengan wajah bingung.

“Tidak,” kakek menggeleng-geleng. “Hujan memang masih turun seperti sedia kala. Tapi, kondisinya sudah jauh berbeda. Semuanya sudah tidak sama lagi.”

Aku bertambah bingung. “Tidak sama bagaimana, Kek?”

“Sudah kubilang, para pawang hujan itu sangat sakti,” jawab Kakek. “Akibat kesaktian mereka, daerah proyek tempat mereka mengucapkan mantra-mantra dulu jadi tetap kering meskipun mereka sudah pergi entah ke mana. Mereka seperti meninggalkan kutukan hebat. Kami yang tinggal di sekitar mal dan hotel itu jadi menderita. Sumur-sumur kering dan tidak bisa pulih kembali. Karena itulah akhirnya aku pindah ke sini. Tapi tak kusangka, lagi-lagi aku harus merasakan kesialan yang sama.”

Sesaat aku sempat berpikir bahwa kakek sedang meramalkan nasib daerah ini. Aku bergidik ngeri membayangkannya. Jika apa yang diomongkannya benar, itu berarti sekarang ini daerah tempat tinggal kami sudah tidak sama lagi. Selanjutnya akan selalu kering, meskipun hujan masih akan turun.

“Mereka meninggalkan kutukan hebat…,” kakek menggumam lagi, pelan.

Aku tidak bisa membayangkan, kesaktian macam apa yang berhasil dicapai oleh pawang hujan itu, hingga dampaknya bisa begitu mengerikan.

*) fiksi

9 Responses to “[Cerpen] Pawang Hujan”


  1. 1 Agiasa December 21, 2015 at 9:13 am

    Wah kasian jomblo kalo tinggal di situ..ga pernah ujan jadi yang pacaran tetep asoy. Cuma bisa liatin. huuuft deh ahahaha.

  2. 3 bebyrischka December 21, 2015 at 12:26 pm

    Kok jadi inget Jogja ya? Kebanyakan mall en hotel jadi banyak yg kering air sumurnya😦

  3. 5 badun January 16, 2016 at 11:46 am

    wha wha ha saking saktinya itu Pawang, sampe proyek selesai hujan tetap jarang dan sumur pada kering ….ngeri man efeknya🙂

  4. 7 dewa putu am August 3, 2016 at 2:38 pm

    suka sama cerpen ini,…

  5. 9 jannu August 27, 2016 at 5:30 pm

    kesimpulanku:
    itu karena hotelnya menggunakan sumur bor yg menguras air tanah. di Indonesia kan bisa mengebor sesuka hati bahkan bisa bikin kayak Lapindo.

    tapi kalo ngebor untuk mencari air, tidak sepenuhnya salah warga/perusahaan. kan mereka melakukan karena selama ini PAM tidak bisa diandalkan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,986 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: