Terdesak

Selama ini mungkin Anda punya saudara, kerabat, atau teman yang punya kebiasaan seperti ini: saat kita sudah siap berangkat untuk suatu acara bepergian, saudara atau teman kita itu masih belum siap dan masih sibuk menyiapkan barang-barang yang akan ia bawa.

Akhirnya kita pun terpaksa menunggunya. Ada saja satu-dua barang yang tertinggal sehingga ia harus bolak-balik masuk ke rumah.

Umumnya kita akan merasa kesal, lantas menggerutu, “Kenapa nggak (disiapkan) dari tadi, sih?”

Ya, wajar jika kita merasa kesal, sebab sebenarnya teman kita itu punya banyak waktu untuk melakukan berbagai persiapan.

Mestinya, saat waktu yang disepakati sudah tiba, maka kita tinggal berangkat saja. Tidak perlu direpotkan oleh segala tetek-bengek yang membuat jam keberangkatan menjadi molor.

Tapi, orang yang sedang kita bicarakan ini memang aneh. Katanya beberapa jam sebelumnya ia sudah bersiap-siap, namun sayangnya masih saja ada yang terlupa.

Ceroboh, mungkin kata itu yang paling tepat untuknya.

Tapi, mari kita coba lihat dari sisi lain.

Mungkin sebenarnya ia memang sudah melakukan persiapan-persiapan. Saat merasa semuanya sudah beres, lantas ia pun bersantai-santai sembari menunggu waktu.

Tapi, rupanya ia keliru, sebab kenyataannya persiapannya sebenarnya masih belum benar-benar beres.

Menjelang jam keberangkatan, barulah ia sadar bahwa masih ada hal-hal yang perlu ia bereskan, atau masih ada barang-barang yang mesti ia bawa.

Jadi jangan-jangan sebenarnya ia bukannya ceroboh, melainkan pikirannya baru “terbuka lebar” saat berada dalam kondisi terdesak.

Barangkali seperti mahasiswa yang tiba-tiba bisa belajar dengan khusyuk semalaman karena keesokan paginya harus menghadapi ujian.

Atau seperti penulis yang tiba-tiba bisa lancar menulis selama berjam-jam tanpa berhenti karena dikejar deadline.

Saya sendiri dulu punya teman kuliah yang senang mengerjakan makalah-makalahnya sehari atau bahkan beberapa jam menjelang dikumpulkan.

“Aku baru bisa berpikir dan menulis dengan lancar kalau deadline-nya mepet,” begitu alasannya, sambil cengengesan. “Aku pernah coba ngerjain langsung, tapi malah nggak selesai-selesai. Prosesnya nggak lancar, dan aku malah jadi stres.”

Well, mungkin teman saya itu tidak sendirian.

Di luar sana, barangkali ada banyak juga orang yang seperti itu: baru bisa berpikir dan mengerjakan sesuatu dengan lancar saat berada dalam kondisi terdesak.

25 Responses to “Terdesak”


  1. 1 -n- May 31, 2015 at 5:47 pm

    Aku tuh sering gitu. Harus berangkat ke airport jam 1.30, baru kelar packing jam 1…..err…. 1.15 malah! Alhasil baru keluar rumah jam 1.45 deh. Cuma telat 15 menit dr jadwal awal, tp tetep bikin kesel n geregetan yg melihat, hahaha.

  2. 3 joeyz14 May 31, 2015 at 6:49 pm

    *ngacung* duhhh sering dimarahin nyokap nih permasalahan yg satu ini. Ada ajaaaa yg ketinggalan. Trus anaknya emang lastminute.com

  3. 5 adhyasahib May 31, 2015 at 7:08 pm

    kalo dalam keadaan terdesak biasanya malah apapun jd mungkin ya:-)

  4. 7 Febriyan Lukito May 31, 2015 at 9:20 pm

    The power of kepepet. Semua jadi “tring” kalau dah kepepet.

  5. 10 Bibi Titi Teliti June 1, 2015 at 9:54 am

    mas Ditter..kemana aja dirimuuuuh🙂
    Memang ada yang merasa bisa lebih bersina apabila dibawah tekanan sih mas…
    Dalam kasus tertentu aku juga sering begitu, tapi aku gak suka rasanyaaaaa…lebih suka kalo semua sudah dipersiapkan secara matang aja🙂

  6. 12 mawi wijna June 1, 2015 at 10:44 am

    Klo buat aq sih Bro, hal-hal yg bikin molor itu karena:

    1.) Di Luar Kebiasaan

    Misal, memory card yg semestinya bercokol di kamera ternyata nggak ada. Ya memang ketinggalan di kamar. Biasanya sih nancap di komputer. Tapi entah kenapa waktu itu tergeletak di meja. Jadi, pas sebelum berangkat, pikirku karena nggak nancap di komputer ya “biasanya” sudah ada di dalam kamera. Eh, ternyata nggak. :p

    2.) Perencanaan yang Ragu-Ragu

    Pas mau pergi-pergi di akhir/awal musim hujan sering dibuat galau sama pikiran “duh, bawa mantel nggak ya? Ntar di sana hujan nggak ya? Kalau hujan apa ya deras jadi perlu bawa mantel?”. Trus pas berangkat tiba-tiba melihat awan mendung balik lagi ke rumah dan bawa mantel, hahaha. Ya memang lebih enak klo ada mantel sih. Tapi kan yang namanya pergi-pergi diusahakan seringkas mungkin. Ya toh?

  7. 14 Wahyu Asyari Muntoha June 1, 2015 at 4:38 pm

    the power of kepepet kalo gini mah.
    lebih baik sih mempersiapkan jauh2 sebelumnya, caranya biar ga lupa? bikin check list apa yang harus dibawa!

  8. 16 cumilebay.com June 10, 2015 at 12:55 pm

    Ada kok orang yg memang terlahir seperti itu dan banyak
    Ada temen ku yg terlahir selalu telat, apapun acara nya jam berapapun di kasih tau pasti telat.
    ada juga yg suka ketinggalan, meskipun sudah di ingatkan berkali2. Mungkin mereka waktu pembagian otak, ketinggalan atau bahkan ngak datang hahaha.

  9. 18 Rahad June 11, 2015 at 11:35 pm

    Yah kadang2 saya juga gitu hahaha. Kalo udah mepet tugas2 jadi ceoet kelarnya. Coba kalo ngerjain pas msh jauh deadline, lamaa banget selesainya

  10. 20 Zippy June 14, 2015 at 9:16 pm

    Hahhaa saya juga gitu sih mas.
    Waktu kuliah dulu suka ngerjain tugas kalo pas dikejar deadline.
    Tantangannya dapet, jadi otaknya langsung encer, hhahah…
    Tapi gak selalu sih, kadang2 aja kalo emang lagi males😛

  11. 22 Beby July 4, 2015 at 10:28 am

    Trus.. Nunggu didesak buat menikah dulu gitu, Bang?😛

  12. 24 photobooth jakarta July 24, 2015 at 11:00 pm

    its nice story.. love it .. very inspring…
    great job…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,985 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: