Istri yang Pas

Tahun 2006, seorang penulis yang tidak banyak dikenal mendadak meramaikan dunia kesusastraan. Dialah Ben Fountain. Ia menulis kumpulan cerpen yang diberinya judul Brief Encounters with Che Guevara.

Karyanya itu menuai banyak pujian. Times Book Review menyebutnya “menyentuh hati”. Buku tersebut kemudian memenangkan penghargaan Hemingway Foundation/PEN dan menjadi No. 1 Book Sense Pick.

Tidak berhenti sampai di situ, Brief Encounters with Che Guevara juga dianggap sebagai salah satu buku terbaik pada tahun terbitnya oleh Chronicle San Francisco, Tribune Chicago, dan Kirkus Reviews. Buku itu pun masuk dalam daftar buku laris regional.

Kesimpulannya, Brief Encounters with Che Guevara tidak hanya sukses secara kesusastraan, tapi juga secara komersial.

Kemunculan karya sastra bermutu itu memang seperti tiba-tiba. Terlebih sebelumnya orang-orang tidak terlalu mengenal Fountain.

Meski begitu, kesuksesan Fountain sebenarnya sama sekali tidak tiba-tiba.

Sebelum menjadi penulis, Fountain bekerja sebagai pengacara di kantor pengacara khusus properti Akin, Gump, Strauss, Hauer & Feld cabang Dallas. Pada tahun 1988, saat Fountain berusia 30-an, ia mengambil sebuah keputusan besar.

Ia keluar dari kantornya, lalu memutuskan untuk menjadi penulis penuh waktu.

Saat itu Fountain sudah menikah dan punya anak. Istrinya, Sharon, bekerja sebagai seorang pengacara dengan posisi yang cukup tinggi dan gaji yang lumayan besar.

Karena tinggal di rumah, maka Fountain pun menjadi ayah rumah tangga. Tapi, ia juga bekerja sebagai penulis.

Tahun-tahun berlalu, dan Ben masih terus menulis. Meski begitu, tidak ada satu pun karyanya yang meledak. Ia nyaris terkesan sebagai penulis gagal. Karyanya tidak banyak dikenal, dan ia pun tidak mendapatkan cukup banyak uang dari pekerjaannya itu.

Jadi bisa dibilang, kehidupan Fountain ditanggung oleh sang istri. Meski demikian, Sharon sama sekali tidak protes.

Dan ternyata memang itulah yang dibutuhkan Ben: dukungan dan kesabaran dari orang terdekatnya.

Karena rupanya Ben merupakan ─dalam istilah Gladwell─ seorang Late Bloomers. Seseorang yang “terlambat panas”.

Kita tahu, di dunia ini ada seniman yang menghasilkan karya-karya hebat pada usia yang sangat muda. Sebut saja misalnya Picasso, Mozart, atau T.S. Eliot. Karya-karya mereka mengguncang dunia, dan mereka segera disebut sebagai orang-orang supergenius.

Tapi, ada juga seniman yang baru menghasilkan mahakarya yang tidak kalah hebat pada usia yang sudah “senja”.

Yang terakhir inilah yang disebut dengan orang-orang yang terlambat panas.

Tidak seperti para genius muda, para late bloomer sering kali harus menghadapi rasa frustrasi yang begitu besar dalam berkarya.

Mereka bukannya tidak genius. Sebaliknya, mereka justru punya kegeniusan yang langka. Hanya saja, mereka memerlukan waktu yang panjang, upaya yang keras, dan kesabaran yang luar biasa untuk tiba pada kegeniusannya.

Karena itu, jika ada orang terlambat panas yang berhasil menghasilkan suatu mahakarya, maka biasanya ada orang-orang dekat yang menjadi kunci keberhasilannya.

Dalam hal ini, Ben Fountain punya Sharon.

Ben berhenti bekerja pada tahun 1988, dan karyanya mulai dikenal publik secara luas (dan bahkan meledak) pada tahun 2006. Jaraknya mencapai 18 tahun.

Kau tahu, 18 tahun bukanlah waktu yang sebentar.

Lima tahun, sepuluh tahun, lima belas tahun, dan seterusnya, Sharon terus mendukung Ben. Dalam masa panjang ketika Ben tak menerbitkan apa pun, Sharon percaya bahwa Ben terus menjadi hebat.

Well, itu membutuhkan kesabaran yang besar.

Bayangkan, kau lelah bekerja dan mencari uang untuk menghidupi keluarga, sementara pasanganmu yang mestinya mencari nafkah, kerjanya hanya membaca buku, duduk di depan komputer, menulis sesuatu yang tidak jelas, dan tidak banyak menghasilkan uang.

Bukankah itu menjengkelkan?

Hal seperti itu mungkin akan mengundang percekcokkan, dan bahkan perceraian.

Namun, Sharon sangat percaya kepada suaminya. Dan itu adalah kepercayaan yang luar biasa.

“Ia sama sekali tak pernah mengungkit-ungkit soal uang,” ujar Fountain dengan pandangan menerawang. “Sekalipun tak pernah.”

Fountain diam sejenak. Matanya tampak berkaca-kaca. Lantas ia berkata, “Tak pernah saya rasakan tekanan apa pun dari dia.”

Tak diragukan lagi, Sharon benar-benar istri yang pas bagi orang yang terlambat panas.

****

Sumber:

Gladwell, Malcolm. 2008. Late Bloomers. Newyorker.com

Wikipedia

51 Responses to “Istri yang Pas”


  1. 1 joeyz14 April 25, 2015 at 9:14 am

    Wowww nice story…kinda hard itu dlm realita.aku pernah baca novel yg mana istrinya karir keren dan suami penulis yg lg ngalamin writer’s block..endingnya mereka cerai. Btw aku baru denger istilah late bloomer

  2. 3 mawi wijna April 25, 2015 at 11:22 am

    Saya juga baru diajari sama bos beberapa hari yang lalu kalau menjalin bisnis itu dasarnya adalah kepercayaan. Lalu aku pikir-pikir lagi, sepertinya, semua hal yang berurusan dengan kerjasama antar manusia dasarnya ya kepercayaan.

  3. 5 adhyasahib April 25, 2015 at 3:11 pm

    wah kesabaran Sharon patut di acungi jempol

  4. 7 maembie April 26, 2015 at 12:45 am

    Berarti semua orang yang baru sukses di usia tua adalah orang yang ‘terlambat panas’. Dukungan dari orang terdekat dan tersayang memang sangat memotivasi.

    Inspiratif nih ceritanya, semoga aja kita memiliki orang terdekat yang selalu mendukung cita – cita kita.

  5. 9 @cizzos April 26, 2015 at 5:43 am

    Kalo Gwen Stacy itu istri yang pas juga kah?

  6. 11 Beby April 26, 2015 at 9:33 am

    Masya Allah.. Sangat jarang sosok istri seperti Sharon, yang tulus mencintai dan menerima suaminya dengan apa adanya. Kayaknya itu yang dinamakan cinta sejati ya, Bang.. :’D

    Di saat zaman sekarang banyak banget istri menggugat suami karena penghasilannya lebih tinggi.. Ini jadi semacam tamparan..

  7. 15 Ni Made Sri Andani April 26, 2015 at 9:36 am

    kesabaran Sharon barangkali yang membuatnya harus mengeluarkan hasil karya yang maksimal ya..

  8. 17 nuel April 26, 2015 at 2:50 pm

    Inspiratif banget nih. Moga aku bisa kayak dia. Berharap suatu saat nanti karya-karyaku bisa disukai lebih banyak lagi orang, nggak hanya pembaca blogku aja. Hehehe. Yosh!!! Semangat!!! Thank for the post!!!!

  9. 19 ibrahim April 26, 2015 at 8:53 pm

    istri yang pas itu adalah istri yang bisa diajak senang dan susah, serta taat dengan agamanya😀

  10. 21 Bibi Titi Teliti April 27, 2015 at 9:28 am

    Memang gampang-gampang susah jadi istri yang bisa mendukung suami dengan sepenuh hati mas…aku pun masih berusaha terus sih..hehehe…

    Semoga nanti dirimu dapet istri yang seperti itu yah mas🙂

  11. 23 Febriyan Lukito April 27, 2015 at 8:45 pm

    Kisah inspiratif. Tfs ya.
    Benar2 bukan hal mudah memulai sesuatu dari bawah. Apalagi memulai ulang ketika memiliki tanggungan. Ini jadi sebuah tamparan buat saya.

  12. 25 Aul Howler April 28, 2015 at 10:07 pm

    Semoga suatu hari calon istriku sifatnya seperti itu :’)

  13. 27 cumilebay.com April 30, 2015 at 11:07 am

    Kak … sentuh hatiku, aku berjanji akan jadi istri yg suka hambur2an uang mu #Halah

  14. 29 Andri May 2, 2015 at 9:22 pm

    Ceritanya pengen cari istri kyk gitu nich..hehehehe..
    Insya Allah nnti ada yg terbaik..

  15. 31 Rumambay May 5, 2015 at 8:19 am

    Bagus banget ni sob tulisannya, dibalik orang” hebat tu pasti ada orang” terdekatnya yg jadi kunci keberhasilannya.
    Biasanya kalo ngga istri, ya orang tuanya baik itu ibu ataupun ayahnya.
    Nice post sob, salam kenal dr bang Mambay😀

  16. 34 arip May 6, 2015 at 7:36 am

    Kalau seorang lazy bloomers seperti saya gimana ya?
    Ah semoga dipasangkan sama istri kayak Fountain. Istri kerja, suami nganggur. eh.

  17. 36 kekekenanga May 6, 2015 at 4:26 pm

    Itulah yang disebut saling melengkapi🙂

  18. 38 Bahrul May 13, 2015 at 9:04 pm

    Semoga nemu istri yang pas juga lah mas Adit akunya :” Huhuhu

  19. 40 Adie Riyanto May 18, 2015 at 4:22 pm

    Langka banget nih kalau di Indonesia. Cowok gak kerja, beuh, kecuali dia emang cakep banget kayaknya bakal ditimpal keluar hehehe😥

    • 41 Ditter June 20, 2015 at 11:24 am

      Hahaha…

      Sebenarnya bukan nggak kerja juga, Mas. Kerja, tapi di rumah, jadi penulis, dan hasilnya di masa-masa awal belum terlalu bagus, hehe….

  20. 42 Firman May 18, 2015 at 4:54 pm

    Berkat kesabaran & kepercayaan yang luar biasa, semua akan indah pada waktunya.. yang jadi masalah, untuk para late bloomers lain, ada berapa Sharon di dunia ini? Ah, jarang sekali.

  21. 44 rinafaradilla May 24, 2015 at 9:44 am

    serius menginsfirasi..
    memang sih kepercayaan itu akan banyak mengubah segala sesuatu yang mustahil

  22. 46 Cepy Hidayaturrahman May 25, 2015 at 9:22 am

    ah, kenapa korupsi mentradisi sejak zaman kolonial? salah satunya adalah istri yang kurang bersyukur, sehingga acap menghasut suaminya untuk memperoleh uang lebih, dengan rerupa cara. dan kita tahu sendiri, keinginan (segelintir mungkin) perempuan itu unlimited hehehe.

    apa kabar dit? dulu sering blogwalkingan ya kita hehehe, saya dulu yang males ngunjungin balik (ke blog manapun sih, bukan ke blog ini aja), eh dikau malah rajin nyambangi blog saya. malu sebenernya hihi. dan makin malu saya pas kemaren kemaren saya keliling di toko buku, dan tak sengaja melihat nama ditter di buku komik lokal. ternyata ada buku lain yang udah terbit juga yah. ikut seneng sayaah! selamat ya broh, sukses selalu! *jabat erat*

    • 47 Ditter June 20, 2015 at 11:27 am

      Haha… terima kasih banyak sudah berkunjung ke sini lagi, Mas!😀

      Saya memang suka blogwalking, dan kadang-kadang ninggalin komentar. Kalaupun si empunya blog nggak berkunjung balik, nggak masalah, hehe….

  23. 48 Fahri's Articles May 28, 2015 at 8:17 pm

    Wah, sharing yang sangat bermanfaat nih sob, bisa jadi referensi buat ane ke depannya hehehe…

  24. 50 Rahad May 31, 2015 at 12:01 pm

    yg kayak gitu, bener2 istri idaman banget. kalo saja Sharon gak sabaran dan terus menuntut, bisa commit suicide sepertinya fountain


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,988 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: