[Resensi Buku] Cinta.

CintaJudul buku ini dibaca dengan kalimat: “cinta dengan titik”. Maksudnya adalah cinta tanpa koma, tanpa ada yang lain setelahnya. Begitulah yang saya baca dari keterangan di bagian sampul.

Pada awal peluncurannya, buku ini mendapat sambutan yang meriah dari para pembaca. Saya mengetahuinya dari media sosial, juga dari teman saya yang bekerja sebagai pemasar buku.

Sepertinya memang begitu setiap kali Bernard Batubara meluncurkan karya barunya. Penulis ini memang memiliki basis pembaca yang cukup kuat.

Buku ini dibuka dengan cerita tentang Nessa yang hendak pulang dari Pontianak ke Yogyakarta naik pesawat terbang. Di dalam pesawat, ia duduk bersebelahan dengan seorang cowok bernama Demas. Mereka kemudian berkenalan.

Itu adalah perkenalan yang sederhana, tapi dari situlah segala drama bermula.

Nessa diceritakan sebagai seorang perempuan yang cuek, pintar, dan cantik. Rambutnya panjang, menyukai buku, dan mengenakan kacamata. Pokoknya tipe saya banget lah. #lho

Nessa ini memiliki trauma dalam sebuah hubungan. Ini dilatarbelakangi oleh keluarganya yang sudah tidak lagi utuh. Ibunya meninggalkan sang ayah demi lelaki lain.

Adapun Demas juga memiliki masalah tersendiri dalam hubungan asmara. Ia pernah gagal dalam hubungan itu karena jarak. Sejak saat itu, ia merasa tidak akan pernah bisa menjalani long distance relationship.

Seiring berjalannya waktu, setelah melewati beberapa peristiwa, Nessa dan Demas saling jatuh cinta. Namun, hubungan mereka segera dihadang masalah, bahkan sebelum hubungan itu dimulai.

Demas sudah punya tunangan.

Tunangan Demas adalah seorang perempuan cantik bernama Ivon. Ia bekerja sebagai pramugari, dan ini membuatnya harus menjalani hubungan jarak jauh dengan Demas.

Hubungan Demas dan Ivon sering bermasalah, dan Demas menganggap hal itu terjadi karena hubungan jarak jauh yang mereka jalani. Sebenarnya sudah sejak lama ia ingin memutuskan hubungan dengan Ivon, tapi tidak pernah terlaksana karena orangtua Demas sudah telanjur menyukai Ivon.

Pertanyaan saya, kalau memang trauma dengan LDR, kenapa dulu mau menjalin hubungan dengan Ivon?

Saya berusaha menjawab sendiri. Barangkali saat mulai berpacaran dengan Demas, Ivon belum menjadi pramugari. Tapi entahlah, sebab saya tidak menemukan informasi itu.

Saya menemukan beberapa hal ganjil di buku ini. Misalnya, katanya Nessa punya karakter dingin terhadap laki-laki akibat trauma atas perceraian kedua orangtuanya. Makanya ia jadi sulit jatuh cinta.

Tapi kenapa kemudian ia mudah sekali jatuh ke dalam pelukan Demas? Dan bahkan rela menjadi selingkuhan?

Kemudian diceritakan juga bahwa Demas mengaku tidak bisa menjalani LDR. Karena jarak bisa meluruh rasa cinta mungkin? Makanya ia hendak memutuskan hubungan dengan Ivon.

Tapi di akhir cerita, ketika Nessa meminta Demas untuk pergi sejenak dari kehidupannya, hingga kemudian Demas kembali, Demas mengaku masih mencintai Nessa, dan ia masih terus mengejar Nessa.

Dan akhirnya Nessa pun kembali jatuh ke dalam pelukan Demas.

Itu berarti bukan jarak yang menjadi masalah dalam sebuah hubungan, bukan? Karena walaupun sudah jauh, kenyataannya Demas masih menyayangi Nessa.

Tapi kenapa hal ini tidak terjadi juga kepada Ivon? Kenapa Demas juga tidak bersabar menjalani hubungannya dengan Ivon seperti ia sabar menunggu Nessa yang memintanya pergi dari kehidupannya?

Penulis melalui tokoh-tokohnya tampak berusaha menunjukkan alasan-alasan logis dalam sebuah perselingkuhan. Mungkin untuk sebuah pemakluman. Tapi, pada akhirnya alasan-alasan itu cuma omong kosong belaka.

Selingkuh ya selingkuh.

Itu hasrat manusia.

Jarak, trauma, dan hal-hal semacamnya cuma alasan yang mereka gunakan sebagai senjata untuk tidak mengakui bahwa perselingkuhan merupakan keputusan dan hasrat mereka sepenuhnya.

Tokoh-tokoh dalam buku ini menunjukkan bahwa manusia memang suka mencari-cari pembenaran.

****

Judul: Cinta. (baca: cinta dengan titik)

Penulis: Bernard Batubara

Editor: Widyawati Oktavia

Tebal: vi+318 hlm

Ukuran: 13 x 19 cm

Cetakan: ketiga, Desember 2013

ISBN: 602-220-109-8

Penerbit: Bukune

Cinta.

9 Responses to “[Resensi Buku] Cinta.”


  1. 1 dani March 23, 2015 at 7:41 pm

    Bara ya, jadi tambah prnasaran saya. Hihihi

  2. 2 Beby March 24, 2015 at 11:46 am

    Baca buku ini pasti bikin Bang Ditter makin ngga bisa move on.😦 *pukpuk*

  3. 3 bola April 4, 2015 at 7:36 pm

    terima kasih broe…….

  4. 4 skorbola April 4, 2015 at 7:36 pm

    artikelnya bagus………….

  5. 7 ayumimgaih April 19, 2015 at 9:27 pm

    salam kenal dan salam sukses

  6. 8 tantri06 July 23, 2015 at 5:27 am

    Humanbeing and all of their excuses. Pemikiran kamu tunjek poin bgt deh. Hehe


  1. 1 [Resensi Buku] Surat untuk Ruth | Catatan sehari-hari Trackback on March 23, 2015 at 1:02 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,988 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: