Harga Sebuah Kebersihan

Kereta yang akan saya naiki menuju Jogja baru berangkat pukul sembilan malam, sementara saya sudah tiba di stasiun Pasar Senen sebelum maghrib. Masih ada waktu beberapa jam lagi untuk bersantai. Daripada bengong, saya pun memutuskan untuk makan malam supaya di kereta nanti tidak perlu beli makan lagi.

Kebetulan, di dalam kompleks stasiun Pasar Senen ada Seven Eleven. Meskipun sudah sering mendengar cerita tentang gerai fenomenal itu, tapi saya sama sekali belum pernah memasukinya. Maka ketika kemarin saya masuk ke Sevel, saya merasa tingkat kegaulan saya jadi bertambah sekian persen.

Di dalam gerai itu, saya menemukan konter khusus makanan siap saji. Baru saja hendak mengambil nasi goreng kemasan, mata saya langsung terbelalak ketika melihat harganya.

Ya ampun, mahal bingits. Padahal porsinya cuma sedikit. Saya pun jadi sewot sendiri.

Memangnya nasinya didatangkan dari Yunani?

Memangnya bumbunya diimpor dari Timbuktu?

*pelitnya kambuh

Saya segera keluar dari tempat itu, lalu berpikir sejenak. Saya ingat, saat hendak masuk ke gerbang stasiun tadi, saya sempat melihat gerobak bertuliskan “Nasi Ayam & Nasi Bebek Madura”. Kemudian saya pun memutuskan untuk makan di sana.

Well, tempatnya cukup ramai, padahal cuma di pinggir jalan. Saya langsung memesan seporsi nasi ayam kepada ibu penjual. Hanya dalam hitungan menit, pesanan saya sudah datang.

Menu pilihan saya tampak menarik. Nasi hangat disiram dengan parutan kelapa berbumbu (seperti serundeng), dihiasi beberapa potong ayam tanpa tulang, lalu diguyur dengan sambal cair. Hmmm… kayaknya enak nih.

Porsinya cukup banyak, tapi harganya cuma Rp13.000 . Itu pun sudah termasuk air putih gratis.

Dan demi bidadari-bidadari yang berseliweran di mal ibu kota, nasi ayam itu enak sekali. Bumbunya menggigit, ayamnya lezat, sambalnya nikmat, dan nasinya apa lagi, enak bingits: hangat, tidak lembek, tapi juga tidak keras.

Saya melahap nasi ayam itu dengan penuh gairah, dan sempat menambah sambal juga. Badan pun jadi terasa segar dan bertenaga, sebab perut sudah terisi. Rasanya saya jadi mampu mengangkat dunia.

Seusai makan, saya masih duduk di tempat. Menggigit-gigit tusuk gigi sambil menikmati pemandangan jalan.

Saat itulah saya melihat sesuatu yang mengejutkan.

Si karyawan ibu pedagang sedang mencuci perangkat makan di pinggir jalan dengan air yang minim. Tidak ada keran air di sana. Di sekitar situ berseliweran bajaj, metromini, taksi, mobil pribadi, serta sepeda motor. Asap-asapnya mengepung perangkat makan yang sedang dicuci.

Jangan-jangan piring dan gelas yang tadi saya pakai juga dicuci di situ dengan cara seperti itu.

Well, kalau piring sih masih mending, sebab saat pesanan saya datang, piringnya dialasi dengan kertas pembungkus. Yang jadi masalah adalah gelasnya. Saya minum air putih langsung dari gelas itu.

Tapi ya sudahlah. Makanan sudah masuk, air putihnya pun begitu. Dan Alhamdulillaah, perut saya tidak mengalami masalah apa-apa. Mungkin karena sudah kebal.

Cuma kalau disuruh memilih, saya rela membayar lebih mahal seribu-dua ribu rupiah, asalkan si pedagang bisa menjaga kebersihan dan kehigienisan makanan mereka, termasuk perangkat makannya.

45 Responses to “Harga Sebuah Kebersihan”


  1. 1 dani February 20, 2015 at 3:27 pm

    Bener banget Mas. Rela bayar agak mahal dikit asalkan bersih. Saya juga suka makan dibpinggir jalan Mas. Biasanya sebelum makan saya amati agak lama dulu itu tempat makan. Hehehehe.

  2. 3 RizkyLendes February 20, 2015 at 4:39 pm

    Iya mas, Saya juga pernah mersakan hal seperti itu. Jadinya Saya suka memilih Warung Makan yang kehigienisannya.🙂

  3. 5 joeyz14 February 20, 2015 at 5:25 pm

    Kalo ga sakit perut, pilihannya antara 2, emang dah kebal atau air biat cuci piring itu mengandung anti kuman *haha aposehhh*

    Btw di stasiun senen emang rada2 horor semua tempat makannya deh..eh gatau ya kalo skrang. Dah lama juga ga kesana

  4. 7 tqrb February 20, 2015 at 5:56 pm

    aku terus terang agak malas sob kalau urusan kebersihan, jadi nya kamar ane kotor banget hehehe😀

  5. 10 ardiologi February 20, 2015 at 9:21 pm

    First jakarta problem: air bersih

  6. 13 maembie February 20, 2015 at 9:22 pm

    Tapi meskipun nyucinya begitu, makanannya tetap enak loh. Hahaha

    Semua jajanan pnggir jalan nyuci gelas kadang cuma dilap doang, tapi ya kita pake juga. begitulah kira – kira uniknya indonesia.

  7. 18 arip February 20, 2015 at 10:46 pm

    Pentingnya berdoa sebelum dan sesudah makan, apalagi kalau buat kasus makan di pinggir jalan. Agar dijauhkan dari marabahaya sakit perut.

  8. 20 Ai Wida February 21, 2015 at 8:06 am

    Kalau makanannya enak dan steril kenapa ga berani bayar mahal?😀

  9. 23 Zizy Damanik February 21, 2015 at 9:03 pm

    Aku setuju bahwa ada harga untuk sebuah kebersihan.
    Aku menolak untuk makan di pinggir jalan — kecuali terpaksa — karena bagaimanapun kita harus menjaga tubuh dari banyak bakteri.
    Jadi aku prefer untuk bawa makanan sendiri atau cari yang lebih aku yakin bersih sih.

  10. 25 Kimi February 21, 2015 at 10:21 pm

    Ah, kamu ke Jakarta tapi gak nyebrang ke Lampung. Jahat kamuh! T^T

  11. 27 Bibi Titi Teliti February 22, 2015 at 8:34 am

    Waduuuuh…
    Untung udah kelar makan yah maaas…hehehe…
    Memang resiko makan di pinggir jalan yah mas..
    Mudah2an aja gak sakit perut di kereta yaaaaah🙂

  12. 29 Beby February 22, 2015 at 10:44 pm

    Jangan-jangan airnya berasal dari.. *sinyal hilang*

    Makanya aku lebih milih air mineral, Bang. Sewaktu di Jogja ada rumah makan murah tapiiii cara nyuci piringnya tuh ngga enak banget. Wkwkwk..😀

  13. 32 nuel February 23, 2015 at 4:32 pm

    Jadi? Pilih mana? Mahal tapi higienis? Atau murah tapi bikin galau tiga abad?

  14. 34 tqrb February 24, 2015 at 8:40 pm

    kebersihan adalah sebagian dari iman ya sob.🙂

    izin follow blog nya ya gan🙂

  15. 39 mawi wijna February 25, 2015 at 11:07 am

    Berhubung dirimu bisa menulis artikel ini setelah beberapa hari berlalu, itu artinya anda selamat dari maut! hehehe,😀

  16. 41 Vanisa Desfriani February 25, 2015 at 11:20 am

    yup. siapa yg bisa menjamin bahwa didalam gelas atau piring itu ada virus atau penyakitnya..

  17. 43 Aul Howler February 25, 2015 at 12:43 pm

    That’s why kadang-kadang aku suka beli aqua botolan aja kalo makan di warung2 makan murah meriah pinggir jalan

    nggak cuma masalah cui mencuci nya, air minum nya sendiri kadang meragukan

    pernah nengak air putih yang rasanya kayak air mentah
    : /

  18. 45 Pypy March 10, 2015 at 5:11 pm

    Gw kalo makan pinggiran gitu seringnya minum minuman kemasan Dit, lebih bersih aja rasanya😀 Tapi justru disitu letak nikmatnya makan dipinggiran kan?😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,985 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: