[Resensi Buku] Putri Cina

Putri CinaPemerintah ―kita tahu, menganjurkan agar penggunaan kata “Cina” di negeri ini diganti dengan kata “Tiongkok”. Namun, dalam membuat catatan ini, saya kesulitan menyatakan isi pikiran jika kata “Cina” diganti dengan sebutan itu. Nilai rasanya berbeda. Jadi, kali ini saya sengaja tidak mengikuti anjuran tersebut.

Semoga saya tidak masuk penjara.

Buku ini mengangkat tokoh Putri Cina ―sesuai dengan judulnya. Namun, jangan bayangkan Putri Cina tersebut merupakan tokoh tunggal. Dalam buku ini, bisa dibilang ia merupakan entitas dari nenek moyang orang-orang Cina di tanah Jawa.

Betapa kaya pengetahuan Sindhunata tentang mitos dan filsafat, baik Jawa maupun Tiongkok. Ia memasukkan babad dan sejarah ke dalam buku ini, lantas menjalinnya sedemikian rupa hingga membentuk cerita sastra yang sangat memesona.

Salah satu babad yang begitu menarik itu adalah Jaka Prabangkara yang merupakan bagian dari Babad Jaka Tingkir. Sindhunata menyertakan babad ini untuk menjelaskan tentang asal-usul orang-orang Cina di tanah Jawa.

Selain itu, buku ini juga merefleksikan sebuah peristiwa penting, yakni tragedi ’98. Tragedi itu begitu memilukan, namun sebenarnya bukan yang pertama kalinya terjadi.

Tahun 1740 ―kala itu Kompeni sudah menjajah Nusantara, orang-orang Cina di tanah Jawa berkembang dengan pesat. Sebagian besar bekerja sebagai pedagang atau pekerja tangan yang terampil. Mereka adalah orang-orang yang ulet, giat, tekun, dan pantang menyerah.

Kompeni sangat senang dengan kemajuan orang-orang Cina, sebab mereka dapat memaksakan pajak yang sangat besar kepada kaum itu untuk mengumpulkan harta.

Sebagai bagian dari politik devide et impera, Kompeni merancang kondisi sosial sedemikian rupa sehingga kaum Cina berada lebih tinggi daripada kaum bumiputra.

Mereka memisahkan tempat tinggal kaum Cina dengan penduduk pribumi supaya kaum itu kelihatan berbeda dan lebih tinggi derajatnya daripada pribumi.

Kompeni sengaja membuat warga Cina menjadi sasaran iri dan curiga.

Padahal, sebelum Kompeni datang, sudah berabad-abad lamanya orang-orang Cina menetap di Jawa, hidup berdampingan dengan rukun dan damai bersama penduduk pribumi. Mereka membaur bersama kaum bumiputra, dan bahkan memperkaya kebudayaan Nusantara.

Kebutuhan dana Kompeni untuk mempertahankan dan memperluas negeri jajahannya kian lama kian besar. Demi mengisi kas, mereka semakin keras dalam memeras warga Cina. Lama-kelamaan kaum Cina pun melawan.

Namun, Kompeni sudah menyiapkan senjata ampuh. Dengan mudah mereka bisa memadamkan perlawanan itu. Cukup dengan membuat kekacauan sosial dengan memanfaatkan rasa curiga dan iri kaum pribumi yang memang sudah lama dipupuk dan dirancang oleh Kompeni.

Maka pada bulan-bulan menjelang akhir tahun 1740, mayat-mayat orang Cina bergelimpangan. Itu adalah sejarah kelam pertama orang-orang Cina di Tanah Jawa.

Kompeni memanjakan orang Cina untuk memerasnya. Kompeni menjunjung tinggi orang Cina untuk menjatuhkannya. Kompeni memisahkan orang Cina dari kaum pribumi untuk membuat pribumi iri dan memusuhinya.

Pola dasarnya seperti itu.

Pada tahun ’98, sejarah berulang, dengan pola yang kurang lebih sama. Kali ini bukan oleh kompeni, melainkan oleh segelintir elite dari bangsa sendiri. Semoga itu adalah yang terakhir.

Dalam buku ini, tokoh babad Sabdopalon-Nayagenggong mengajukan ramalan yang menarik terkait tragedi di atas.

Sesuai dengan sejarah pertikaian di Jawa, dalam setiap pertikaian yang terjadi, tiap-tiap penguasa beserta para pengikutnya merasa dirinya benar dan lawannya salah. Maka pada akhirnya semuanya benar, sekaligus semuanya salah.

Keadaan itu menuntut adanya pihak yang bisa dipersalahkan. Dengan menimpakan kesalahan itu, maka mereka yang bertikai merasa dirinya bersih.

Orang-orang Cina di Jawa itu unik. Menurut Sabdopalon-Nayagenggong, mereka itu bukan Jawa, tapi juga bukan Cina. Mereka itu lain dari pribumi, tapi sekaligus juga sama.

“Bila para penguasa bertikai dan pertikaian itu tidak bisa selesai,” ujar Sabdopalon-Nayagenggong, “maka mereka akan mencari korban yang asalnya bukan dari mereka. Korban itu harus lain dari mereka, supaya mereka tidak merasa bersalah. Tapi, korban itu juga tak boleh terlalu lain, supaya bisa mewakili mereka untuk membersihkan diri, karena di lubuk hati yang terdalam, sebenarnya mereka pun merasa bersalah.”

Lalu, siapakah korban itu?

Kita semua tahu jawabannya.

Ini adalah karya sastra yang kaya dengan mitos, babad, sejarah, dan perenungan hidup. Lewat buku ini, mitos dan kenyataan sejarah jadi tampak bersinggungan dan seolah-olah tidak terpisahkan.

****

Judul: Putri Cina

Penulis: Sindhunata

Tebal: 304 halaman

Ukuran: 14 x 21 cm

Bulan terbit: September, 2007

ISBN: 978-979-22-3079-6

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama

Putri Cina

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,985 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: