Merusak Rasa

Saat itu saya masih SMP, baru saja pindah ke Jogja dari negeri antah berantah bernama Bekasi. Pada jam istirahat, tiga teman sekelas mengajak saya ke sebuah warung soto di luar sekolah. Kata mereka, nasi soto di sana enak dan murah meriah.

Benar saja, harganya memang murah, cuma lima ratus rupiah untuk semangkuk nasi soto panas, komplet dengan suwiran ayam.

Dalam waktu singkat, pesanan kami diantarkan oleh ibu penjaga warung. Empat mangkuk nasi soto yang masih mengepul terhidang di hadapan kami. Sebelum melahapnya, saya khusyuk memejamkan mata sambil menghirup dalam-dalam aroma nasi soto itu.

Hmmm… wanginya membangkitkan selera.

Setelah melakukan ritual itu, saya melihat sesuatu yang mengejutkan.

Ketiga teman saya menyiram kuah sotonya dengan kecap sampai menghitam. Ya, bukan cuma satu teman, melainkan ketiga-ketiganya. Belakangan saya tahu, ternyata orang sini memang senang menikmati soto yang disiram kecap.

“Kenapa?” tanya salah satu di antara mereka ketika melihat saya melongo.

“Itu…,” saya menjawab sambil menunjuk mangkuk soto mereka, “kok dikasih kecap?”

“Lah iya… biar enak. Biar seger!” katanya dengan raut wajah penuh gairah.

“Biar seger…,” saya mengangguk-angguk. Suatu terminologi yang cukup membingungkan buat saya ketika itu, mengingat, kata ‘seger’ biasanya disematkan pada minuman dingin yang menyegarkan, bukan soto panas yang menghitam karena kecap.

Lantas kami pun menikmati soto itu dengan penuh selera. Setuju dengan mereka, soto itu benar-benar enak. Saat isi mangkuk saya tinggal setengahnya, teman saya nyeletuk, “Kok nggak pakai kecap, Dit?”

“Mmm…,” saya bingung menjawabnya. Kalau bilang nggak doyan kecap, rasanya nggak juga, sebab sesekali saya juga makan pakai kecap. Berhubung tidak tahu mau menjawab apa, akhirnya saya pun menjawab sekenanya, “Nanti merusak rasa.”

Kini gantian ketiga teman saya yang melongo.

****

Ada satu teman saya yang suka sekali dengan kerupuk. Ia selalu makan pakai kerupuk, seolah-olah zaman akan segera berakhir jika ia tidak melakukannya.

Suatu kali, kami makan sate ayam di sebuah warung sederhana. Ia mengambil tiga kerupuk putih dari kaleng biru di sudut meja. Dua kerupuk untuk dirinya sendiri, sedangkan yang satunya lagi ia sodorkan kepada saya.

Saya menggeleng-geleng. Menolaknya.

“Lho, kenapa? Kamu nggak doyan kerupuk?” ia menatap saya dengan pandangan prihatin, seolah-olah saya sudah kehilangan separuh kenikmatan dunia.

Well, dibilang tidak suka kerupuk, rasanya nggak juga, soalnya kadang-kadang saya juga makan pakai kerupuk. Tapi, saya ingat bahwa saya punya jawaban mudah. Maka saya bilang ke dia, “Nanti merusak rasa.”

****

Kita tahu, ini lebih ke masalah selera. Mungkin bagi teman-teman saya, semangkuk soto akan semakin enak setelah disiram kecap. Sementara sate ayam akan semakin nikmat bila dimakan bersama kerupuk.

Tapi, setiap orang punya selera masing-masing. Saya tidak ingin kemurnian rasa soto “dirusak” oleh kecap. Saya juga tidak mau kemurnian rasa sate ayam ‘diganggu’ oleh kerupuk.

Orang Sunda bilang, “Original is better”.

Lain waktu, saya dan si teman-penyuka-kerupuk makan bakso bersama-sama. Sebagai penyuka pedas, saya menambahkan beberapa sendok sambal ke mangkuk saya. Sementara, teman saya sudah mulai melahap baksonya. Tangan kirinya tampak memegang kerupuk yang entah ia ambil dari mana.

“Kok nggak pakai sambal, Ndes?” tanya saya.

Ia menggeleng-geleng sambil tetap mengunyah. Setelah menelan makanannya, ia menjawab singkat, “Nanti merusak rasa.”

40 Responses to “Merusak Rasa”


  1. 1 mawi wijna January 12, 2015 at 10:45 am

    Isi mangkok masing-masing pengunjung adalah privasi yang tidak bisa diganggu gugat sebagaimana pakaian dalam yang mereka kenakan, hahaha😀

  2. 3 ardiologi January 12, 2015 at 11:16 am

    Selera adalah hak prerogatif:mrgreen:

  3. 5 Aul Howler January 12, 2015 at 3:52 pm

    Ahahahaha
    Ending nya twist banget. Bisa dijadiin cerpen tuh :)))

    Sama aja sih.
    Hampir semua makanan racikan yg aku makan itu biasanya gak mau ditambah apa-apa lagi. Kecap, saos, cabe, sambal, cuka, dll

    lebih suka rasa original nya.

    Mie instan aja, misalnya.
    Kalo pesen di kafe manaa gitu, selalu aku sebutin dari awal “Jangan ditambah saos/sambel ya kak. bumbu dalam bungkus nya aja cukup”

    Kalo bikin sendiri di rumah malahan biasanya murni cuman mi instan teng aja. gak pake telor atau sayur atau ayam atau aksesori lainnya

    makan bakso juga gitu
    soto juga
    sate juga
    nasi goreng juga

    tapi kalo makan roti tawar aku nggak bisa original
    Harus pake selai :)))

  4. 7 Bibi Titi Teliti January 12, 2015 at 8:27 pm

    Kalo si Abah parah banget tuh mas…
    HAMPIR semua makanan dikasih kecap lho..
    makanya di rumahku boros kecap..hihihi…

    Aku si hampir mirip sepertimu mas, ada beberapa makanan yang sepertinya kurang cocok kalo dikombinasikan…

  5. 9 Aditya Nugroho January 13, 2015 at 2:58 pm

    Ngomongin soto. Kalau soto favorit saya itu soto baratnya kampus amikom sebelah timur persis pasar condong catur “soto holywood” seporsi 6 ribuan. Rasanya dijamin joss. Bisa ditambah kecap, jeruk nipis bisa juga ngga sesuai selera. Biasanya saya sering langganan disana mas. Tapi berhubung saya dah lulus serta kos saya yang di Seturan sudah habis masa aktifnya skrg dah jarang lagi makan disana. Tapi kalau lagi ke jogja sering saya sempatkan kesana mas. Ayo kesana mas Adit . . .😀

  6. 11 gunawan January 13, 2015 at 5:34 pm

    Kawan saya juga ada seperti itu…
    Awal nya dia nantang saya siapa yang berani makan pedas…
    Tapi malah kecapnya lebih banyak dari pada cabe nya mungkin ada setengah botol kecap yang dituangnya Hingga kuah menjadi hitam…
    Kayak nya yg punya warung rugi di kecap dibuat nya..
    Wkwkwkwkwk

  7. 13 Beby January 14, 2015 at 6:53 pm

    Ah, Bang Ditter.. Kenapa kita satu selera? Apakah ini pertanda.. Kalok kita.. Hanya bisa menjadi teman saja? Bruakakakakakkkk!😀

    Aku jugak kalok makan gitu ngga pakek kecap atau kerupuk. Tapi kalok sambel ya mesti teteup.😛

  8. 16 aqied January 14, 2015 at 10:56 pm

    Tos dulu donk mas Adit. Aku makanan berkuah jg gak suka ditambahin kecap ataupun saos. Tapi kalo sambel kadanv kadang masih lah….

  9. 18 vizon January 15, 2015 at 5:53 am

    Saya punya teman yang kalau makan bakso, sama sekali tidak akan menambahkan saos, sambal maupun kecap. Katanya, lebih enak yang orisinil, lebih kurang sama dengan alasannya Mas Ditter, tidak mau merusak rasa…😀

  10. 20 arip January 15, 2015 at 10:06 am

    Bener nih, saya ga suka soto dikecapin, kalau ditambihan pedes sih oke. Emang suka yg original.
    Tapi kalau telor ceplok sama mie goreng wajib dikasih kecap tambahan.

  11. 23 Sucipto Kuncoro January 15, 2015 at 9:58 pm

    jadi intinya..

    beda muka beda rasa

  12. 25 Richo A. Nogroho January 16, 2015 at 5:56 pm

    haha, nyindiru tuh yang terakhir?😀
    setuju, soal selera mas, dan jadi kebiasaan. kalau saya di Madura, umumnya soto Madura pakai kecap. ada soto yang kuahnya warna kuning, dan kami tidak mencampurkan kecap sebagai pelengkapnya, beda dg soto kecap Madura. tapi semenjak kuliah di Malang, saya justeru menemukan kebiasaan yang berbeda, mereka semua pakai kecap. yang menurut saya agak gimana gitu, kalau boleh minjam kata-kata mas Adit, juga bisa merusak selera. di Surabaya, Tulungangung, SIdoarjo dan beberapa kota sekitarnya, juga sama, pakai kecap. kami di rumah tetap tidak makai😀. kalau kerupuk, menurut saya kebiasaan jatohnya, mas. kayak orang yang gak nikmat kalau makan tanpa sayur atau kuah.

  13. 27 nuellubis January 17, 2015 at 9:00 am

    Padahal makan bakso tuh emang lebih sedepnya lagi harus pake sambel. Rasanya di situ. Hahaha

  14. 29 immanuel's notes January 17, 2015 at 9:02 am

    Padahal makan bakso tuh emang lebih sedepnya lagi harus pake sambel. Rasanya di situ. Hahaha

  15. 30 Ari January 17, 2015 at 8:01 pm

    Masalah kerupuk atau kecap, saya ga begitu paham.. yang pasti saya suka dua-dua. Soto dan sate tu enak mantab. Bisa bangkitin selera kalau lagi hilang sehabis baru sembuh dari sakit🙂

  16. 32 Adie Riyanto January 19, 2015 at 10:18 am

    Hahahaha terima kasih untuk referensi jawabannya ya. Rasa autentik emang selalu menghadirkan pengalaman tak terlupakan😉

  17. 34 Pypy January 19, 2015 at 4:42 pm

    Lagi soal selera yah Dit😀 Berhubung dimari lidah Sulawesi, jadi emang ga suka kecap..hihi.. Tapi suka kerupuk.. Nyamnyam.

  18. 36 Fredeva January 22, 2015 at 12:58 am

    Samaaa. Enakan rasa originalnya kalo makan apa-apa. :3
    Anyway, baru pertama kali kesini nih. Salam kenal ya. \:D/

  19. 38 Firman January 23, 2015 at 9:16 am

    Padahal dalam table manners memberi bumbu apapun ke makanan yg belum dicicipi, termasuk kecap itu gak boleh, karna akan menyinggung pembuat. Tapi kalo soal merusak rasa, itu sih kembali lagi ke selera.


  1. 1 Dedikasi | Catatan sehari-hari Trackback on February 3, 2015 at 6:06 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,988 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: