Keran Air

Tatkala menumpang shalat di masjid yang saya lewati, sering kali saya mendapati hal yang sangat menjengkelkan, yakni keran di tempat wudhu tidak ditutup dengan rapat sehingga masih mengalirkan air.

Padahal, apa susahnya sih menutup keran dengan sempurna? Yah, setidaknya tidak sesulit melupakan kenangan indah bersama si dia.

Berada di daerah yang mudah air memang bisa membuat kita lupa diri. Padahal, saudara kita di Etiopia sana harus mengorbankan waktu dan tenaga yang luar biasa hanya untuk mendapatkan air seadanya.

Pada pukul 4 dini hari, mereka sudah berangkat dari rumah, lalu menuruni bebatuan menuju sungai dengan hanya diterangi kerlip bintang. Setelah mengisi jeriken sampai penuh, lantas mereka mendaki bukit terjal untuk kembali ke desanya sambil memanggul 23 liter air yang sebenarnya juga tidak terlalu bersih. Bayangkan, mereka melakukan hal itu selama 8 jam setiap hari.

Ya, ketika kita menghabiskan 8 jam sehari untuk bekerja, mencari uang, atau bersenang-senang, mereka menghabiskan waktu selama itu untuk mendapatkan air.

Sementara itu, di Gunungkidul sebelah selatan, orang-orang terbiasa berburu air di gua-gua pada musim kemarau. Pagi-pagi buta mereka berjalan memasuki gua dengan hanya diterangi obor demi mendapatkan beberapa jeriken air.

Daerah itu merupakan perbukitan karst. Tanahnya berupa gamping sehingga tidak menyimpan air. Meski demikian, ada air yang mengalir di perut bumi yang bisa ditemukan di lorong-lorong gua. Untuk mendapatkannya, warga harus bekerja keras menyusuri gua yang gelap dengan berbagai risiko yang menyertainya.

“Ah, ngapain kita repot-repot menghemat air?” bisik sebuah suara yang entah asalnya dari mana. “Toh itu nggak akan banyak membantu orang-orang yang tinggal di daerah yang krisis air. Betul?”

Harus saya akui, kenyataannya memang begitu. Bagi kita yang tinggal di daerah yang mudah air, menghemat air memang tidak lantas membuat daerah lain terbebas dari krisis tersebut. Tapi, bukan di situ masalahnya.

Ini adalah masalah empati. Ini adalah masalah tentang bagaimana kita turut merasakan penderitaan orang lain.

Empati perlu kita miliki demi kebahagiaan bersama. Alangkah bahagianya kita bila hidup di tengah-tengah orang yang masih memiliki empati. Sebaliknya, betapa menderitanya kita bila tinggal di tengah-tengah orang yang tidak saling peduli dan tidak punya empati.

Kita tahu, empati tidak harus mewujud dalam sesuatu yang besar. Empati juga bisa berupa hal-hal yang kecil dan sederhana, misalnya menutup keran air dengan sempurna.

32 Responses to “Keran Air”


  1. 1 yusmantara December 18, 2014 at 1:18 am

    Wah saya baru tau ada daerah seperti itu di indonesia, Tulisan yang bermanfaat brow ,

  2. 3 -n- December 18, 2014 at 6:40 am

    Buang2 air itu mubazir dan mubazir itu kawannya setan.

  3. 5 Ryan December 18, 2014 at 8:41 am

    memang tidak otomatis menolong yang kekurangan air mas. tapi bukan berarti kita menyia-nyiakannya kan?

  4. 7 darsonogentawangi December 18, 2014 at 9:04 am

    Jadi inget ketika adiki iparku dirawat di salah satu RS di Sokaraja Banyumas… Mushollanya di atas kolam ikan… so, sisa air wudlu bisa dimanfaatkan :)….

  5. 9 Beby December 18, 2014 at 11:16 am

    Iya Bang Ditter, sebagai manusia yang punya hati nurani masa tega sih ngga berempati.. Memosisikan diri sebagai ‘korban’ jugak perlu lah..😀

  6. 12 Adie Riyanto December 18, 2014 at 3:11 pm

    Hahaha ini jleb banget. Kadang2 aku juga gitu. Tapi segera sadar. Lebing sering damprat orang juga gara2 gak hemat air, termasuk pembokat di rumah, yang suka lupa matiin kran, udah ditinggal nyetrika🙂

  7. 14 aqied December 19, 2014 at 12:02 am

    Bener sih. Tapi banyak jg kran yg memang bocor atau harus pke trik tertentu supaya bisa mati n gak netes2. Aku suka ngerasa frustasi deh kalo g bisa bisa matiin kran

  8. 16 Mentik Sebutirilmu December 19, 2014 at 4:12 am

    Broew blog saya udah jalan lagi , silahkan berkunjung gan

  9. 18 Ika Koentjoro December 19, 2014 at 5:23 am

    Kenikmatan itu kadang melenakan ya, termasuk kenikmatan mudah air.

  10. 19 Aul Howler December 19, 2014 at 4:25 pm

    Iya bener

    empati orang zaman skrg ini beda banget ya sama dulu:/

  11. 21 Sucipto Kuncoro December 20, 2014 at 2:50 pm

    mari hemat air sebelum air bersih dimana-mana kosong🙂

  12. 23 Bibi Titi Teliti December 20, 2014 at 9:00 pm

    Setuju sekali mas🙂
    Hal yang sebenernya sepele, tapi banyak orang yang suka abai😦

  13. 25 jan December 23, 2014 at 1:59 am

    masalahnya, sering kali kerannya bermasalah. sudah diputer tetap mancur. bahkan pernah ada yang sampai jebol.

  14. 27 Pypy December 23, 2014 at 4:59 pm

    Iyaa tuh sodara2 kita di NTT dapat airnya susaaaahhh banget!!..Makanya kudu hemat air lah yahh..

  15. 29 nuellubis December 24, 2014 at 6:47 am

    Wah hebat, si mas maen-maennya sampe ethiopia. Hahaha…

  16. 31 Duniaberbicara.com January 22, 2015 at 10:10 am

    emang salut dah sama indonesia..
    beragam tempat yg indah dan blm saya jelajahi..membuat rasa penasaran yg tinggi.. jdi pngn keliling dunia dan indonesia nih😀


  1. 1 Harga Sebuah Kebersihan | Catatan sehari-hari Trackback on February 20, 2015 at 2:59 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,985 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: