Telaten

Berkat Facebook, saya terhubung lagi dengan sahabat masa kecil sewaktu masih tinggal di Bekasi dulu. Sebut saja ia Bunga (sebetulnya itu nama aslinya). Usia kami nyaris sebaya, dan rumah kami berseberangan. Mungkin karena itulah dulu kami sering main bersama.

Bunga kini tumbuh menjadi gadis yang cakep dan ceria. Saya menyimpulkannya dari foto-fotonya dan berbagai obrolan dengannya. Kabar terbaru, saat ini ia sudah menikah. Baru awal bulan yang lalu ia melepas masa lajangnya. Ah, sayang sekali…. *lho

“Dit, inget nggak?” tanya Bunga dalam salah satu obrolan kami via BBM. “Dulu lo sering banget bikin-bikin mainan gitu dari barang bekas. Gue udah nyoba bikin sendiri juga, tapi selalu gagal, hahaha….”

Saya tertawa. Tak saya sangka ia masih mengingatnya, padahal saya sendiri hampir lupa.

“Dulu gue suka banget sama mainan-mainan lo, Dit. Lain daripada yang lain dan nggak ada yang jual!”

Seketika ingatan saya terlempar pada masa beberapa tahun silam. Benar kata Bunga, dulu saya memang suka bikin mainan dari barang-barang bekas. Bahan yang paling sering saya gunakan adalah bungkus rokok. Dengan cutter dan lem, saya mengolahnya menjadi mobil-mobilan, robot-robotan, dan rumah-rumahan.

Saya jadi ingat juga, dulu saya suka bikin telepon-teleponan dari kaleng bekas. Mainan itu dulu cukup populer. Saya dan bunga sering tertawa-tawa ketika suara yang kami ucapkan di satu kaleng bisa terdengar jelas di ujung kaleng lainnya.

Barang bekas lain yang jadi favorit saya adalah sandal karet. Selain bagus untuk bahan membuat roda mobil, sandal karet juga bisa dibuat menjadi rakit. Cukup ditambah dengan layar kecil dari kain, maka rakit itu pun jadi semakin menarik. Dulu saya suka berteriak-teriak girang ketika rakit karet buatan saya melaju kencang di selokan setelah hujan.

Obrolan dengan bunga menyadarkan saya pada satu hal.

Ternyata dulu saya lumayan telaten juga, ya.

Kau tahu, membuat mainan sendiri memang membutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Tanpa itu, kita akan mudah menyerah, dan akhirnya mainan yang kita buat jadi tidak pernah selesai.

Saya jadi bertanya-tanya, ke mana kesabaran dan ketelatenan yang pernah saya punya dulu?

Sepertinya saat ini saya perlu memilikinya kembali.

20 Responses to “Telaten”


  1. 1 mawi wijna November 18, 2014 at 9:56 am

    Jadi selama ini dirimu tidak telaten? Mosok?

  2. 3 Beby November 18, 2014 at 10:10 am

    Bikin buku ngga telaten ya, Bang? Secara diri mu uda bikin berapa buku gitu😛

  3. 5 ysalma November 18, 2014 at 11:22 am

    Mungkin tanpa disadari tertinggal bersama Bunga #eh
    *setuju dengan Baby, menghasilkan buku kan bagian dr telaten dan kesabaran.

  4. 7 Breldine November 18, 2014 at 10:18 pm

    perasaan doang kali..
    Malah aslinya, semakin bertambah umur, semakin telaten dan pengalaman🙂

  5. 9 dizaz November 19, 2014 at 5:45 am

    Ane ga percaya ahh,
    kecil aja telaten, apalagi gedenya🙂

  6. 11 nuel November 19, 2014 at 12:50 pm

    Haahaahaa….. Ternyata Bunga itu nama asli yaah. Moga si Bunga nggak marah atau minta royalti. :p

  7. 13 Aul Howler November 20, 2014 at 2:06 pm

    Kalo aku ngerasa dulu tu kreatif banget

    *Ngarang*

    Sekarang udah nggak ada kreatif kreatif nya sama sekali:/

  8. 15 Pypy November 21, 2014 at 12:48 pm

    Sama Dit, banyak hal yg dulu juga udah hilang dr gw nih.. Macam telaten, ini dan juga keberanian,.. Fufufu..

  9. 17 Yudi November 22, 2014 at 8:47 am

    Mungkin ketelatenannya terbawa oleh si Bunga… #eh

  10. 19 Okti D. November 26, 2014 at 9:48 pm

    paragraf keduanya semacam bermuatan curcol. hehehe…
    iya memang kalau melihat ke belakang kok rasanya dulu jauuh lebih produktif sementara sekarang sudah banyak kebiasaan yang nggak dilakukan lagi…


  1. 1 Kodok Hijau | Catatan sehari-hari Trackback on December 12, 2014 at 8:48 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,988 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: