Kelaparan (2)

Postingan ini merupakan kelanjutan dari tulisan yang ini.

Selama beberapa menit, kami semua diam. Mungkin sama-sama canggung. Kemudian si bapak bertanya dengan agak rikuh, “Bagaimana Dek, bisakah adek membantu saya? Saya butuh uang untuk ongkos pulang.”

“Mohon maaf, Pak,” saya menjawab dengan nada yang sopan. “Kebetulan saya dan teman saya lagi nggak punya uang.”

Tak disangka, raut wajah si bapak mendadak mengeras. Ia tidak lagi memelas. Tanpa berbicara apa-apa, ia pergi begitu saja, membawa bungkusan makanan yang sama sekali belum ia santap.

Saya hanya bisa mengelus dada. Seharusnya tadi saya meninggalkannya saja. Mestinya saya tidak perlu bersusah payah membelikannya makanan.

Tapi masalahnya, saya tidak bisa menolak orang yang sedang kelaparan.

Sebab saya tahu bagaimana rasanya kelaparan.

Saya paham rasanya tidak bisa membeli makanan karena tidak punya uang.

Dan saya tahu betapa leganya hati dan pikiran setelah tubuh kita menyantap makanan. Di tengah kelegaan itu, seolah-olah semua beban luruh, dan kita jadi lebih siap dalam menghadapi masalah apa saja.

Pernah suatu kali saya tidak sempat sarapan, sementara uang saku sudah habis untuk memfotokopi bahan ujian. Padahal, kegiatan saya hari itu cukup padat. Pagi sampai sore kuliah, setelah itu latihan marching band, kemudian selepas maghrib mengerjakan tugas kelompok bersama teman-teman.

Dari tempat latihan marching band, saya berangkat ke rumah kontrakan teman dalam keadaan lelah dan perut melilit. Kau tahu, rasanya sungguh tidak nyaman. Tapi, saya berusaha menahannya, sebab toh paling-paling mengerjakan tugas kelompok hanya berlangsung selama dua jam. Nanti begitu tugas itu selesai, saya bisa langsung pulang, lalu makan di rumah.

Begitu sampai di kontrakan, saya pun langsung mengerjakan tugas bersama beberapa teman yang lain. Namun, saat itu saya tidak melihat si tuan rumah. Katanya sih ia sedang memasak.

Tidak lama kemudian, si tuan rumah datang dengan membawa nampan berisi nasi panas yang masih mengepul, tempe goreng, dan sambal tomat.

“Ayo kita makan bareng-bareng!” serunya dengan muka sumringah.

Pada titik itu, rasanya saya ingin meneteskan air mata.

Teman saya (si tuan rumah) ibarat malaikat yang diutus Tuhan untuk menolong saya yang sedang kelaparan.

Ketika menyantap hidangan itu, saya merasakan kenikmatan hingga ke awang-awang. Padahal, lauknya cuma sepotong tempe dan sambal tomat. Benar-benar cuma sepotong, sebab harus berbagi dengan yang lainnya. Tapi sungguh, mungkin itu adalah salah satu makanan ternikmat yang pernah saya santap.

Setelah itu, tubuh saya pun jadi jauh lebih segar. Saya merasakan kelegaan yang luar biasa. Nikmatnya sungguh tidak terkira, dan sulit disampaikan dengan kata-kata.

Saya sangat terinspirasi dengan teman saya itu.

Dulu kawan dekat saya pernah ditimpa kesulitan hidup. Saat itu ia hanya bisa makan sehari satu kali, itu pun dengan lauk kerupuk. Kebetulan saya sudah bekerja dan sudah punya uang, jadi saya bisa membantunya. Saya membelikannya beras, telur, mi instan, abon, dan kecap. Syukurlah, ketika persediaan makanan itu habis, dompet teman saya kembali terisi karena uang proyeknya sudah cair.

Jadi kawan, jika suatu saat kita bertemu dan kau sedang kelaparan, sampaikan saja. Nanti kita bisa makan bersama-sama, meskipun hanya dengan menu seadanya.

20 Responses to “Kelaparan (2)”


  1. 1 mawi wijna October 21, 2014 at 2:57 pm

    Ada yang pernah bilang ke saya kalau jangan gampang ngasih uang ke orang yang tidak kita kenal. Ajak orang-orang itu untuk ngobrol lebih detil. Itu supaya jadi lebih tahu mereka, apakah memang penipu atau orang yg sedang ditimpa musibah.

    Menurut saya, tindakanmu membelikan gorengan dan teh itu sudah tepat. Karena beliau kan memang mengeluh lapar. Kalau alasan beliau tidak punya ongkos pulang ke Gunung Kidul dan kalau dirimu memang niat hahaha, bisa diantar sampai terminal. Tapi yang ini agak beresiko.

    • 2 Ditter October 24, 2014 at 7:49 am

      Iya mas, aku suka males ngasih-ngasih uang gitu, wong aku juga butuh uang :))

      Tapi kalau soal makanan, beda lagi, hehe…

      Memang mungkin idealnya dianterin ke terminal ya, trus bayar ongkosnya langsung ke kondekturnya….

  2. 3 Hafidh October 21, 2014 at 4:29 pm

    wah modus kek begini mulai ramai lagi ya.. benar benar sulit di era sekarang untuk bisa mudah mempercayai orang lain, meskipun hati nurani kita terkadang tersentuh oleh keadaan orang lain yang tidak sebaik kita, kadang ada saja yang memanfaatkannya untuk modus untuk memperkaya diri dengan menipu. -_-
    ya komentar diatas ini mungkin udah memberi gambaran sikap yang tepat untuk menghadapi keadaan serupa. Nice post!🙂

  3. 5 Beby October 21, 2014 at 8:04 pm

    Yang sabar ya, Bang.. Doain aja biar si bapak bisa sadar dan diberi hidayah oleh-Nya.

    Menurut ku uda bener kok ngasih makanan. Andai aku dalam posisi Abang jugak bakal ngelakuin hal yang sama..🙂

  4. 8 Breldine October 21, 2014 at 8:44 pm

    Makanan yang paling enak itu, memang makanan yang dimakan saat benar benar lapar. itu makanan pasti rasanya lebih enak daripada makanan mahal.🙂

  5. 10 ysalma October 21, 2014 at 10:12 pm

    Aku juga tau rasanya kelaparan itu Dit, apalagi kalau puasa dan ga sahur beberapa hari berturut-turut, itu pas buka ‘jauh lebih nikmat’, jadi kalau nanti kelaparan ga bakal sungkan bilang laper😀 *ditraktir, yes!*

  6. 12 Ai Wida October 22, 2014 at 8:54 am

    Kelaparan? Saya pernah ngalamin tuh saat perut sedang laper banget dan di rumah ngga ada persediaan makanan apapun. Dan setelah menemukan makanan yang bisa di makan rasanya nikmat banget meskipun sedikit hihi

  7. 14 Pypy October 22, 2014 at 1:10 pm

    Duh ga bisa nih kalo laper lama2, suka emosian..huhuh.. Tp emang bener, makanan yg paling nikmat itu yg dimakan saat kelaparan..haha😀

  8. 16 Lupa Nama October 23, 2014 at 11:57 am

    dia nipu atau ga, itu bukan urusan kita sob, yang penting kita iklas ngasihnya, ngapain harus bukan penipu baru boleh dikasih ???
    nyari pahala ga perlu pilih pilih.🙂

    • 17 Ditter October 27, 2014 at 12:28 pm

      Nyari pahala memang ngga perlu pilih-pilih, tapi kalau mau nyumbang perlu pilih-pilih, Bos. Ada tanggung jawab kita di situ. Monggo dipikirkan lebih lanjut😀

  9. 18 Bibi Titi Teliti October 23, 2014 at 12:23 pm

    mas Ditter…
    Aku sungguh tersentuh mbaca postingan ini lho mas…

    Alhamdulillah sampai seusia ini sih aku belum pernah merasakan rasa lapar yang diceritakan mas Ditter, kecuali memang sedang berpuasa…yang mana harus aku syukuri banget…

    Ternyata hanya sepiring nasi dari kita aja begitu besar artinya bagi yang sedang lapar yah mas…akan kuingat baik2 yah mas…mudah2an bisa menjadi ladang amal buatku yah🙂

  10. 19 Ditter October 24, 2014 at 8:02 am

    Aamiin….

    Bibi telah menangkap inti tulisan ini dengan sangat baik. Terima kasih, Bi😀


  1. 1 Kelaparan (1) | Catatan gado-gado Trackback on October 21, 2014 at 2:46 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,985 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: