Kelaparan (1)

Dari kejauhan, seorang bapak kurus berpakaian lusuh berjalan ke arah saya. Malam itu saya dan seorang kawan sedang nongkrong di seputaran bundaran UGM. Kami berbincang-bincang dengan asyik sambil menyaksikan gadis-gadis manis berseliweran. Ketika itu kami berdua masih mahasiswa semester awal.

Si bapak kurus menyalami kami, lalu memperkenalkan diri. Katanya dia mau pulang ke Gunung Kidul (atau mungkin Wonosari, saya lupa), tapi kehabisan ongkos. Ia mengaku sudah berjalan kaki berpuluh-puluh kilometer, lalu kelelahan. Padahal, rumahnya masih jauh.

“Tolong bantu saya, Dek,” ujar si bapak kurus dengan wajah memelas. “Saya butuh uang untuk ongkos pulang. Saya kelaparan dan kehausan, dari pagi belum makan. Perut saya melilit.”

Saya tertegun. Saya tidak yakin ia kehabisan uang untuk ongkos pulang. Di mata saya, alasan itu terlalu mengada-ngada. Terlebih beberapa hari sebelumnya, teman saya Syarif juga mengalami kejadian serupa.

Ketika itu Syarif sedang makan di suatu warung, lalu dihampiri oleh seorang ibu. Awalnya si ibu hanya berbasa-basi dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan standar seperti “kuliah di mana”, “semester berapa”, dan sejenisnya. Tapi, lama-kelamaan ia curhat bahwa anaknya sedang dirawat di rumah sakit, dan ia membutuhkan banyak biaya.

Karena merasa kasihan, Syarif pun memberikan beberapa lembar uang terakhirnya demi membantu si ibu.

Beberapa hari kemudian, Syarif berjumpa lagi dengan si ibu di warung makan yang lain. Ketika itu si ibu tengah berbincang dengan mahasiswa yang ternyata merupakan teman si Syarif. Syarif pun segera menghampiri mereka berdua. Ia menyapa si ibu dan menanyakan kabar anaknya.

Tak disangka, si ibu mendadak pucat, lalu langsung pergi dari situ. Syarif merasa bingung. Ia berusaha memanggilnya, tapi sang ibu tidak memedulikannya.

Seorang pengunjung warung lantas bercerita kepada Syarif bahwa ibu itu adalah penipu. “Dia memang sering berkeliaran di sekitar sini, Mas,” katanya. “Modusnya ya kayak gitu. Awalnya curhat, lalu ujung-ujungnya minta duit. Kalau ketemu orang kayak dia, mending diabaikan saja.”

Itu adalah nasihat yang penting, dan karena itu Syarif menyampaikannya juga kepada teman-temannya, termasuk saya.

Kembali ke cerita saya tadi, sebenarnya saya juga ingin mengabaikan si bapak kurus itu dan langsung pergi saja dari tempat tersebut. Tapi, rasa iba saya muncul ketika dia bilang bahwa ia sedang kelaparan.

Saya tidak ingin memberinya uang, sebab insting saya kuat mengatakan bahwa ia adalah penipu. Tapi, saya juga tidak mau membiarkan dirinya kelaparan.

Saya meminta si bapak kurus untuk menunggu sebentar. Kemudian saya dan teman saya memacu sepeda motor menuju angkringan terdekat. Di sana, saya membeli beberapa bungkus nasi kucing, gorengan, sate usus, serta teh hangat.

Begitu kembali di tempat yang tadi, si bapak kurus masih duduk di tempatnya. Saya pun segera menyerahkan makanan dan minuman itu kepada si Bapak.

“Terima kasih ya, Nak,” ujar si bapak sambil tersenyum.

Saya mengangguk-angguk senang. Saya berharap, mudah-mudahan makanan itu bisa sedikit melegakannya. Tapi anehnya, si bapak tidak menyentuh makanan itu sama sekali. Ia hanya menyuruput teh hangat, itu pun hanya sedikit. Tingkahnya sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia sedang kehausan dan kelaparan.

Bersambung ke postingan ini.

9 Responses to “Kelaparan (1)”


  1. 1 Beby October 21, 2014 at 8:03 pm

    Uhuk. Keliatan banget mau nipunya..😦

  2. 3 Breldine October 21, 2014 at 8:48 pm

    weww, aku juga pernahhh ketemuu sama si ibu mirip begini. saya lagi ngantri beli pempek, eh tiba” ada ibu ibu bilang dia laper, ya saya kasih cukup beli nasi lauk di warteg.. setelah dia pergi baru aku mikir, dia kan gendut mana mungkin kelaperan engga ada uang hmm..

  3. 5 ysalma October 21, 2014 at 10:07 pm

    saya pernah juga, setengah dipaksa malah sama si ibu-ibu, tapi ga tergoda, secara dia bilang ga ada ongkos, saudara dirawat, tapi dijarinya masih melingkar cincin emas *jari saya aja polos*😀

  4. 7 Pypy October 22, 2014 at 11:05 am

    Iya banyak yg nipu modus kayak si Ibu itu.. Kalo disini udah 3x denger cerita yg sama.. Istri atau saudaranya melahirkan tp krn ga ada duit bayinya ditahan sama pihak RS. Ujung2nya ya minta duit..ckckckc.


  1. 1 Kelaparan (2) | Catatan gado-gado Trackback on October 21, 2014 at 2:45 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,986 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: