Politik

“Dit, aku lagi males banget sama si Reno,” ujar teman saya, Sarah. Saat itu kami tengah asyik bersantai di sebuah kedai sambil menikmati minuman masing-masing.

“Lho, emang kenapa, Sar?” tanya saya. Reno merupakan teman saya dan Sarah, dan setahu saya Sarah cukup akrab dengannya. Jika mereka sampai berselisih, maka saya pun penasaran kenapa bisa demikian.

Sarah menyeruput es cokelatnya, lalu berkata dengan kesal, “Dia udah nggak asik lagi! Sekarang kebanyakan ngomong politik!”

Sarah benar. Belakangan ini Reno memang lagi keranjingan bicara soal politik, baik di Twitter maupun di Facebook.

Tapi, Reno tidak sendirian. Teman-teman saya yang lain pun banyak pula yang begitu. Semuanya berlomba-lomba menyampaikan argumentasi. Kadang-kadang ada juga yang berdebat dengan penuh emosi.

Bagi Sarah dan beberapa orang lainnya, mungkin hal itu sungguh tidak asyik. Mereka merindukan teman-teman mereka yang dulu ─yang jenaka dan yang tidak terlalu serius.

Tapi, dalam hal ini saya punya pandangan lain.

Dulu saya pernah baca sebuah lelucon di internet yang kurang lebih isinya begini. Seorang dosen senior berkata kepada junior-juniornya, “Jangan takut dengan mahasiswa yang nilainya A dan A+, sebab nantinya mereka bakal jadi teman sejawat. Berbaik-baiklah kepada mahasiswa yang nilainya rata-rata B, karena mereka bakal jadi pengusaha besar, menteri, atau dirjen yang bisa memberi kita proyek. Tapi, berhati-hatilah dengan dengan mahasiswa yang rata-rata nilainya C atau D, karena nanti mereka bakal aktif di parpol atau menjadi anggota DPR, lalu merekalah yang akan menentukan nasib kita ini….”

Politik adalah tentang kebijakan publik dan penyelenggaraan pemerintahan. Politik —suka tidak suka, berkait erat dengan semua aspek kehidupan kita. Kasarnya, hidup kita berada di tangan para politikus. Mereka yang menentukan perang, dan mereka pula yang menentukan harga-harga makanan.

Politik —disadari atau tidak, ada di mana-mana, menguasai hidup kita.

Kemarin saya menonton pertandingan final bulu tangkis ganda putra Asian Games 2014. Setelah melewati pertarungan yang sengit, Hendra dan Ahsan berhasil menjadi juara. Saya melonjak girang. Dan pada saat penyerahan medali, seperti biasanya saya terharu begitu mendengar lagu Indonesia Raya berkumandang di negeri orang.

Kemudian terbayang di benak saya tentang perjuangan para atlet lainnya. Well, sekeras apa pun usaha mereka, hasilnya akan tetap jalan di tempat jika tidak didukung oleh kondisi politik yang baik.

Tengok misalnya dunia sepak bola kita. Jumlah penduduk kita ratusan juta jiwa, dan itu merupakan potensi besar yang luar biasa. Pemain-pemain kita juga terbukti tidak kalah dibanding negara-negara lainnya. Tapi kenapa prestasi sepak bola kita cuma begitu-begitu saja?

Persoalannya mungkin rumit. Tapi, itu semua terjadi di tingkat elite politik. Mereka ribut-ribut sendiri, mementingkan isi perut sendiri. Masyarakat dipaksa menelan kekecewaan karena jagoan mereka kalah terus-menerus.

Jadi, mengetahui teman-teman mulai keranjingan bicara soal politik di media sosial, saya justru merasa senang. Hal itu mungkin membuat mereka jadi terlihat sok tahu, tapi paling tidak mereka sudah peduli.

Ya, kita memang perlu peduli pada politik.

Tentu kita tidak ingin menyerahkan nasib kita pada politikus brengsek yang cuma ingin memperkaya diri sendiri, bukan?

26 Responses to “Politik”


  1. 1 Pypy September 30, 2014 at 11:57 am

    Enak kok bicara politik, asal sama yg ga sekedar ngomong tp yg memang tau berita2 nya😀

  2. 3 Kimi September 30, 2014 at 12:04 pm

    Politik itu sebenarnya baik… Asalkan digunakan untuk tujuan yang baik. Caranya juga harus baik. Sementara politik di Indonesia? Ya begitulah. Aku juga gak minat ngobrolin politik. Mending ngobrolin topik perselingkuhan aja deh.😆 *dikeplak*

  3. 5 ndutyke September 30, 2014 at 1:19 pm

    Topik politik itu rawan ya. Aku jg males ngomongin politik.

  4. 7 duniaely September 30, 2014 at 4:44 pm

    Enggan kalau bicara soal Politik di tanah air.

  5. 9 ysalma September 30, 2014 at 9:09 pm

    Sekarang waktunya yang muda dan pinter yang berpolitik,

  6. 11 nuel October 1, 2014 at 6:47 am

    Wah bentar lagi blog ini pindah haluan nih. Gabung di parpol apaa, mas? :p

  7. 13 Adie Riyanto October 2, 2014 at 8:03 am

    Kalimat dosennya itu bener-bener bikin #jleb banget. Kayaknya memang begitu kali ya fenomena sekarang. Temen-temen saya yang notabene dulu di kelas termasuk kelompok ‘pendiam’ di kelas, jadi tampak kelihatan vokal dan seolah mengerti segalanya begitu mengomentari tentang politik. Tapi karena saya tahu latar belakangnya, dan kedalaman argumennya sangat dangkal, makanya sering males menanggapi obrolan begituan. Buang-buang waktu hehehe🙂

  8. 15 Bibi Titi Teliti October 2, 2014 at 9:28 am

    aku pun paling males ngomongin politik lho mas…suka puyeng sendiri🙂

    Dan itu berarti mahasiswa yang nilainya C-D terancam bakal jadi politikus gituh…hihihi…tapi aku kok gak yah mas?…bhuahahaha…

  9. 17 Chrismana"bee" October 2, 2014 at 4:20 pm

    Saya ngeri kalo bicara politik di medsos, karena nggak ngerti dan nggak mau sok-sok’an ngerti, ntar ada yang salah bisa2 dilaporin polisi😀
    paling kalo bicara politik cuma sama si mas & temen deket

    • 18 Ditter October 3, 2014 at 8:29 pm

      Memang pembicaraan politik di media sosial itu rawan konflik, Mbak. Seorang yg biasanya pendiam bisa tiba-tiba garang dan kasar kalau sudah terkait perbedaan politik😀

  10. 19 Aul-home.blogspot.com October 2, 2014 at 4:24 pm

    Untunglah saya nggak begitu suka politik

    Apalagi politik indonesia

    -_-

  11. 21 Beby October 5, 2014 at 9:10 am

    Aku ngga ngerti politik, trus nyoba ikutin tapi jadi pening sendiri.. Jadi ya gitu deh.. *komen ngga penting*

  12. 22 chandra iman October 9, 2014 at 9:47 am

    iya saya juga tidak suka kalo kita dipimpin sama politikus yang tidak baik, hanya saja saya lebih baik menjauh dari teman yang acap kali berbicara politik :p

  13. 23 bisnis online ptc October 22, 2014 at 12:39 pm

    Karena tiap hari disuguhi tontonan politik terus, mau tidak mau kita juga bicara tentang politik

  14. 25 senyumperawat.com November 19, 2014 at 11:07 pm

    politik itu makanan apa ya?? hahaa
    aroma politik di indonesia sudah gak sehat lagi


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,988 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: