Proses

Sewaktu kecil, beberapa tetangga dan kerabat dekat menjuluki saya dengan sebutan yang gaul abis: ‘anak pantat’.

Bukan… itu bukan karena muka saya mirip dengan belahan pantat. Saya disebut demikian karena dulu sering menggelendot di balik tubuh ibu saya.

Ya, dulu saya memang anak yang manja. Apa-apa selalu dikerjakan orangtua. Namun, saya berusaha untuk tidak membawa sifat manja itu pada masa dewasa. Saya belajar untuk menjadi orang yang mandiri, menyelesaikan berbagai masalah sendiri tanpa perlu merepotkan keluarga.

Meski demikian, saya merasa sikap manja saya sewaktu kecil menimbulkan watak kurang baik pada diri saya. Dulu saya tidak terbiasa mengerjakan sesuatu sendiri, jadi saya tidak terlalu akrab dengan proses. Akibatnya, saya jadi tidak sabaran.

Kalau ada masalah, saya ingin masalah itu cepat selesai. Kalau punya keinginan, saya ingin keinginan itu segera tercapai.

Dalam hal menulis misalnya, saya selalu berambisi agar tulisan yang saya buat bisa langsung bagus pada saat itu juga sehingga tidak perlu capek-capek mengulangnya lagi. Padahal, kata guru menulis manapun, agak mustahil kita bisa menghasilkan tulisan yang baik dalam satu kali menulis saja, kecuali kalau benar-benar berbakat dan terlatih.

“Writing is rewriting,” begitu kata para pakar menulis. Jadi, langkah awalnya adalah tumpahkan dulu semua isi pikiran kita, tidak usah memedulikan hasil tulisan yang kacau.

Bersabarlah, dan tulis dulu saja semuanya. Maka setelah itu kita akan mendapatkan draf pertama yang kaya ide, tapi biasanya secara bahasa buruk.

Selanjutnya kita hanya perlu menulis ulang draf pertama itu hingga menghasilkan tulisan yang jauh lebih baik. Kalau masih belum baik juga, maka tulis ulang lagi. Begitu seterusnya hingga akhirnya didapat sebuah tulisan yang benar-benar memuaskan.

Saya tahu bahwa sifat tidak sabaran bukanlah hal yang baik, dan karena itu saya ingin menyingkirkannya pelan-pelan. Saya ingin menjadi lebih sabar dan ingin lebih bisa menikmati proses.

Saya akan belajar untuk melakukannya.

Dan tulisan ini adalah salah satu latihannya.

Saya menulisnya cepat saja, menumpahkan isi pikiran saya, menahan ego untuk membuat tulisan yang langsung bagus, berusaha tidak menggunakan tombol backspace, dan seterusnya.

Dan kau tahu, hasilnya benar-benar buruk :))

Tapi, itu adalah prosesnya. Maka kemudian saya pun meninggalkan tulisan itu dengan hati ringan untuk makan malam. Saya kembali ke kamar dalam keadaan kenyang, lalu menulis ulang draf yang buruk tersebut sehingga menjadi lebih baik.

Well, ternyata prosesnya cukup menyenangkan.

Selama ini saya hampir tidak pernah mau mencobanya, sebab rupanya ego saya terlalu besar. Saya kesulitan mengalahkan hasrat untuk langsung membuat sesuatu yang memuaskan pada saat itu juga.

Tapi, kali ini saya berhasil melakukannya.

Itu adalah langkah awal, tapi memang kecil saja. Ke depan saya ingin lebih sabar lagi dan ingin lebih menikmati proses dalam melakukan apa pun. Dan hal itu akan saya mulai dengan menikmati proses yang kecil ini.

21 Responses to “Proses”


  1. 1 ysalma September 11, 2014 at 10:42 pm

    saya sepertinya juga masih termasuk kategori ‘kurang sabar’ itu,
    setelah di kirim, baru terpikir, itu kan harusnya begitu. Iya yang bisa di edit atau dihapus, nah kalau yang ga bisa di perbaiki? Nyesel terburu-buru.

  2. 7 ronal September 12, 2014 at 7:31 am

    bener bgt..aku juga merasa begitu pengen langsung nulis sesuatu yg bagus dan bisa menjual…
    padahal bagaimana mau bagus kalau nulis aja ngak..
    kalo udah nulis kan walaupun jelek bisa diperbaiki…
    btw julukannya bikin aku ketawa geli hehe

  3. 9 Beby September 12, 2014 at 8:50 am

    Selama ini aku menulis ngga pernah pakek draft..😦 Yang muncul ide ya langsung ketik en publish. Aku ngga pakek proseeeees.. Aku hinaaaaa..😥

  4. 12 alvi September 12, 2014 at 8:50 am

    Setuju dit.
    Proses adalah yg utama.
    Banyak orang hanya ingin hasil yg instan.

  5. 14 mawi wijna September 12, 2014 at 9:47 am

    Kalau diriku sih, kecepatan nulis satu paragraf (~5 baris kalimat) itu sekitar 5 menit. Itu kalau pas nulisnya sambil mikir perkara diksi yang digunakan dan pilihan kata-katanya. Kalau langsung nulis “tancap gas” satu paragraf ya bisa 1 menitan. Tapi ya kata-katanya berantakan, hahaha.

    Habis itu kalau sudah tersimpan di draft sebelum diterbitkan, kalau lumayan “selo” bisa diriku cek ulang per paragrafnya. Kira-kira makan waktu 3 menit per paragraf lah. Dan proses cek ulang ini bisa terjadi berulang-kali (kalau “selo” :p). Alhasil satu artikel (yang menurutku siap layak terbit) butuh waktu sekitar 1-2 jam pengerjaan. Lama juga ya…

  6. 16 Kimi September 12, 2014 at 3:04 pm

    Dalam menulis blog, saya termasuk orang yang gak sabaran. Kepinginnya langsung beres saat itu juga tanpa harus melalui proses edit, rewriting, atau apapunlah itu namanya.😛

  7. 18 chandra iman September 16, 2014 at 10:20 am

    saya tukang coret2 dulu, baru nulis😀

  8. 19 kekekenanga September 18, 2014 at 11:10 am

    hmmm nggak sabaran juga kayanya ada didiri aku deh.. sprti contoh menulis, tanpa di koreksi ulang langsung ajah klik publish, setelah beberapa menit baru kepikiran ide2 yang baru muncul.. kemudian edit hahahaa…

    Inspiratif Dit

  9. 20 Erica January 19, 2015 at 3:33 am

    Apart from those companies that richmond hill high speed internet provider cable
    fiibre are to be careful enough iin the phone company.


  1. 1 Dua Puluh Tujuh | Catatan sehari-hari Trackback on December 30, 2014 at 2:23 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,985 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: