Flo dan Orang-Orang yang Selo

Florence Sihombing mungkin sama sekali tidak menyangka bahwa status yang ia tulis di akun Path-nya bakal membuatnya “terkenal”. Beberapa hari terakhir ini namanya memang sering disebut-sebut di media sosial. Bagi yang belum tahu kasusnya, izinkanlah saya untuk menceritakannya kembali di sini.

Oh iya, untuk memudahkan cerita, saya akan menyebut sang tokoh utama dengan nama ‘Flo’ saja (sok akrab bingits, ya).

Dikisahkan, Flo ingin membeli bensin di salah satu SPBU di kota Jogja. Saat itu, Jogja tengah dilanda kepanikan karena BBM bersubsidi sedang dibatasi. Akibatnya, terjadi antrean Premium di mana-mana, termasuk di pom bensin yang Flo datangi.

Di tempat itu, Flo tidak ikut mengantre di bagian Premium. Ia ingin membeli bensin nonsubsidi saja, dalam hal ini Pertamax 95. Untuk itu, ia pun menghampiri pom Pertamax 95, di mana saat itu beberapa mobil sedang mengantre.

Flo meminta kepada si petugas agar mengisi sepeda motornya dengan Pertamax 95. Namun, si petugas menolak karena menganggap Flo telah menyerobot antrean. Flo bersikeras minta dilayani, tapi ternyata petugas pom juga keras kepala. Ia tetap tidak mau melayani Flo. Ia memintanya untuk mengantre seperti para pembeli yang lain.

Masalahnya, di sana tidak ada bagian pom Pertamax 95 yang khusus menerima sepeda motor. Jadi, Flo harus mengantre bersama mobil-mobil. Padahal, ia mengaku sedang terburu-buru, mau ke rumah sakit.

Dalam bayangan saya, Flo mencoba bernegosiasi, barangkali si petugas mau mendahulukannya. Toh mobil-mobil itu bisa menunggu sebentar saja, sebab proses pengisian BBM ke sepeda motor tidak memakan waktu yang lama. Namun, negosiasi itu sia-sia —si petugas masih tetap menolaknya.

Melihat kejadian tersebut, orang-orang yang berada dalam antrean panjang bagian premium pun sontak meneriaki Flo. Sama seperti si petugas pom, mereka juga menganggap Flo tidak mau mengantre.

Akhirnya Flo pun pergi dengan hati kesal. Selanjutnya ia menumpahkan kekesalannya itu di media sosial —Path, dalam bahasa yang sangat kasar. Ia menulis, “Jogja miskin, tolol, dan tak berbudaya. Teman-teman Jakarta-Bandung jangan mau tinggal di Jogja.

Salah satu teman Flo bertanya ada apa, dan kemudian Flo menjawab, “Orang Jogja bangs*t. Kakak mau beli Pertamax 95 mentang-mentang pake motor harus antre di jalur mobil trus ga dilayani. Malah disuruh antri di jalur motor yang stuck panjangnya nggak ketulungan. Diskriminasi. Emangnya aku ga bisa bayar apa. Huh. KZL.

Membaca status tersebut, muncul pertanyaan besar di kepala saya. KZL itu apaan, sih???

Kita tahu, Path merupakan aplikasi yang lebih privat dibanding media sosial lainnya. Status-status yang kita pasang di Path hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang menjadi teman kita.

Mungkin karena alasan privat itulah, Flo berani menulis status dengan seenak udelnya —kalau memang ia punya udel. Mungkin ia lupa, teman Path-nya bisa saja meng-capture status tersebut, lalu mengunggahnya di media sosial lain yang lebih terbuka, seperti Facebook atau Twitter.

Dan sayangnya, memang itulah yang terjadi.

Begitu status tersebut menyebar, sontak Flo menjadi bulan-bulanan para netizen. Kasus ini semakin panas ketika seseorang membuka identitas Flo. Ia menyebutkan bahwa Flo merupakan seorang mahasiswi S2 Universitas Gadjah Mada (UGM).

Sekarang mari perhatikan: “seorang mahasiswi S2 UGM yang notabene berpendidikan, telah mengumpat dan menghina kota yang dicintai banyak orang”.

Well, sangat menarik bukan? Ya, itu sungguh merupakan makanan empuk bagi media-media yang selalu lapar akan berita menarik. Padahal, Flo sebelumnya sama sekali tidak membawa-bawa nama UGM.

Selanjutnya berita tentang Flo menyebar dengan sangat cepat bak wabah kolera. Bila tadinya hanya ramai di FB, Kaskus, dan Twitter, maka kini juga ramai di portal-portal berita.

Maklum, portal-portal berita online sangat lapar akan peristiwa menarik, entah penting atau tidak. Kadang-kadang, satu peristiwa saja bisa dibuat menjadi puluhan postingan berita, dan itu semua sangat berguna untuk meningkatkan traffic mereka.

Sementara itu, hukuman sosial yang harus diterima Flo sungguh luar biasa. Orang-orang beramai-ramai mengumpatnya. Sebagian memakai kata-kata yang sangat kasar, jauh lebih kasar dibandingkan umpatan yang pernah Flo lontarkan.

Tapi, ternyata makian-makian itu pun masih belum cukup.

Kamis sore, sekelompok orang berkumpul dan melakukan aksi damai di bundaran UGM, “mengusir” Flo dari Jogja karena dianggap telah menghina Jogja.

Membaca berita itu, spontan saya berseru, “Woh, selo bingits!”

Maksudnya, apakah tidak ada hal lain yang lebih penting untuk dikerjakan selain menanggapi tingkah kekanak-kanakan Flo dengan cara yang “sampai segitunya”? Melakukan persiapan untuk menghadapi ASEAN Free Trade Area 2015, misalnya?

Keriuhannya tidak berhenti sampai di situ. Tidak lama kemudian, sebuah LSM melakukan hal yang lebih “mantap” lagi. Mereka melaporkan Flo ke polisi dengan berpegangan pada Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Dalam undang-undang tersebut, dinyatakan bahwa seseorang yang menulis unsur penghinaan, pelecehan, atau kesusilaan, dapat diancam secara pidana.

Hmmm… itu hak mereka juga sih kalau mau menuntut Flo. Tapi tanggapan saya sama saja, “Woh, selo bingits!”

Apakah tidak ada hal lain yang jauh lebih penting untuk diperjuangkan? Menyangkut kepentingan kaum miskin dan terjajah, misalnya?

Well, Flo mengumpat karena kesal, dan itu adalah hal yang sangat kekanak-kanakan. Ia memang menghina, tapi itu hanya ungkapan kekesalannya saja, didukung oleh tabiatnya yang sepertinya memang suka “waton njeplak”.

Kalau kita marah dengan tingkah laku Flo, mestinya balas memakinya di media sosial pun cukup —walaupun ini juga bukan tindakan yang bijak. Dan jika kita mengaku sebagai pecinta Jogja yang selalu ingin melakukan yang terbaik untuk Jogja, maka ada banyak hal lain yang jauh lebih penting untuk dilakukan. Misalnya, mendukung dan melaksanakan program kota. Terkait hal ini, saya punya contoh.

Dulu, Jogja pernah membuat program sego segawe (sepeda kanggo sekolah lan nyambut gawe — sepeda untuk bersekolah dan bekerja). Program ini memiliki tujuan yang sangat bagus, di antaranya adalah mengurangi polusi kota, serta mengingatkan kembali akan sejarah Jogja yang dulu pernah dijuluki sebagai kota sepeda.

Program ini tentu saja membutuhkan pengorbanan warganya. Di zaman modern seperti sekarang ini, ada berapa banyak sih orang yang mau panas-panasan naik sepeda untuk berangkat sekolah atau bekerja?

Kenyataannya, program tersebut tidak berhasil.

Begitulah, jangan sampai kita menjadi bangsa yang suka mementingkan hal-hal yang sesungguhnya tidak penting, tapi malah mengabaikan hal-hal yang sebenarnya jauh lebih penting.

Tapi apa pun itu, pelajaran penting ini harus selalu kita ingat: jagalah selalu ucapan dan tutur kata kita, terlebih di media sosial.

Well, dengan menulis catatan tanpa juntrungan ini, sepertinya saya pun termasuk orang yang selo.

33 Responses to “Flo dan Orang-Orang yang Selo”


  1. 1 ysalma August 30, 2014 at 2:57 pm

    saya juga yang sedang termasuk selo sepertinya, setelah dipertanyakan keberadaan ‘majikan’ saya🙂

  2. 3 Kimi August 30, 2014 at 3:06 pm

    Aku gak ngerti dengan mereka yang menghakimi Flo. Entahlah… Aku bingung.😦

  3. 5 duniaely August 30, 2014 at 3:27 pm

    lagi demam mbahas kasus ini di mana mana ya

  4. 7 aqied August 30, 2014 at 3:30 pm

    aku juga selo banget kayanya baca post ini n ngetik komen ini.
    *eh

  5. 9 Jery Yanuarlan August 30, 2014 at 10:57 pm

    mahasiswi S2 UGM kok kelakuannya kayak begonoh ya mas, benar2 malu2in…apa mungkin juga ia merasa pintar karena hal tersebut gitu ya mas jadi ia merasa hal yang dilakukannya benar juga. Benar2 harus hati2 kalau mau berekspresi di dunia maya…

  6. 11 Beby August 31, 2014 at 10:26 am

    Makanya sampek sekarang aku ngga punya Path *ngga nyambung*

  7. 14 ronal September 1, 2014 at 11:10 am

    menurutku sih hukuman sosial sudah cukup..tidak harus sampai dipenjara seperti diberitakan baru2 ini :(\
    jempolmu harimaumu😀

  8. 16 chandra iman September 1, 2014 at 11:37 am

    setuju bro, penuh penjara nantinya, banyak lho ada yang nyebut kota x karena kemacetannya yang super, belum lagi ada yang bilang kota y mengirimkan banjir, bahkan sampai media mainstream juga menuliskan hal yang sama, kenapa mereka ga masuk penjara yah?🙂 ataukan ini dijadikan sebagai pengalihan isu, ah entahlah… yang jelas kita harus berhati-hati ketika berbicara entah di offline maupun online

  9. 18 Pypy September 1, 2014 at 4:37 pm

    Lebay emang kalo sampe penjara sih..

    Btw, selo itu apa deh? hihi😀

  10. 20 Adie Riyanto September 1, 2014 at 4:41 pm

    Kzl itu kesel, Mz itu mas. Kosa kata baru anak gahol hahaha🙂

  11. 22 Bibi Titi Teliti September 1, 2014 at 5:15 pm

    kita ini pada dasarnya emang pada seneng ‘drama’ kali yah…
    jadi kalo ada kasus kayak gini, langsung deh panjaang urusannya…
    bentaran lagi bakalan keluar sinetron atau FTV nya kali…hihihi…
    *yang komen pun ikutan mendramatisir biar seru*….hihihi…

  12. 24 ochimkediri September 2, 2014 at 11:09 am

    oooh selo itu nggak ada kerjaan yak😛 #baru tahu

  13. 25 Maulana September 2, 2014 at 11:26 am

    Kok menjadi berlebihan gitu ya, kesannya !

  14. 26 mawi wijna September 2, 2014 at 12:51 pm

    Aiiih, dirimu selo banget ikut2an membahas ini Brow, hahaha.😀

    Klo saya pikir sih, andaikata itu mbak Flo nggak mengeluh di media sosial, pastilah ia terhindar dari masalah kayak gini. Emosi itu bikin gelap mata. Alhasil, bakal jadi sasaran empuk. Dan itulah yang terjadi🙂

    Eh, menurut saya sih, blogger itu juga termasuk orang-orang selo lho. Karena mayoritas menulis tanpa memperoleh imbalan langsung.😀

  15. 28 cumilebay.com September 4, 2014 at 11:03 am

    Sekarangs aat nya “INDONESIA BAGIAN KEPO” semua nya ikut menghujat, semua nya ikut mengadili, semua nya ikut merasa tersinggung dan aku juga kadang begitu hahaha.
    Tapi sumpah tragis banget nasib flo, lain kali kita mesti ati2 mengunakan media sosial karna ngak semua orang bisa mengerti apa maksud kita #halah

  16. 30 Fahmi (catperku.info) September 12, 2014 at 3:35 pm

    kalau menurut saya, si flo ini emang lagi kena sial aja deh😀 tahu sendiri kan negara indonesia bagian social media itu orangnya banyak yang suka bikin heboh😀

  17. 32 www.pinterest.com September 26, 2014 at 3:21 pm

    And who could fault the little boy for his sobering, direct
    answer. Mc – Nabb would more than make up for it by improving his performance the following year during the 2000 season. Tyler
    is a handsome and dark man with close-cropped brown hair and brown eyes.


  1. 1 Laki-laki dan Perempuan | Catatan gado-gado Trackback on September 7, 2014 at 10:25 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,985 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: