Anak Perempuan dan Ayahnya

Every girl may not be queen to her husband, but she is always a princess to her father (NN).

Beberapa hari yang lalu, saya iseng membuka Facebook. Dari sekian postingan foto yang muncul di linimasa, ada satu foto yang membuat saya terharu.

Foto tersebut begitu personal, diposting oleh seorang kawan —perempuan, yang saat ini sedang kuliah di Eropa. Bentuknya berupa gabungan foto ayahnya yang menampilkan sang ayah dalam berbagai ekspresi dan usia.

Foto editan itu juga berisi coretan khas anak-anak berupa ucapan selamat ulang tahun. Kata-katanya mungkin sebenarnya standar saja, sebagaimana ucapan ulang tahun pada umumnya. Tapi, cara teman saya dalam mengemas ucapan itu membuat saya tersentuh.

Well, bagaimanapun ia sudah dewasa. Kau tahu, usianya sudah lebih dari seperempat abad, dan ia juga sudah mandiri. Tapi, sedewasa apa pun dia, ternyata ia masih tetap merupakan putri kecil ayahnya.

Saat ini ia sedang berada jauh di perantauan. Dan dari foto yang ia posting itu, saya merasakan betul kerinduannya terhadap sang ayah. Inilah yang membuat saya terharu.

Sebenarnya sih saya memang mudah tersentuh oleh hubungan antara anak perempuan dan ayahnya. Seorang perempuan —di mata saya, akan selalu menjadi putri kecil sang ayah. Hal ini sering saya temukan dalam kehidupan sehari-hari.

Ya, tidak jarang saya melihat seorang perempuan dewasa berlaku seperti anak-anak di depan ayahnya. Dan sebaliknya, saya juga sering melihat seorang ayah memperlakukan putrinya seperti anak-anak, meskipun putrinya itu sebenarnya sudah dewasa.

Dalam pernikahan —khususnya pada tradisi patrilineal, hak dan kewajiban seorang perempuan berpindah dari keluarganya kepada suaminya. Jadi apabila seorang perempuan menikah, ibaratnya suaminya telah mengambil perempuan itu dari pangkuan sang ayah.

Saya rasa ini adalah hal yang cukup berat bagi ayah manapun. Kendalinya terhadap anak kesayangannya sudah tidak penuh lagi. Ia pun sudah tidak bisa lagi menjaganya sepanjang waktu, seperti yang pernah ia lakukan pada masa lalu.

Karena itu, sulit rasanya membayangkan jika kelak saya harus menikah dengan seorang perempuan tanpa restu dari ayahnya.

Well, rasanya saya tidak akan sanggup untuk melakukannya. Saya tidak akan tega “mengambil” seorang gadis begitu saja dari pangkuan ayahnya yang sangat mengasihinya dan telah membesarkannya dengan penuh cinta.

Jika kelak tiba saatnya saya harus melamar seorang perempuan, kalau memungkinkan saya ingin berbicara empat mata terlebih dahulu dengan ayahnya. Saya ingin meminta beliau menceritakan momen-momen indah yang pernah ia lewati bersama sang anak.

Nantinya cerita-cerita itulah yang akan menjadi pengingat saya. Pengingat bahwa saya telah “mengambil” sesuatu yang sangat berharga dari seorang ayah, dan karena itu saya harus menjaganya dengan baik, sebagaimana sang ayah telah menjaganya dengan baik pula.

35 Responses to “Anak Perempuan dan Ayahnya”


  1. 1 aqied August 18, 2014 at 8:26 am

    sweet bangeeet.
    kangen bapaaaak T_T

  2. 3 putricisompet August 18, 2014 at 8:29 am

    baca tulisan ini membuat saya sedikit terharu.. Inget bapak di kampung halaman… meskipun saya belum pernah melihat bapak saya meneteskan air mata, tapi saya pun yakin kalau saya menikah nanti.. bapak akan merasa kehilangan. jadi sedih

  3. 5 mawi wijna August 18, 2014 at 11:03 am

    Saya pernah dengar, katanya anak lelaki itu kebanggaan orangtua, sedangkan anak perempuan itu kesenangan orangtua

  4. 7 Kimi August 18, 2014 at 11:27 am

    Aku jadi kangen Papaku…😦

  5. 9 ysalma August 18, 2014 at 12:23 pm

    jadi merindukan bapak
    *semoga beliau mendapat terbaik disisi-Nya*
    bapak saya mempersiapkan semua yang dia mampu untuk masa depan anak-anaknya, tapi memang agak lebih pada anak2 perempuannya🙂

  6. 11 chandra iman August 18, 2014 at 1:35 pm

    anak perempuan… lom bisa saya jawab sih dit secara anak saya masih1,5 tahun dan saya baru merasakan punya anak juga, so far saya sih enjoy

    beberapa waktu yang lalu saya membaca notes kawan saya, intinya seorang anak perempuan lebih care terhadap orang tua nya🙂

    dulu sih saya ingin anak laki-laki supaya bisa maen bareng, well maen bareng anak perempuan not bad lah saya masih bisa main bola bareng hehe

  7. 13 yusmantara August 18, 2014 at 2:14 pm

    Saya sangat salut dengan agan, memetik suatu pelajaran dari sebuah foto…..

  8. 15 Joe Ismail August 18, 2014 at 3:48 pm

    indah sekali kata-katanya….

  9. 17 Jery Yanuarlan August 18, 2014 at 11:05 pm

    sebagai seorang ayah yg memiliki anak perempuan, saya sangat setuju sekali dengan artikel ini, mmmm gimana ya…memang kadang susah diungkapkan sih hubungan anak prempuan dngan sang ayah, spertinya ada kdekatan emosional yg lebih dari biasanya

  10. 19 Bibi Titi Teliti August 19, 2014 at 10:16 am

    Kayla pun sekarang sering bikin kartu ucapan gitu baik buat Abah atau buat aku mas…

    Aku dan Kayla pun sering surat suratan gak penting gitu lah…
    Dan semuanya aku simpen, sebagian aku tulis di blog juga…
    Kenang2an kalo anak2 udah gede nanti🙂

  11. 21 Beby August 20, 2014 at 7:32 am

    Aku jugak dekat sama bapake.. Apalagi karena beliau menurunkan hampir 100% sifatnya.. -_-

    Dan bener sik kalok beliau selalu aja memperlakukan aku kayak anak kecil.. Padahal uda mau 23 taun ginih😛

  12. 23 Akhmad Muhaimin Azzet August 20, 2014 at 11:35 am

    Momen menantu yang berdialog dengan ayah mertua tentang momen yang penting bersama anaknya itu sungguh juga momen yang luar biasa, Mas.

  13. 25 kekekenanga August 20, 2014 at 5:02 pm

    2 paragraf terakhir sangat menyentuh sekali😦
    Seandainya semua laki2 berfikiran seprti itu, sayangnya tidak🙂

    Kedekatan ku dengan Papa pun sangat luar biasa, terlebih jadi anak tunggal selama 11 tahun. Yahh pasti Papa lah org yang paling sedih ketika anak perempuannya di ambil oleh orang lain (suaminya) meski kesedihannya itu tidak akan pernah diperlihatkan ke anaknya..

    Papa adalah satu2nya laki2 yang tidak pernah menyakitiku🙂

    Thanks Ditter untuk postingannya

  14. 29 ronal August 20, 2014 at 7:26 pm

    saya punya anak perempuan mas..dan saya merasa dia lebih dewasa dari umurnya…tp kadang dalam hati saya ada doa perasaan jahat yakni semoga dia selalu jadi putri kecil kami dan tak beranjak dewasa dan meninggalkan saya hehe…its complicated

  15. 31 BangKoor August 22, 2014 at 9:23 am

    Hmm.. itu salah satu quote yang aku suka loh mas..

    Makanya aku pengen punya anak perempuan

  16. 33 Pypy August 22, 2014 at 3:31 pm

    Dalem banget deh Dit, jadi terharu :’) Iya sih, gw dah umur 27 tapi didepan papa tetep kayak anak kecill..hahah :p Kalo makan minta disuapin, minta dibacain cerita..haha.. Mumpung belum nikah jadi puas2in kalo pas pulang rumah😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,988 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: