THR

Biasanya THR menjadi sesuatu yang dinanti-nanti oleh para pekerja menjelang lebaran, termasuk saya. Kita bisa menggunakan uang THR itu untuk menyelenggarakan acara istimewa di hari raya, yakni berkumpul bersama keluarga.

Dulu pas masih kecil, saya dan teman-teman sebaya sering menerima uang dari saudara pada hari raya. Nah, uang yang kami terima itu juga kami sebut dengan THR. Beberapa kawan menyebutnya dengan angpao, tapi sebutan ini kurang populer.

Oh iya, kadang-kadang ada juga yang menyebutnya dengan salam tempel. Jadi begitu selesai salaman, eh ada yang nempel.

Setiap kali berkumpul dengan keluarga besar dari pihak ayah di hari raya, saya selalu senang. Sebab, mereka akan memberikan THR kepada anak-anak dalam jumlah yang lumayan. Saya selalu panen uang setiap kali mengikuti acara itu.

Tidak lama setelah tiba di lokasi acara, biasanya saya langsung sibuk berburu makanan yang terhidang di beberapa meja. Nah, menjelang acara berakhir, biasanya para pakde dan oom akan mengeluarkan segepok uang lembaran baru.

Saat itu saya tahu, perburuan makanan telah selesai, dan tiba saatnya untuk melakukan perburuan lain.

Biasanya saya selalu menjadi antrean pertama yang bersalam-salaman dengan pakde dan oom yang memegang segepok uang. Dengan segepok uang itu, mereka jadi terlihat keren dan ganteng.

Setelah saya menyalami dan mencium tangan mereka, selanjutnya mereka akan menyodorkan selembar uang baru kepada saya. Uang itu begitu menyilaukan mata dan membuat hidung saya kembang kempis.

“Wah, nggak usah, Oom,” begitu kata saya, pura-pura menolak. Hmmm, rupanya dulu saya sudah pintar jaim.

“Eeh, nggak apa-apa… ini buat jajan,” kata si Oom.

Untunglah si Oom berkata begitu. Kalau tidak, mungkin malamnya saya bakalan sulit tidur.

“Wah, terima kasih, Oom!” seru saya, lalu segera melangkah ke saudara berikutnya yang sudah siap dengan segepok uang.

Kau tahu, perburuan harus dilakukan dengan cepat dan akurat supaya tidak kehabisan, mengingat pesaing-pesaing saya juga cukup banyak.

Sepulangnya dari acara itu, saya selalu membawa banyak uang ─tentunya untuk ukuran anak-anak. Begitu sampai di rumah, tidak henti-hentinya saya menghitungnya sambil cengengesan. Kemudian saya pun membuat rencana-rencana, membuat daftar barang dan mainan yang hendak saya beli dengan uang THR tersebut.

Saat itu, dunia benar-benar terasa indah.

Demikianlah, kenangan masa kecil saya tentang THR memang sangat menyenangkan. Dan sepertinya semua anak-anak pun merasa demikian. Tentu kamu juga begitu, bukan?

35 Responses to “THR”


  1. 1 aqied August 2, 2014 at 11:48 am

    masa kecil aku gak akrab sama THR. soalnya di Papua terus lebarannya jd gak ketemu pakde bude paklek bulek. baru mulai ngerasain pas SMP-SMA sampe kuliah. nominalnya lebih gede pastinyaaa. hahahaha
    masa kekosongan tuh pas 2012. gak nerima THR karna ud lulus. tp gak bisa nyangoni sodara2 yg kecil2 juga karna lagi pengangguran (baru resign).

  2. 3 Kimi August 2, 2014 at 1:00 pm

    Aku gak pernah tuh dapat THR dari Om, tante, atau sodara2 yang lain.😛

  3. 5 Jery Yanuarlan August 2, 2014 at 2:56 pm

    ehehe, pura2 menolak tapi kalau beneran ndak dikasih bakal nyesel banget tuh…ternyata dari kecilpun kita sudah belajar modus ya😀

  4. 7 abi_gilang August 2, 2014 at 5:37 pm

    Pasti sekarang gantian donk, mesti bagi2 THR bukan keponakan2nya:mrgreen: Selamat Idul Fitri 1435 H “Taqobalallohu Minna Wa Minkum”🙂

  5. 9 masroh August 2, 2014 at 6:47 pm

    THR oohhh THR. kenapa dirimu harus muncul saat lebaran aja -..-

  6. 11 agen bola tangkas online August 2, 2014 at 10:13 pm

    s Haiti Relief Bounty Tournament will match all bounty money won and
    donate the total relief efforts to Haiti up to $50,000 and
    also contribute all tournament fees collected. You are the one that controls your fate and
    the winning numbers are your fate. Some Asians prefer the
    long tedious hours playing Mahjong while others gamble heavily on Toto or more popularly known as Lotto in Europe.

  7. 13 Ni Made Sri Andani August 2, 2014 at 11:35 pm

    wah..saya tidak perrnah menerima THR waktu kecil. Kelihatannya tidak ada kebiasaan memberikan THR kepada anak kecil di kampung saya, walaupun itu hari raya..

  8. 15 monicakrisna August 3, 2014 at 1:17 am

    Aku pun begini. Malah nih yah dulu duitnya belom ada di tangan aku udah mulai berkhayal “beli apa ya entar?”. Hahaha. Tapi bagian basa basi nya aku enggak sih soalnya dari dulu ga bisa basbisbus gitu, kalo dikasih yaudah terima tapi bilang makasinya langsung lebay gitu deh “Makasih banyak ya… Makasih… Makasih…” Hahaha.

  9. 17 Vinda Filazara August 3, 2014 at 12:32 pm

    Alhamdulillah yah, sampai sekarang masih turun-temurun tuh tradisi itu. Meski udah gede gini, ternyata tetep aja. haha. Mumpung belum punya suami, katanya.😀

  10. 20 ysalma August 3, 2014 at 9:04 pm

    waktu kecil saya tak mengenal THR,
    tapi generasi penerus saya mengenal THR *lagi sibuk menghitung lembar 5rb-an baru😀

  11. 22 nuellubis August 3, 2014 at 10:25 pm

    Intinya mau nerima juga, tapi sok jual mahal kan. Hahahha

  12. 24 apkbaru August 4, 2014 at 2:48 am

    wah, asik ya jika lebaran dapet THR.. :d

  13. 26 cumilebay.com August 4, 2014 at 1:58 pm

    Pura2 nolak padahal berharap banyak yaaa hahaha, jadi kangen dapat salam tempel lagi nich “-)

  14. 28 duniaely August 5, 2014 at 3:32 am

    Jadi inget masa kecil:)

  15. 30 arip August 5, 2014 at 10:59 pm

    THR untuk tahun ini, yg ngasih ga ada, ngasih ke orang pun ga mampu.

  16. 32 Beby August 6, 2014 at 7:17 am

    Ada yang nempel.. Upil maksudnya? Hihihi..😛

    Aku jugak gitu loh, Bang..
    Ih.. Jadi pengen bikin cerita jugak..😀

  17. 35 Harle July 20, 2015 at 11:53 am

    Very component to articles. I became aware of your website as well as in accession capital to express which i attain basically beloved profile a person’s website threads.. Agen Bola In any manner I’m going to be signing up as part of your enhance and even My spouse and i pleasure you can get correct involving use of routinely quickly.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,985 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: