Percaya Diri

Saya punya hobi memperhatikan orang-orang cerdas dan sukses di sekitar saya. Dari kebiasaan ini, saya lihat ada satu kesamaan yang sangat menonjol di antara mereka, yakni memiliki rasa percaya diri yang tinggi.

Maka kini saya pun semakin yakin bahwa rasa percaya diri merupakan salah satu elemen yang sangat penting untuk meraih sukses. Namun, sayangnya hal ini sepertinya kurang disadari oleh para pemangku pendidikan di negeri kita.

Dulu sewaktu saya masih SD, guru saya menjelang pulang sekolah sering mengadakan ujian hafalan perkalian. Para siswa dipanggil ke depan kelas satu per satu, lalu disuruh menyebutkan rangkaian perkalian beserta jawabannya.

Bagi yang lolos, maka si murid bisa langsung pulang dengan jumawa. Bagi yang tidak, dia harus berdiri dulu di depan kelas. Sesekali sang guru mengancamnya dengan tidak membolehkannya pulang jika tidak kunjung hafal.

Kasihan murid itu. Ia harus menahan malu karena dilihat oleh teman-temannya. Ia juga harus menahan rasa takut atas ancaman yang dilontarkan oleh sang guru. Ya, ia masih terlalu kecil untuk memahami bahwa ancaman tersebut hanyalah main-main.

Dalam kondisi yang tertekan seperti itu, sang murid bisa kehilangan rasa percaya dirinya. Dan yang lebih berbahaya, ia bisa meyakini bahwa dirinya memang seorang anak yang guoblok.

Padahal, tidak semua murid memiliki kecerdasan yang menonjol dalam hitung-menghitung. Bisa saja mereka memiliki kecerdasan di bidang yang lain, misalnya seni atau bahasa.

Saya yakin, mereka ini pastinya kelak akan menguasai perkalian, tapi mungkin waktunya tidak secepat teman-temannya. Jika kemudian mereka dipermalukan karena kelemahan itu, mereka bisa minder, dan akhirnya melupakan kecerdasan utama yang mereka miliki.

Murid menjadi pintar bukan karena ujian yang menekan, melainkan karena proses belajar yang menyenangkan.

Sepertinya ada yang salah dengan sistem pendidikan kita. Proses belajar di kelas terlalu fokus pada sisi kognitif, tapi lupa untuk mengembangkan kemampuan yang masuk dalam ranah mental, misalnya rasa percaya diri.

Mungkin karena itulah bangsa kita tumbuh menjadi bangsa yang minder. Beberapa ciri orang minder di antaranya adalah gampang marah, gampang tersinggung, gampang ribut, gampang menyerah, dan sebagainya. Bukankah ciri-ciri seperti itu mudah sekali kita temukan dalam kehidupan sehari-hari?

Beberapa dosen saya dulu sering mengeluh, mahasiswa zaman sekarang terlalu pasif, tidak percaya diri, dan tidak berani menyatakan pendapat di depan umum.

Well, para mahasiswa yang katanya pasif itu, mungkin sewaktu SD dulu pernah dihukum berdiri di depan kelas, lalu pulang terakhir karena tidak hafal perkalian.

24 Responses to “Percaya Diri”


  1. 1 duniaely July 26, 2014 at 1:25 am

    Hari gini masih minder, rugi booo😀

  2. 5 Kimi July 26, 2014 at 5:11 am

    Well, semakin membuktikan bahwa saya tidak cerdas. Saya kan orangnya rendah diri dan minder.😆

  3. 7 masdjie July 26, 2014 at 5:37 am

    Benar sekali, harus percaya diri mas bro😀

  4. 9 Vinda Filazara July 26, 2014 at 6:25 am

    Maksudnya trauma gitu ya? Bisa jadi bisa jadi.
    Terus, cara ngilanginnya ?

  5. 12 catatanrinagahayu July 26, 2014 at 6:38 am

    pendidikan karakter yang perlu dibangun setiap pendidik kpd murid2nya ms ditter menurutku…

  6. 14 ysalma July 26, 2014 at 6:39 am

    sepertinya saya juga bermasalah dengan perkalian ini, hayo guru bertanggung jawablah dengan murid2 mu yang berkembang jadi pasif dan tak punya daya saing.

  7. 16 mawi wijna July 26, 2014 at 9:16 am

    Eh, itu dosen yang bilang mahasiswa terlalu pasif apa ciri-cirinya kalau dosen bertanya di kelas “apa ada yang tidak mengerti?” tidak ada satu pun mahasiswa yang menjawab?

  8. 18 monicakrisna July 26, 2014 at 11:41 pm

    Tergantung mentalnya juga sih kak menurut ku. Soalnya dulu aku jg pernah disuruh maju ngerjain pecahan dan aku gak bisa, berdiri depan papan dong sampe istirahat. Pegelnya sih gak seberapa, malunya itu lohhhhh! Hahaha. Tapi sekarang pede2 aja sik soalnya mikir kalo gak pede kapan orang bisa tahu kelebihan aku? :))

    • 19 Ditter July 27, 2014 at 11:21 am

      Halo Monica, akhirnya kamu berkomentar di sini juga, haha….

      Iya, bener banget, tergantung mental masing-masing anak. Tapi, saat masih anak-anak, biasanya mental kita rapuh. Jadi seharusnya dibentuk dgn baik supaya jadi kuat, hehe….

  9. 20 Beby August 1, 2014 at 11:52 am

    Beneeeer.. Hahah..😀

    Aku dulu karena selalu dimarahin karena bego banget di pelajaran Kimi.. Aku jadi trauma dan lebih milih buat diem-diem aja..😛

  10. 22 Chandra Iman August 4, 2014 at 12:34 pm

    kalo di kelas saya bisanya meminta mahasiswa saya untuk presentasi di depan🙂 saya yakin dalam hidup ini kita mau tidak mau harus melakukan presentasi


  1. 1 Masak Mau Berantem Terus? | Catatan gado-gado Trackback on August 11, 2014 at 8:55 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,985 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: