[Resensi Buku] Murjangkung

murjangkung_coverMembaca buku Murjangkung agak di luar kebiasaan saya. Sebab, buku tersebut tergolong buku sastra, sementara saya kurang akrab dengan buku-buku dengan genre itu. Setahun terakhir ini saya lebih banyak membaca buku dengan genre romance dan comedy.

Lantas, kenapa kemudian saya membeli dan membaca buku Murjangkung? Well, itu semata-mata karena penulisnya saja.

Ya, saya menyukai tulisan-tulisan A.S. Laksana. Saya kurang puas membaca blognya, dan akhirnya memuaskan diri dengan membaca buku-bukunya.

Murjangkung, itulah nama judul buku ini. Diambil dari salah satu cerpen di dalamnya yang berjudul Bagaimana Murjangkung Mendirikan Kota dan Mati Sakit Perut. Berikut ini cuplikan ceritanya.

Mereka datang 243 tahun sebelum negeri mereka menemukan kakus. Mula-mula mereka singgah untuk mengisi air minum dan membeli arak dari kampung Pecinan di tepi barat sungai; lima tahun kemudian mereka kembali merapatkan kapal mereka ke pantai dan menetap di sana seterusnya.

Tuan Murjangkung, raksasa berkulit bayi yang memimpin pendaratan, membeli dari Sang Pangeran tanah enam ribu meter persegi di tepi timur sungai. Di sana ia mendirikan rumah gedong dan memagar tanahnya dengan dinding putih tebal dan menghiasi dinding pagarnya dengan pucuk-pucuk meriam. Sejak itu, kau tahu, para pemabuk menjalani kehidupan yang riang di dalam pagar.

Unik, ya?

Saat membacanya, saya terus menebak-nebak, cerpen itu bercerita tentang apa. Dari kalimat “raksasa berkulit bayi”, saya menerka, mungkin itu cerita tentang orang Belanda yang datang menjajah negeri kita. Disebut raksasa karena secara fisik tubuhnya lebih besar daripada kita. Disebut berkulit bayi karena kulit mereka pucat, putih kemerah-merahan.

Orangtua saya yang kebetulan melihat buku itu di rumah bertanya, “Bung, itu buku tentang J.P. Coen, ya?” (saya dipanggil Bung oleh keluarga saya).

Tentu saja saya bilang bukan. Saya bilang itu buku kumpulan cerpen. Tapi saya heran, kok bisa sih orangtua saya menghubungkannya dengan J.P. Coen?

Karena penasaran, saya membuka laman penerbitnya dan membaca bahasan tentang buku tersebut di sana. Well, ternyata orangtua saya benar. Murjangkung memang merupakan cerpen metafora tentang konflik antara Belanda dan pribumi di Batavia.

Murjangkung itu sendiri merupakan sebutan oleh orang Jawa untuk Jan Pieterszoon Coen, gubernur Hindia Belanda yang terkenal kejam. Dialah orang yang berjasa bagi pemerintahan kolonial dalam menancapkan kekuasaannya di bumi Nusantara. Penguasa ini sering mendapatkan perlawanan dari pribumi, tapi selalu berhasil menumpasnya.

Pada akhirnya J. P. Coen memang kalah dan mati, tapi bukan karena serangan pribumi, melainkan karena wabah kolera.

Murjangkung adalah satu dari 20 cerpen yang ada di dalam buku ini. Menurut saya semuanya menarik. Judul-judulnya di luar kebiasaan umum. Gaya bahasanya lincah, plotnya unik, dan cara bertuturnya sangat mengalir serta jenaka –khas A.S. Laksana. Selain itu, deskripsinya tidak terlalu padat sehingga kita bisa lebih bebas dalam mengimajinasikan setiap ceritanya.

Secara umum saya puas dengan buku ini. Dan saya menunggu buku-buku beliau berikutnya.

****

Judul: Murjangkung; Cerita yang dungu dan hantu-hantu

Penulis: A.S. Laksana

Tebal: viii+216 hlm

Ukuran: 13 x 19 cm

ISBN: 979-780-644-8

Penerbit: GagasMedia

15 Responses to “[Resensi Buku] Murjangkung”


  1. 1 Kimi July 23, 2014 at 10:17 pm

    Kayaknya bukunya menarik tuh. Kapan-kapan beli ah…

  2. 3 Nunu El Fasa July 23, 2014 at 10:46 pm

    As laksana memang sastrawan keren. Suka cerpen2nya. Tapi belum baca yg ini

  3. 5 Richo A. Nogroho July 23, 2014 at 11:45 pm

    Bisa dijadikan incaran nih😉

  4. 7 Mat Gembul July 24, 2014 at 1:59 pm

    wah jadi tertarik untuk menggondol buku ini dari toko…😀

  5. 9 noors58 July 24, 2014 at 4:32 pm

    Resensi bagus, membuat penasaran dengan isi bukunya..

  6. 11 ysalma July 24, 2014 at 8:17 pm

    orangtuanya tidak pernah lupa dengan sejarah itu berarti, Bung *panggilannya keren euy*, jadi ingat semangat Bung Tomo, Bung Hatta.
    referensi bacaan saya sepertinya perlu ditambah banyak juga nih.

  7. 13 Chandra Iman July 25, 2014 at 12:41 pm

    wah menarik dit🙂 baca ahh

  8. 15 Beby August 1, 2014 at 11:42 am

    Aku anak sastra tapi uda lama ngga baca buku sastra.. Aku pengkhianaaaaat😥


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,985 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: