Kaya Tapi Sederhana

Manusia selalu mencari dan terus mencari, melahap dan terus melahap, sampai lupa bahwa mereka memiliki batas.

Saya mau menceritakan sebuah kisah lama. Sebuah kisah yang sangat berkesan bagi saya, dan tampaknya selalu relevan untuk direnungkan pada berbagai zaman, termasuk zaman sekarang.

Tersebutlah seorang alim ulama bernama Nidzam Al-Mahmudi. Ia tinggal bersama keluarganya di sebuah gubuk kecil di pelosok desa. Meskipun hidupnya sangat sederhana, namun ia memiliki kekayaan yang berlimpah. Kekayaan itu ia dapat dari hasil usahanya. Ia mempunyai kebun berhektar-hektar, serta memiliki usaha perniagaan yang sangat sukses.

Di tengah kesederhanaan hidupnya, Nidzam Al-Mahmudi menjalani hidup dengan bahagia.

“Ayah,” panggil anaknya pada suatu sore yang hangat. “Kenapa Ayah tidak membangun rumah yang lebih megah dan mewah? Bukankah Ayah sanggup melakukannya?”

Nidzam Al-Mahmudi tersenyum mendengar pertanyaan anaknya. “Ada beberapa sebab mengapa Ayah lebih suka tinggal di gubuk yang kecil, Nak,” jawabnya.

“Apa itu, Ayah?”

“Pertama, betapa pun besarnya rumah kita, yang kita butuhkan ternyata hanya tempat untuk duduk dan berbaring,” ujar Nidzam, mulai bercerita. “Selain itu, rumah besar sering menjadi penjara bagi penghuninya. Dia belum tentu bahagia tinggal di sana, dan akhirnya malah tidak betah berlama-lama di rumah. Atau kalaupun betah, ia akan sibuk mengurung diri sambil menikmati keindahan rumah atau istananya. Akibatnya, dia jauh dari masyarakat sekitar, jauh dari alam bebas ini, dan akhirnya jadi kurang bersyukur kepada Tuhan.”

Si anak lelaki mendengarkan cerita sang Ayah dengan saksama.

“Kedua, “ lanjut Nidzam, “dengan menempati sebuah gubuk kecil seperti ini, tentu kalian ―anak-anakku ingin segera memisahkan diri dari kami supaya bisa menghuni rumah yang lebih besar. Untuk meraih keinginan itu, kalian akan berusaha dengan sungguh-sungguh. Ini akan membuat kalian menjadi anak yang mandiri dan tidak hanya mengandalkan kekayaan orangtua.

Sang anak terkesima mendengarkan penjelasan Ayahnya.

“Yang ketiga, Ayah dan Ibu dulu hanya berdua. Kelak kami akan berdua lagi setelah kalian sudah berumah tangga,” ujar Nidzam sambil menerawang. “Kalau Ayah dan Ibu tinggal di rumah yang terlalu besar, bukankah rasa sepi akan terasa sangat menyiksa?”

“Lalu, yang berikutnya apa, Ayah? Apa masih ada lagi?”

“Ya, ada,” timpal sang Ayah. “Jika Ayah membangun rumah atau istana yang megah, biayanya sangat besar. Dengan biaya sebesar itu, lebih baik Ayah menggunakannya untuk membangun rumah-rumah untuk orang-orang yang kedinginan dan kepanasan karena tidak mempunyai tempat bernaung. Atau bisa juga digunakan untuk membangun perniagaan yang besar supaya bisa mempekerjakan para pengangguran. Bayangkan, dengan langkah seperti itu, berapa banyak kaum miskin yang bisa kita angkat derajat hidupnya?”

Sang anak terdiam.

“Anakku,” lanjut Nidzam, “Tuhan menyediakan dunia ini untuk semua makhluk-Nya. Dunia ini sejatinya mampu memenuhi kebutuhan semua penghuninya. Namun, dunia ini menjadi sempit dan tidak cukup lagi untuk menyejahterakan penghuninya hanya karena keserakahan beberapa manusia.”

Sang anak tersenyum senang sambil mengangguk-angguk. Ia merasa bahagia karena hari itu mendapat pelajaran yang sangat berharga dari sang Ayah.

18 Responses to “Kaya Tapi Sederhana”


  1. 1 duniaely July 18, 2014 at 2:12 am

    Andai banyak orang seperti Nidzam Al-Mahmudi ya di zaman seperti ini.

  2. 3 mawi wijna July 18, 2014 at 8:36 am

    Relevan dengan kondisi saat ini, di mana tanah kosong kian susah ditemukan dan agar tak terjadi alih lahan produktif menjadi perumahan…

  3. 5 Chandra Iman July 18, 2014 at 10:36 am

    thanks sudah share ceritanya, keren

  4. 7 Beby July 18, 2014 at 11:46 am

    Hmmm.. Bahasannya lumayan berat.. Cumak bisa mengiyakan aja ah..

  5. 17 nuellubis July 19, 2014 at 1:38 pm

    Ini kayak too good be true banget yah


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,988 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: