Disuntik

Tadi malam (20/6) saya habis donor darah lagi. Meskipun ini sudah yang ketiga kalinya, namun tetap saja saya merasa takut saat melihat jarum besar di ruang donor. Saya lebih memilih melihat ke arah lain saat petugas donor menyuntikkan jarum itu ke lengan kanan saya.

Selagi darah saya diambil, ingatan saya kembali ke masa lalu, ke masa ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar.

Tidak seperti biasanya, entah kenapa hari itu sekolah tampak begitu ramai. Beberapa orang yang memakai jas putih terlihat berlalu-lalang di sekolah. Dengar-dengar, mau ada suntik imun untuk para murid.

Mendengar berita itu, jantung saya langsung berdebar-debar. Saya takut disuntik. Saya takut melihat jarum suntik.

Ketika saya dibimbing oleh guru untuk masuk ke dalam barisan, saya semakin ketakutan. Tidak kuat menahan rasa takut, lantas saya menangis. Hebatnya, saya menjadi inspirasi teman-teman yang lain. Ya, mereka pun ikut-ikutan menangis.

“Nggak apa-apa, kok. Rasanya cuma kayak digigit semut,” begitu bujuk rayu wali kelas saya. Ucapan itu membuat saya sedikit lebih tenang.

Tapi, tidak lama kemudian terjadi peristiwa yang membuat tangis saya semakin pecah.

Tiba-tiba seorang teman kabur dari barisan. Ia lari kencang sekali sambil menangis. Guru-guru pun langsung mengejarnya dengan panik.

Kemudian saya juga ikut-ikutan kabur dari barisan. Tapi, beberapa guru keburu menangkap saya sehingga saya tidak bisa lari ke mana-mana.

Saya dan beberapa teman lain lantas dikumpulkan ke dalam ruangan tersendiri. Teman saya yang kabur tadi juga ada di situ. Guru-guru membujuk kami dengan begitu manis.

Lama-lama teman-teman saya mulai luluh. Satu per satu di antara mereka mulai terbujuk rayuan gombal para guru itu. Mereka semua bersedia disuntik, kecuali saya.

Saya tetap kukuh bertahan di bangku saya. Saya ketakutan. Tapi ketika hampir semua murid sudah selesai disuntik, dan mereka terlihat baik-baik saja —bahkan masih bisa tertawa-tawa, saya pun mulai kepikiran.

Masak saya mau jadi satu-satunya murid yang nggak disuntik?

Saya lihat ke luar ruangan, rupanya teman-teman perempuan saya juga sudah pada disuntik. Saya tidak mau terlihat cemen di mata mereka. Akhirnya saya pun bersedia untuk disuntik.

Kemudian salah satu guru membawa saya kepada si petugas kesehatan. Sesampainya di sana, saya menangis lagi.

“Tahan, ya,” kata ibu-ibu petugas kesehatan. Ia menahan tawa melihat saya menangis tersedu-sedu. “Ini nggak sakit, kok. Rasanya cuma kayak digigit semut.”

Cussss….

Akhirnya saya pun selesai disuntik. Rasanya memang seperti digigit semut. Tapi entah semut apa yang bisa menggigit hingga sesakit itu. Menimbulkan rasa ngilu di lengan saya.

Setelah itu saya jadi lega sekali. Saya berhasil melewati momen kritis itu. Dan yang paling penting, saya masih tetap terhormat di mata teman-teman perempuan saya.

“Sudah, Mas,” kata petugas donor. Lamunan saya seketika buyar. Rupanya proses donor darah sudah selesai.

Bisa-bisanya teringat dengan pengalaman masa kecil yang bikin senyum-senyum sendiri itu.🙂

30 Responses to “Disuntik”


  1. 1 Dunia Ely June 21, 2014 at 3:42 pm

    Memang benar kayak digigit semut ya rasanya?😛

  2. 3 Blogs Of Hariyanto June 21, 2014 at 7:20 pm

    wow…tangisnya jadi inspirasi hingga akhirnya semua ikutan nangis……kenangan masa SD yang penuh kesan ya,,,,,,saya juga waktu SD pernah disuntik oleh mantri…bukan dokter loh…tapi tidak pake nangis…..
    keep happy blogging always,,,salam dari Makassar🙂

  3. 5 ysalma June 21, 2014 at 8:11 pm

    saya gara-gara suntik imun waktu SD ini masih meninggalkan bekas sampai sekarang*saya berbakat keloid, padahal waktu disuntiknya ga pakai nangis2, dan teman2 memang banyak yg nangis dan kabur.
    Ternyata dari kecil sudah jd inspirasi ya.

  4. 7 mawi wijna June 21, 2014 at 8:24 pm

    Saya terakhir kali disuntik bwt ambil darah kayaknya pas kecil pas lg sakit deh. Klo udah gede ini paling sering disuntik malah di gusi biar saraf gigi mati rasa pas dibor sebelum ditambal, hahaha.

  5. 9 Kimi June 21, 2014 at 8:48 pm

    Seumur-umur aku belum pernah donor darah. Tensiku rendah terus sih.

  6. 11 catatanrinagahayu June 21, 2014 at 9:40 pm

    pengen bgt donor darah…:” wktu mw donor lg berhalangan atw hbnya rendah…doain biar bisa donor ky mas ditter jg yaa…:D #ngarep bgt ms, coz sy blm pernah donor😀

  7. 14 aqied June 22, 2014 at 12:24 am

    Jaman SD dulu kalo ud ada mobil putih putih ke sekolah, temen2 saya bisa loh pada kabur lewat jendela gitu.
    Ya namanya sekolah jaman di papua jendelanya bisa diterabas.😉

  8. 16 Bibi Titi Teliti June 22, 2014 at 12:41 pm

    Duh, aku jadi penasaran pengen lihat tangisanmu yg konon inspiratif itu mas…hihihi..

    Tapi keren sekali bisa mengatasi rasa takut, dan sekarang jadi rutin donor darah🙂
    Akupun sampe sekarang msh takut disuntik tuh mas🙂

  9. 18 Jery Yanuarlan June 22, 2014 at 1:37 pm

    kalau saya dari dulu ndak habis pikir mas, kenapa semua bilang rasanya disuntik itu seperti digigit semut ya ?? kalau begitu knapa ndak pakai semut saja ya nyuntiknya *salah fokus

  10. 20 Beby June 22, 2014 at 6:36 pm

    Bahahah.. Maghrib-maghrib ngakak..😀
    So inspiring, Bang.. Jadi inget seseorang yang takut jarum suntik. Muihihihi😛

  11. 22 Aul Howler June 23, 2014 at 3:33 pm

    Seumur hidup belum pernah donor darah.

    Takut banget sama jarum yang nusuk ke kulit.
    boro-boro donor darah, disuntik aja saya trauma wkwk

  12. 24 opexbaft June 23, 2014 at 6:09 pm

    wah.. donor darah.. terakhir kali saya donor darah 3 tahun lalu.
    Memang jarumnya gede banget😀

  13. 28 Chandra Iman June 24, 2014 at 10:21 am

    sudah lama nih ga donor darah🙂 berkat donor darah badan saya lebih seger, iya jujur dulu juga takut, sekarang juga masih, makanya mendingan tutup mata saja haha

  14. 29 Pypy June 24, 2014 at 1:41 pm

    Sampe detik ini ga berani donor darah karena sering dibilang jarumnya gede.. Hiyyy..😦

  15. 30 ochimkediri June 25, 2014 at 8:38 am

    wah saya belum pernah donor,karna takut suntik juga,hiahaahhahaha


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,988 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: