Micin

Saya adalah penggemar perempuan-perempuan orang-orang cerdas. Kadang-kadang secara khusus saya memperhatikan tingkah laku dan kebiasaan mereka. Mungkin ini dilatarbelakangi oleh keinginan besar saya yang juga ingin cerdas seperti mereka.

Kebetulan saya punya seorang teman yang menurut saya cerdas, sebut saja Gadis. Saya mengaguminya sebagaimana saya mengagumi orang-orang cerdas lainnya. Nah, setelah beberapa lama bergaul dengannya, saya mengetahui bahwa ternyata ia punya sebuah kebiasaan khusus.

Setiap kali jajan bareng, katakanlah mi ayam atau bakso, saya selalu melihat Gadis meminta kepada si abang yang jualan untuk tidak memberi penyedap rasa atau micin ke dalam makanan pesanannya.

Saya agak takjub, sebab hal itu bukan sesuatu yang lazim di mata saya.

“Kenapa kamu selalu minta nggak pakai micin, Dis?” saya bertanya heran. “Memangnya jadi tambah enak, ya?”

“Mmm…,” ia melirik ke atas sambil memonyongkan bibir. “Justru malah jadi nggak enak,” ujarnya dengan mimik iseng.

“Lah?”

Gadis tertawa melihat saya melongo. Seperti biasanya, kali itu ia pun terlihat manis dan memesona.

“Yah, ini kebiasaan dari kecil aja,” ia mulai menjelaskan. Tangannya membenahi kuncir ekor kudanya. “Dulu mamahku cukup rewel sama hal ini. Kalau masak, ia jarang pakai micin. Paling sesekali aja, itu pun takarannya sedikit banget. Dan kalau bikin mi instan, bumbunya selalu dikurangi.”

“Memangnya biar apa toh?”

“Yang jelas sih biar sehat. Micin itu kan nggak bagus buat badan kita, khususnya otak,” ia mengetuk-ngetuk kepalanya dengan ekspresi wajah yang menggemaskan.

Kebetulan saya ini suka sekali menghubung-hubungkan. Mendengar Gadis berkata demikian, saya pun dengan asalnya mengambil kesimpulan bahwa otak si Gadis begitu cemerlang karena dia jarang mengonsumsi micin.

Saya coba mengingat-ingat masa kecil saya. Well, selain ingusan, dulu saya suka sekali makan mi ayam dan mi instan. Mungkin tahapnya sudah ketagihan. Padahal, kita tahu kandungan micin di dalam mi ayam dan mi instan termasuk tinggi.

Sepertinya saya sudah menemukan alasan kenapa saat ini saya begitu lemot dan telmi.

Kalau Anda punya kebiasaan seperti si Gadis, mungkin Anda bakal geleng-geleng kepala saat melihat abang yang jualan memasukkan micin ke dalam mangkuk mi ayam pesanan Anda.

28 Responses to “Micin”


  1. 1 Danni Moring June 6, 2014 at 9:10 pm

    cieeee…kagum apa kagumm nih ama si gadis😆

  2. 3 Ositus.com June 6, 2014 at 9:26 pm

    Sebenernya sih ini bukan masalah micin-micin amat, ini mah curhat lagi demen ama si gadis hahaha

  3. 5 Beby June 6, 2014 at 9:45 pm

    Cieee.. Jadi si Gadis ini toh yang dikagumi? Wkwkwk😀

  4. 8 ysalma June 6, 2014 at 9:54 pm

    Hi, Gadis, adakah kau membaca ini,
    sebetulnya micin cuma pelengkap penderita😀

  5. 10 ALVI ALEVI June 6, 2014 at 11:03 pm

    “Bang, saya gak pake micin ya.”
    “Yaah neng dah terlanjur.”
    “Yaudah saya pindah ke gerobak sebelah deh bang.”
    “Eh neng belom terlanjur kok..”

  6. 13 Nunu El Fasa June 7, 2014 at 12:09 am

    oh jadi orang pintal itu gadis toh hehe

  7. 15 duniaely June 7, 2014 at 2:07 am

    Aku sejak tinggal di sini nggak pernah masak pakai micin ya, enak juga kok tanpa micin, mnrtku cuma kebiasaan saja, kalau nggak terbiasa ya emang masakannya jadi lain rasanya, begitu juga sebaliknya. Micin khan bahaya juga ya kalau dikonsumsi terus menerus, nggak bagus buat badan memang, sayang di kampungku sana sangat biasa org pakai micin😦

  8. 17 mawi wijna June 7, 2014 at 6:08 am

    Jiah, bakul mie ayam memang terkenal klo ngasih micin (MSG) nggak kira2. Balapan banyak-banyakan kayaknya sama bakul bakso, hahaha.

    Tapi emang kuah mie ayam sebenarnya rasanya kan hambar ya. Yang justru berasa itu di cacahan ayam semurnya. Mungkin karena mereka ga kuat beli banyak ayam dan nggak tahu racikan bumbu yang pas buat bikin kaldu yang mantap, jadinya mereka beralih ke takaran MSG yang ga kira-kira.

    Yang saya kagum itu sama Mie Ayam Lada Hitam yang disajikan di rumah makan vegan Lovely Hut. Dirimu pasti tahu lah, yg ada di utaranya Jogja Plaza Hotel itu. Mie ayamnya itu katanya nggak pakai MSG tapi rasanya tetap gurih.

  9. 23 masroh June 7, 2014 at 8:39 am

    haha bener tuh kata si gadis, micin itu ga bagus buat otak.

    jadi inget hari2 ini lagi sering2nya makan mie instant atau mie ayam😦 *aduh

  10. 25 Chandra Iman June 9, 2014 at 10:09 am

    saya membiasakan anak saya tidak mengkonsumsi gula dan garam, rencananya sampai umur 2 tahun, sekarang baru 1 tahun 4 bulan, katanya sih kalo mengkonsumsi gula/garam sejak awal rentan penyakit

    apalagi micin, saya berusaha hindari agar tidak dikonsumsi oleh anak saya

    saya sendiri ya sama, kalo bisa tidak mengkonsumsi juga

    hidup sehat dimulai dari sekarang🙂


  1. 1 Membaca | Catatan gado-gado Trackback on June 8, 2014 at 8:01 pm
  2. 2 Artikel Lainnya | Dibaca Yuk Sambil Seruput Kopinya | Alvi Punya Cerita Trackback on June 9, 2014 at 9:33 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,986 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: