[Buku] Syukur Tiada Akhir

Syukur Tiada AkhirBeberapa waktu lalu saya melihat buku ini terpajang dengan manis di meja kerja bos saya. Tanpa pikir panjang, saya pun langsung meminta izin untuk meminjamnya. Sudah lama saya ingin membacanya, dan akhirnya kesempatan itu datang juga.

Saya merupakan seorang penggemar Kompas. Meskipun tidak berlangganan (penggemar macam apa ini), tapi saya sering beli Kompas edisi Minggu. Saya menyukai Kompas karena kontennya tidak hanya padat dan informatif, tetapi juga enak dibaca. Berita-beritanya dituturkan secara jernih dalam tata bahasa yang rapi.

Apa yang membuat saya tertarik dengan buku Syukur Tiada Akhir ini? Tidak lain karena buku tersebut berisi jejak langkah Jakob Oetama, salah satu pendiri Kompas.

Bagi saya, sosok Jakob Oetama begitu menarik. Pertumbuhan grup perusahaan yang digawanginya sungguh mengesankan. Dari yang awalnya hanya menerbitkan majalah Intisari, kemudian berkembang dengan menghasilkan ratusan majalah dan tabloid bermutu. Belum lagi jaringan toko Gramedia yang selalu asyik untuk dijelajahi.

Buku ini ditulis oleh Stanislaus Kostka Sularto, seorang wartawan senior dan petinggi Kompas. Karena ditulis oleh orang lain —bukan oleh Jakob Oetama sendiri, maka jelas bahwa buku ini merupakan sebuah biografi, bukan otobiografi.

Saat ini saya sudah selesai membacanya, dan kemudian hendak meresensinya. Tapi, saya kebingungan, tidak tahu bagaimana cara membuat resensi untuk buku setebal ini —mencapai 672 halaman. Jadi saya lebih memilih untuk membicarakannya saja di sini daripada meresensinya.

Dulu, Kompas pernah dibredel oleh pemerintah orde baru, tepatnya pada 21 Januari 1978. Kompas kemudian mendapatkan tawaran dari pemerintah untuk menandatangani surat permintaan maaf dan pernyataan kesetiaan. Setelah melalui berbagai perdebatan internal, akhirnya mereka memutuskan untuk menandatangani surat tersebut. Kompas kemudian terbit kembali pada 6 Februari 1978.

Penandatanganan itu selanjutnya mengundang banyak kritik dan ungkapan sinis dari para pegiat media. Sebab, Kompas dipandang telah “menjual diri” hanya supaya bisa terbit kembali. Tapi Jakob punya alasan kuat. Pada akhirnya ia pun bisa menjelaskan bahwa keputusan yang telah dibuat pada dini hari 5 Februari 1978 itu merupakan sebuah keputusan yang tepat.

Peristiwa pengambilan keputusan itu menjadi satu dari tiga titik balik penting dalam hidup Jakob. Adapun dua titik balik lainnya adalah saat memutuskan untuk keluar dari seminari dan kemudian menjadi wartawan, serta kepergian P. K. Ojong yang begitu mendadak.

Ada satu hal yang menarik perhatian saya mengenai pandangan Jakob tentang wartawan. Dalam berbagai kesempatan, ia sering menyarankan agar para wartawan hendaknya diberi pendidikan dasar capita selecta Filsafat (hal 40, 519). Menurutnya hal itu penting untuk membentuk sosok wartawan yang kritis, lincah (dalam berpikir), serta peka akan masalah kemanusiaan.

Pandangan itu mungkin terinspirasi dari sebuah ungkapan latin, ex philosophia claritas —dari filsafat muncul kejernihan. Dengan mempelajari ilmu filsafat, diharapkan para wartawan bisa melihat suatu masalah secara pas pada tempatnya, dan kemudian menyampaikannya secara jernih kepada khalayak.

Selama ini orang-orang filsafat sering dipandang sebagai orang yang pikirannya ruwet. Tapi, perlu diketahui bahwa sebenarnya niat mereka mulia, yakni berusaha untuk menjernihkan suatu masalah —meskipun mungkin yang terjadi malah sebaliknya😀

Secara umum apa yang ingin saya ketahui tentang Jakob Oetama bisa saya dapat melalui buku ini, termasuk tentang bagaimana cara Jakob dalam membesarkan Kompas Gramedia Group. Hanya saja saya agak kelelahan membacanya. Selain karena bukunya tebal, juga karena isinya ditulis dalam kalimat-kalimat yang panjang.

****

Judul: Syukur Tiada Akhir (Jejak Langkah Jakob Oetama)

Penyusun: St. Sularto

Tebal: xii + 660 hlm

Ukuran: 15 x 23 cm

Penerbit: Kompas

ISBN: 978-979-709-601-4

26 Responses to “[Buku] Syukur Tiada Akhir”


  1. 1 Vicky Laurentina April 26, 2014 at 12:01 pm

    Mungkin Sularto menulis buku ini sambil membayangkan bahwa buku ini akan dibaca oleh orang-orang “ruwet”, bukan oleh orang-orang berpikir sederhana.

  2. 3 Gusti 'ajo' Ramli April 26, 2014 at 1:20 pm

    Dengan halaman sebanyak itu saya juga akan merasa lelah membacanya… Hehe

  3. 5 Kimi April 26, 2014 at 1:38 pm

    Sepertinya menarik. Boleh pinjam?😆

  4. 7 Yaumil Akbar Firdaus April 26, 2014 at 1:59 pm

    syukur dan kepuasan memang tiada akhir😀

  5. 9 giewahyudi April 26, 2014 at 5:20 pm

    Satu yang keren dari buku Jakob Oetama ini adalah foto covernya. Terlihat seperti berdoa tapi padahal itu waktu pidato lho..

  6. 11 duniaely April 26, 2014 at 7:35 pm

    wah .. kapan bisa baca bukunya langsung ya?😛

  7. 13 ysalma April 26, 2014 at 10:24 pm

    dengan kesuksesan yang sudah ditorehkan, wajar biografinya tebal ya,

  8. 15 Nunu El Fasa April 27, 2014 at 8:23 am

    Kupikir pemilik kompas itu pak cip… Hehehe.. Sudah bagus mas beli kompas minggu. Sampai detik ini saya belum pernah lihat wujud kompas. Susah di sda mendapatkannya. Paling tertarik japos aja hehehe

  9. 17 Akhmad Muhaimin Azzet April 28, 2014 at 9:48 am

    Membacanya, tentu kita menemukan banyak inspirasi menarik untuk terus bergerak dan berjuang dalam hidup ini.

  10. 19 firesafetysecurity April 28, 2014 at 11:13 am

    buku yang sangat menarik, dari buku ini kita juga bisa tau tentang isu2 tentang wartawan yang ada pada era tersebut.

  11. 21 cumilebay.com April 28, 2014 at 12:51 pm

    Keputusan yg tepat buat jakop untuk menandatangani kesetiaan dengan orde baru, akhir nya dia bisa kaya dan sukses🙂
    Mengadaikan harga diri dan tanggapan sinis, biarkan berlalu yg penting kaya hehehe #kaburrrr

  12. 23 Chandra Iman April 28, 2014 at 2:50 pm

    wah lom sempet baca, thanks resensi singkatnya bro

  13. 25 Pypy April 29, 2014 at 2:57 pm

    Dan baru tau siapa itu Jakob Oetama. Padahal waktu kecil baca Intisari😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,986 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: