Prasmanan

Saya tahu, saya sudah terlalu sering menyebut-nyebut kata prasmanan dalam postingan saya. Barangkali hal ini membuat teman-teman kesal –atau mungkin membuat kalian lapar. Tadinya saya berniat untuk berhenti menyebutnya, namun rupanya niat itu gagal bersamaan dengan terbitnya postingan ini.

Beberapa waktu yang lalu saya berkunjung ke acara resepsi pernikahan relasi saya. Di acara tersebut, para tamu disuguhi hidangan santap siang, masing-masing mendapat jatah satu piring.

Kalau di kota saya, format itu biasa disebut dengan “piring terbang”. Beberapa petugas (biasanya para pemuda sekitar) mengantarkan hidangan kepada para tamu yang duduk manis di tempat yang sudah disediakan. Setahu saya tradisi ini banyak ditemui di acara pernikahan di daerah Jawa Tengah, juga di daerah-daerah pelosok di Yogyakarta.

Jika dalam acara prasmanan kita bisa mengambil makanan sendiri-sendiri, maka dalam acara piring terbang, kita mendapat jatah makan yang sama untuk semua orang.

Masalahnya, porsi makan setiap orang berbeda-beda. Ada yang banyak seperti saya, ada juga yang sedikit seperti teman saya.

Bagi yang suka makan banyak, mungkin acara piring terbang kurang menyenangkan, sebab tidak mengenyangkan. Selain itu, kita tidak bisa memilih yang paling besar. Tapi ini bukan masalah, sebab kita masih bisa makan lagi sepulangnya dari acara itu. Entah beli di warung atau makan di rumah sendiri.

Tapi bagi yang makannya sedikit, mereka terpaksa tidak menghabiskan makanan yang tersaji dalam piring terbang. Padahal kita tahu, tidak menghabiskan makanan merupakan hal yang tidak baik.

Untuk menyiasati hal ini, si empunya acara bisa mengurangi porsi setiap piring. Harapannya orang yang makannya sedikit bisa menghabiskan makanan mereka.

Meski demikian, kenyataannya saya masih sering menemui orang yang tidak menghabiskan makanannya di piring terbang –padahal porsinya hanya sedikit. Tapi saya paham, mungkin ada beberapa jenis lauk atau sayur yang tidak mereka suka, dan hal ini memengaruhi selera makan mereka sehingga mereka tidak bisa menghabiskan makanannya.

Sampai di sini, format prasmanan bisa mengatasi kelemahan itu.

Inti dari prasmanan adalah mempersilakan tamu untuk mengambil dan memilih sendiri hidangan yang sudah disediakan. Jadi para tamu bisa memilih menu yang cocok dengan selera masing-masing, dan mengambil makanan sesuai dengan porsi masing-masing.

Dengan begitu, harapannya mereka bisa menghabiskan makanan di piring mereka.

Tapi sepertinya pemahaman akan prasmanan telah bergeser. Gambaran yang terbayang di benak kita begitu mendengar kata prasmanan mungkin adalah ini: kita bisa mengambil makanan sesuka hati kita, sepuas-puasnya!

Akibatnya, kita senang mengambil banyak makanan yang terhidang di meja dalam porsi yang mungkin kelewat batas.

Makanya saya hampir selalu mendapati orang yang tidak menghabiskan makanannya di dalam acara prasmanan. Uniknya, setelah menaruh piring yang penuh dengan sisa makanan di bawah kursi, mereka pergi lagi ke meja atau stand lain untuk mengambil makanan lainnya.

Jadi jika kita melihat piring-piring yang penuh dengan sisa makanan di acara prasmanan, maka kita patut heran. Bukankah konsep prasmanan justru memberikan kita kesempatan untuk memilih menu yang cocok dengan selera kita, dan mengambil makanan sesuai porsi kita masing-masing?

38 Responses to “Prasmanan”


  1. 1 Chandra Iman April 16, 2014 at 2:17 pm

    saya pernah baca buku atau artikel dimana google / microsoft yang menyediakan makanan berlimpah ketika acara, apa yang terjadi, orang cenderung akan mengambil makanan sebanyak mungkin dan tidak menghabiskannya

    mungkin sebaiknya ada tulisan, “makan secukupnya, sisa nya nanti akan disumbangkan ke panti sosial :)”

  2. 3 Richoku April 16, 2014 at 3:01 pm

    Di konsep prasmanan orang mungkin gak mempertimbangkan bakal dihabiskan atau tidak, main serobot saja. sementara keinginan mencicipi yang lain masih ada, banyak. jadi kadung ngambil yang awalnya akan habis, nyatanya tidak juga. ini mah rakus yah, hhehe. tapi saya suka yang prasmanan, mas. nyiasati gak banyak ngambil nasi, tapi lauk, huhaha. *rakus juga ah ini

  3. 5 izzawa April 16, 2014 at 10:00 pm

    ditempat saya belum ada metode piring terbang mas, berarti semua tamu menunya sama ya…wah pasti g enak…
    dtempat saya juga masih byk yg tradisional alias melantai..bersila bagi laki2 dan bersimpuh bg perempuan dg makanan yg sdh tersaji ddepan..tp skrg sudh byk juga kok yg beralih keprasmanan…namun didalam rumah ttp ada tempat utk yg melantai🙂

  4. 7 duniaely April 16, 2014 at 10:10 pm

    sedih jg kl lihat org ngak ngabisin makanannya, seharusnya khan emang spt yg kamu tulis di atas ya, ngambil secukupnya

  5. 9 Jery Yanuarlan April 16, 2014 at 11:03 pm

    iya mas saya juga sering melihat yang seperti itu…
    harus makin digalakkan budaya jangan berlebih-lebihan ya, kan sayang itu makanan kebuang-buang

  6. 11 makbel April 16, 2014 at 11:04 pm

    Makan prasmanan dan sisa??!! Ini sering sekali saya temuin di arisan atau pesta adat suku saya. Miris liatnya. Tanpa mereka sadar, mereka sdg menunjukan sifat serakah mereka masing2. Sifat yg sama dg koruptor *jadi orasi gini*😉

  7. 13 nyapurnama April 16, 2014 at 11:27 pm

    Saya paliiiiinggggg kesel kalau ada orang yang nggak ngehabisin makanan, apalagi kalau di undangan gitu. Mbok ya ngambil makanannya itu sedikit-sedikit aja gitu ya, nanti kalau masih laper kan bisa ngambil lagi. daripada ternyata ngambil seudug-udug terus ternyata ga enak, akhirnya kan malah ga dihabisin.. 😦
    Jadi intinya mungkin bukan maslaah piring terbang atau prasmanan yang bikin orang nyisain makanan, tapi mental kali ya Mas.. ihihihilk..😀

  8. 15 Gadingspe April 16, 2014 at 11:36 pm

    Memang kalau makan di tempat undangan tidak begitu selera walaupun nasi lauk pauk yang enak. Itu tidak kalah kalau makan dirumah. Sekarang emang orang lebih memilih prasmanan daripada pakai piring terbang. Alasannya lebih praktis dan cepat.

  9. 17 stupid mokey April 17, 2014 at 4:37 am

    Kirain istilah piring terbang buat pasangan pengantin saling melempar piring di hari pernikahan hahaha, seru kali ya kalo ada.
    Prasmanan kan salah satu eksperimen makanan yg paling mudah huahahaha

  10. 19 nuellubis April 17, 2014 at 10:05 am

    Btw kenapa nggak tukar makanan aja? Yang sedikit menukar jatahnya ke yang banyak, Mas. Hohoho

  11. 21 eda April 17, 2014 at 10:09 am

    kalo aku, keliling dulu liat2 menunya. trus ambil yg belum pernah makan..hihii..

  12. 23 ysalma April 17, 2014 at 1:38 pm

    saya pernah ngarasain piring terbang ini sekali di acara nikahan di daerah Jateng
    awalnya kaget🙂
    prasmanan malah jadi ajang membuang makanan, hiks. yang kelaparan kan banyak.

  13. 25 Rahad April 17, 2014 at 2:14 pm

    prasmanan emang lebih asik, lebih bebas menunya, porsinya juga bisa menggunung………
    tapi gue kalo dateng ke acara2 yg prasmanan biasanya ngambil secukupnya aja. dan menurut gue orang yg ngambil banyak2 sampe kelewat batas itu gak mau rugi

  14. 27 Danni Moring April 17, 2014 at 3:54 pm

    sy klo di kondangan hampir ga pernah makan bnyk mas..paling yang kecil2 aja diambil..soalnya dah keburu ngerasa riuh/rame hehe..

  15. 29 Zippy April 17, 2014 at 11:08 pm

    Konsep prasmanan harusnya emang gitu, kita bebas mengambil makanan sesuai kebutuhan.
    Tapi ya saya juga heran kalo ada orang ambil makanan kelewat batas dan ujung2nya malah gak dihabisin. Jadinya kan mubazir.
    Kayak gak pernah makan enak aja😆

  16. 31 Dhicomp April 18, 2014 at 2:57 am

    Ada dua kesimpulan, yang makan lapar mata (serakah) dan yang kedua karena menunya ga sesuai selera.

    Kalau kami makan di prasmanan yang penting lauknya Teman, huahahahahahahaha…..

  17. 33 hendronurkholis April 19, 2014 at 12:38 pm

    Di kampung saya ada namanya “makan bajamba” 3-4 orang makan bersama dg sebuah piring besar, agak kurang bebas, tapi kekeluargaannya lebih terasa

  18. 35 harumhutan April 20, 2014 at 10:15 am

    indonesiana sekali,ambil makan sebanyak banyakknya seperti tak pernah makan dan lupa masih ada orang lain,akibatnya ya gitu ga abis dan mubazir,miris ya..

    piring terbang uda ga ada lagi skrg ditempatku,smua berganti dg ambil sesukanya…

    padahal aku lebih suka yang dikasih 1 piring itu, lucu aja🙂

  19. 37 cumilebay.com April 21, 2014 at 8:58 am

    Eh masih ada yaa acara pake sajian piring terbang gini ??? udah lama banget ngak nemuin di jakarta :-0


  1. 1 Selera | Catatan gado-gado Trackback on November 13, 2014 at 2:09 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,985 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: